Setelah kalimat Mahadewan yang dingin itu menggantung di udara, suasana di tangga seketika berubah. Nisya tidak lagi terlihat seperti seseorang yang barusan mengamuk tanpa kendali. Wajahnya memucat, matanya bergerak gelisah antara Mahadewan dan Arunika, seolah mencoba mencari celah untuk membela diri, namun tidak menemukan satu pun. “S-saya… saya….” Nisya mencoba membuka suara, tetapi suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Mahadewan tidak memberi ruang. Tatapannya tetap tajam, tidak berubah sedikit pun. Nisya akhirnya menelan ludah, menarik tasnya dengan gerakan canggung. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah turun dengan cepat, hampir seperti melarikan diri dari situasi itu. Tangga kembali sunyi. Arunika masih berdiri di tempat, napasnya belum sepenuhnya s

