Bab 8. Deep Talk

1087 Words
Waktu makan siang pun tiba, Amelia segera bergegas pulang karena Rina sudah menghubunginya sejak jam 11. Saat akan meninggalkan gedung perkantoran, Amelia bertemu dengan Raka yang bersiap untuk makan siang. "Raka, aku pulang dulu, ya. Sampai ketemu nanti malam," ucap Amelia sembari melambaikan tangannya. "Iya. Hati-hati bawa motornya, jangan ngebut-ngebut," balas Raka sebelum Amelia berlalu dari pandangan matanya. "Jadi kamu benar-benar mencintainya? Bukan hanya sekadar cinta semusim yang hilang saat musim lainnya berganti?" tanya sang teman saat melihat tatapan mata Raka yang penuh cinta untuk Amelia. "Untuk saat ini, iya. Aku mencintainya hanya saja ...." Raka menghentikan kalimatnya, dia membuang napas panjang dan menatap tempat yang tadi dipijak oleh Amelia dengan pandangan menerawang. "Raka!" Pria itu terkejut saat suara sang teman menggema di telinganya, secara reflek Raka mengusapnya. Pandangan sebal Raka layangkan kepada sang teman yang hanya mengulas senyuman tak berdosa. "Sorry, habisnya lo bengong aja. Gua kirain lo kesambet jin iprit," elak sang teman yang kini melangkah keluar gedung kantor, disusul oleh Raka. Sementara itu Amelia mengemudikan motornya dengan kecepatan yang tak terbilang pelan, dia melakukannya untuk menghilangkan rasa gundahnya. Pernyataan cinta yang mendadak dari Raka, mau tak mau membuatnya resah. Ditambah malam ini, Amelia harus menyaksikan jika pria yang dicintainya selama 10 tahun terakhir akan bertunangan dengan wanita lain. Akan seperti apa hubungannya dan Leonardi setelah malam ini, dia juga tak tahu. Yang pasti Amelia harus menerima kenyataan jika dia tak akan dapat bersatu dengan Leonardi. Karena mengemudi dengan berbagai pikiran, membuat Amelia tidak sadar jika dia sudah berada di rumah. Rina segera menariknya untuk mandi karena mereka harus ke salon sebentar lagi. Leonardi, sang bintang utama tentu saja sudah berada di hotel tempat acara pertunangan berlangsung, dengan didampingi oleh Reza. Akhirnya tepat jam 16.30, sepasang ibu dan anak itu sudah tiba di hotel dan memasuki kamar yang sudah disewa Reza sebelumnya. Amelia memindai keadaan kamar, tapi tak menemukan Leonardi. Dahinya secara otomatis mengerut, Rina yang melihatnya segera berkata kepada sang putri. "Leo dan Alena berada di kamar sebelah, kami sengaja membiarkan mereka berdua supaya mereka dapat mengenal lebih akrab." Amelia hanya dapat mengulas senyuman kecut setelahnya, hatinya semakin merasa tak rela melihat Leonardi yang akan berdampingan dengan Alena. Wanita yang menurutnya, terkesan angkuh itu. Di saat itu nama Raka tiba-tiba terlintas di dalam benaknya, Amelia segera berkata kepada Rina jika pria itu akan datang pada pesta pertunangan Leonardi malam ini. Sang ibu tentu saja merasa senang karena Amelia sudah mulai menjalin hubungan yang serius dengan lawan jenis. Sedangkan Reza hanya menatap Amelia dalam diam yang membuat gadis itu merasa gemetar. Sang ayah pasti masih mengingat perdebatan mereka berdua pada pagi hari tadi, tapi Reza menahan agar tidak berbicara dengan keras kepada Amelia yang akan mengacaukan acara malam hari ini. "Mama aku haus sekali. Apa minuman ini bisa kuminum?" tanya Amelia yang mencoba mengalihkan perhatiannya. Rina segera mengambil salah satu botol air mineral dan mengulurkannya ke tangan Amelia. Gadis itu segera menghabiskannya dalam beberapa kali tegukan, membuat Rina hanya menggelengkan kepala saat melihatnya. "Padahal yang bertunangan itu Kakakmu, tapi kenapa malah kamu yang tegang?" tanya Rina sembari membetulkan riasan Amelia. Amelia yang bingung tentu saja tak dapat menjawabnya, dia memilih untuk pergi ke kamar mandi dengan alasan panggilan alam. Sementara itu di kamar hotel yang berbeda Leonardi dan Alena hanya saling berdiam diri. Kamar hotel itu terlihat elegan, dengan dekorasi yang mewah namun terkesan dingin. Lampu-lampu yang lembut memantulkan cahaya pada dinding berwarna krem, sementara di luar, suara hiruk-pikuk pesta pertunangan yang sebentar lagi akan dimulai terdengar samar. Leonardi berdiri di dekat jendela, menatap kosong ke luar. Wajahnya datar, ekspresi yang tak bisa dibaca. Di depannya, Alena berdiri, mengenakan gaun berwarna putih yang begitu anggun, namun mata Alena terlihat sedikit cemas, seakan menunggu sesuatu yang tak terucapkan. Alena tahu bahwa hari ini adalah hari yang cukup penting dalam hidupnya, namun hatinya tetap terasa kosong. Di balik senyum yang dia tunjukkan kepada semua orang, ada rasa takut yang selalu menghantui—takut bahwa cinta yang ia harapkan tidak akan pernah datang. Alena mendekat, mencoba untuk melihat reaksi di wajah Leonardi, yang terus terfokus pada pemandangan malam di luar jendela. Alena terdiam sejenak, kemudian berkata pelan. "Leonardi ... aku tahu kalau kamu tak pernah mencintaiku, tapi aku ... aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu." Leonardi mengalihkan pandangannya, namun matanya tetap tanpa ekspresi. Dia tak berkata apa-apa sejenak, lalu akhirnya membuka suara dengan nada datar. Seolah percakapan ini bukanlah hal yang terlalu berarti baginya. "Aku tahu itu, Alena." Alena terdiam sejenak, tak tahu harus berkata apa. Hatinya serasa terhimpit, namun ia memaksa untuk tetap tenang. Alena berusaha tersenyum. "Apakah kamu ... setidaknya, bahagia jika bertunangan denganku?" tanya Alena dengan lirih. Leonardi menarik napas panjang, memandang Alena dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti. Sesaat, seolah dia ingin mengatakan sesuatu, namun mulutnya kembali tertutup rapat. "Bahagia, mungkin. Tapi bukan karena alasan yang kamu inginkan." Alena merasa sebuah pisau tajam menembus hatinya. Suara detak jantungnya berdengung di telinga, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahan di hadapan Leonardi. "Kau tak perlu berpura-pura bahagia, Leo. Kita berdua sama-sama tahu jika pertunangan ini terjadi karena Papaku telah menginvestasikan uang sebesar 20 miliar untuk salah satu perusahaan Papa kamu," ucap Alena dengan tersenyum pahit. Leonardi menatapnya beberapa detik dan akhirnya melangkah menuju Alena. Dia berdiri tepat di depan Alena, namun jaraknya masih terasa jauh. "Maafkan aku jika aku tak bisa memberimu apa yang kau harapkan," ucap Leonardi dengan datar. Alena mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di matanya, tapi ia menahan diri. "Aku tidak mengharapkan banyak, Leo. Aku hanya ... menginginkan sedikit perhatian darimu." Leonardi terdiam sejenak, menatap Alena dalam-dalam. Dalam keheningan itu, ada perasaan yang tak terungkapkan. Namun mereka berdua tahu, jika cinta yang satu arah ini tidak akan pernah berubah. "Jangan menangisi pria jahat sepertiku, Alena. Maaf aku tidak bisa memberimu cinta yang kamu inginkan. Apa kamu mau membatalkan pertunangan ini sebelum terlambat?" tanya Leonardi dengan nada datar. Alena menghela napas panjang dan meskipun hatinya terasa hancur, ia tersenyum, seolah menerima kenyataan itu dengan lapang d**a. "Aku akan mengambil resiko ini, Leo. Aku akan melanjutkan pertunangan ini dengan harapan suatu saat kamu akan mencintaiku," ucap Alena dengan tegas. "Maka kamu sudah tahu apa konsekuensinya," sahut Leonardi. Leonardi memalingkan wajah, merasa tidak bisa melanjutkan percakapan ini lebih lama. Alena berdiri sejenak, lalu akhirnya melangkah mundur, pergi ke pintu. Pesta pertunangannya sebentar lagi akan dimulai dan dirinya akan melangkah ke depan, meski hatinya hancur perlahan. "Apakah jatuh cinta sungguh sangat menyakitkan seperti ini?" gumam Alena dengan lirih. Setelahnya Alena memasuki ballroom hotel di mana kedua orang tuanya sudah menanti dengan senyuman bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD