d**a Alena terasa sesak saat mendengar ucapan yang memojokkan dirinya. Ingin menjauh dia sudah terlanjur mendengar, karena itu Alena hanya diam menantikan cacian dan hinaan apalagi yang akan keluar dari mulut para wanita itu.
"Apa sih yang nggak mungkin buat dia. Ortu Alena itu tajir melintir, jadi mereka bisa mewujudkan keinginan anak manja itu."
"Maksud lo, orang tua cewek manja itu membeli Leonardi?"
Pertanyaan dengan nada terkejut itu tak lama menyambar ucapan sebelumnya, membuat telinga Alena semakin panas rasanya.
"Pake nanya lagi, ya jelas itu sudah pasti. Kemarin gue nggak sengaja denger bokap gua sama om gua lagi ngomong, mereka bilang perusahaan orang tuanya Leonardi lagi goyang dan mereka membutuhkan banyak investasi."
"Jadi kayak pernikahan bisnis begitu maksud lo, kayak drama Korea aja."
"Ya memang hidup dia 'kan penuh dengan drama."
Cukup! Alena tak sanggup lagi mendengarnya. Memang benar kalau dia terkesan membeli Leonardi, tapi apakah para wanita itu harus membahasnya secara terang-terangan pada pesta pertunangannya yang sedang berlangsung.
Tidak bisakah mereka membicarakannya lain kali saat bertemu di cafe ataupun di klub? Mengapa harus saat acara pertunangannya berlangsung. Pikir Alena di dalam hatinya.
Alena mengambil segelas minuman berwarna merah dari nampan seorang waitress pria, dengan langkah pasti dia menuju ke arah kumpulan wanita yang semakin seru membicarakan dirinya. Tawa mengejek pun sesekali keluar dari bibir para wanita itu.
Alena berjalan dengan d**a mengembang kempis, matanya memandang pada satu titik. Setelah menghirup napas dalam, Alena menyiramkan air di dalam gelas itu kepada sekumpulan wanita penggosip itu.
Teriakan pun langsung keluar dan membuat suasana pesta berubah menjadi ricuh. Orang tua Leonardi yang melihat calon menantunya mengamuk, hanya dapat termangu. Tak menyangka jika Alena yang mereka kira anggun, ternyata dapat bersikap barbar seperti ini.
Sementara orang tua Alena, segera menghampiri sang putri untuk bertanya kejadian yang sebenarnya terjadi.
"Mereka membicarakan yang tidak-tidak mengenai pertunanganku dan Leonardi, Mah!"
Alena menunjuk para wanita itu dengan ekspresi marah, sementara para wanita itu hanya menunduk. Mereka tak berani menghadapi ayah Alena yang menampilkan raut wajah sangar, seakan ingin menerkam mereka.
Leonardi yang baru saja memasuki tempat acara hanya terdiam saat melihat keributan itu. Tak lama kemudian, pria itu melangkah menuju tempat sang tunangan.
Pria itu melangkah dengan tenang, matanya tajam mengamati situasi. Para tamu yang tadi sibuk sendiri kini terdiam, suasana pesta menjadi tegang, hanya terdengar suara samar musik yang mengiringi pesta ini.
Alena yang masih berdiri dengan napas memburu, dia menoleh ketika Leonardi mengusap punggungnya.
"Alena."
Leonardi memanggil namanya dengan nada rendah, hampir dingin. Matanya menatap lurus ke arahnya, lalu beralih ke wanita-wanita yang masih menunduk malu.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Leonardi meski dari nadanya sudah tahu apa jawabannya.
Alena mendongak, berusaha menguasai dirinya. Dia menunjuk ke arah para wanita itu lagi.
"Mereka membicarakanku. Menghina hubungan kita, Leon. Mengatakan bahwa aku 'membeli' kamu untuk pertunangan ini. Apa menurutmu aku harus diam saja saat mendengarnya?" tanya Alena dengan raut wajah murka.
Leonardi memandang Alena tanpa ekspresi, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke sekumpulan wanita yang masih terlihat gugup.
Dengan senyum tipis namun mengancam, Leonardi bertanya, "Siapa yang memulai keributan ini?"
Sementara ayah Alena yang sejak tadi diam, kini mengamati apa yang akan dilakukan oleh calon menantunya itu. Sekaligus menilai kecepatan pria itu dalam memecahkan masalah.
Tak ada yang berani menjawab. Mereka saling pandang, berharap ada yang cukup berani mengaku. Namun, keheningan itu hanya membuat suasana semakin mencekam.
"Jadi, kalian pikir kalian bisa datang ke pesta ini dan menghina tunanganku?"
Meski Leonardi tidak memiliki perasaan kepada Alena, pria itu tak dapat membiarkan siapapun untuk menghina tunangannya. Sama saja itu mencoreng wajahnya.
Leonardi melipat tangan di d**a, suaranya terdengar santai tapi mengandung ancaman. Membuat sekumpulan wanita itu merasa bagaikan di neraka.
"Kalau begitu, aku harus bertanya ... kenapa kalian masih di sini? Kalian tidak diundang untuk mempermalukan tuan rumah."
Beberapa wanita itu terlihat ingin membantah, tapi tatapan dingin Leonardi menghentikan mereka. Akhirnya, salah satu dari mereka berkata dengan suara bergetar.
"Kami hanya bercanda, Leonardi. Tidak ada maksud buruk."
"Bercanda?" Leonardi mendekat, membuat mereka mundur selangkah. "Candaan seperti itu tidak lucu. Apalagi di depan Alena, yang lebih pantas menjadi tunanganku dibanding kalian semua."
Mata Leonardi kembali menatap Alena. Dia memandangnya sejenak, lalu mengulurkan tangan ke arah pelayan yang kebetulan lewat, mengambil segelas sampanye.
"Dengar, Alena," katanya sambil menyerahkan gelas itu ke tangan Alena.
"Kamu tidak perlu repot-repot menghadapi mereka. Orang-orang seperti mereka tidak sepadan dengan kecantikanmu."
Leonardi kemudian menoleh pada para wanita itu sekali lagi. "Sekarang, kalian tahu pintu keluarnya, 'kan? Aku tidak akan mengulangi ucapanku dua kali."
Dengan wajah memerah, para wanita itu akhirnya pergi, meninggalkan pesta di bawah tatapan tajam Leonardi dan bisikan tamu lainnya.
Leonardi berbalik ke arah Alena yang masih memegang gelas sampanye itu dengan tangan gemetar. Dia menghela napas dan berkata pelan.
"Lain kali biar aku yang mengurus hal seperti ini. Aku tahu kamu kesal, tapi kamu tidak perlu membuat dirimu terlihat buruk di depan semua orang untuk orang-orang tak penting seperti mereka."
Alena menatapnya, mencoba membaca maksud di balik kata-katanya.
"Aku tidak tahan saat mereka menghinaku, Leon," bisiknya pelan. "Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku tidak lemah."
Leonardi tersenyum kecil, meski senyumnya dingin. "Kamu tidak lemah, Alena. Sekarang kita harus kembali ke pesta dan tunjukkan kepada semua orang bahwa kamu pantas menjadi tunanganku."
Leonardi mengulurkan tangan untuk menggandeng tangan Alena. Bahkan pria itu mengulas senyuman yang menurut pandangan Alena sangat memukau sekaligus berbahaya.
Dengan enggan, Alena menerima uluran tangan Leonardi, mencoba menenangkan dirinya. Namun jauh di dalam hati, Alena tahu bahwa cara Leonardi mengendalikan situasi ini seakan menunjukkan sesuatu yang lain.
Leonardi adalah pria manipulatif yang dapat membuat semua orang percaya jika dia mencintai dan memuja Alena dengan segenap jiwa raga. Meski kenyataannya sangat berbeda.
Leonardi menarik Alena kembali ke pesta, langkahnya tenang namun penuh d******i. Setiap gerakan tubuhnya memancarkan aura kepercayaan diri yang mematikan, seolah dia menguasai segala hal di sekelilingnya. Alena berusaha mengikuti langkahnya, meski hatinya terasa terhimpit.
"Leon, aku ...."
Alena mulai berbicara, namun suaranya terhenti ketika mereka tiba di panggung, di mana semua mata langsung tertuju pada keduanya. Alena merasakan tekanan itu, seolah setiap pasang mata yang memandangnya sedang menilai, menghakimi. Tapi Leonardi tetap melangkah dengan percaya diri, tak menunjukkan keraguan sedikit pun.
"Kita hanya perlu membuat mereka percaya, Alena," bisik Leonardi pelan, hampir seperti perintah.
"Dan mereka tidak akan pernah lagi menganggapmu tak pantas untuk menjadi tunanganku.
Alena hanya bisa mengangguk, meski hatinya masih bergejolak. Dia tahu, dia hanyalah bagian dari rencana Leonardi, sebuah pion dalam permainan besar yang sepenuhnya tak dia pahami.
Mereka berdua akhirnya menutupi panggung, berbaur dengan para tamu yang sibuk berbincang. Leonardi berbicara dengan beberapa rekan bisnisnya, menunjukkan sisi karismatiknya yang tak terbantahkan.
Sementara Alena, hanya bisa tersenyum kecil. Dia berusaha tampak tenang, meskipun di dalam dirinya ada keraguan yang semakin menggelisahkan.
'Apakah keputusanku bertunangan dengan pria ini sudah tepat?' tanya Alena di dalam hatinya.