“Oi, kau baik-baik saja?” tanya Takumi pada Itsuki yang berjalan dengan ceria di sampingnya. Mereka tidak berlama-lama di kedai minum karena Takumi tidak mau berjalan pulang sambil menggendong Itsuki. Baru setengah jam di kedai itu Itsuki sudah harus berpegangan pada meja supaya tidak jatuh dari kursi. Anak itu benar-benar tidak kuat minum.
Itsuki tersenyum lebar—terlalu lebar—dan mengangguk berkali-kali. “Ah, tentu saja. Tentu saja. Aku sangat baik. Memangnya kenapa?”
Takumi memandangi Itsuki, lalu mendesah, “Kakakmu pasti akan menggantungku kalau melihatmu mabuk begitu.”
Itsuki tertawa. “Takumi Oniisan, aku tidak mabuk. Lihat, aku masih bisa berjalan lurus. Lihat? Lihat?” Ia merentangkan kedua tangan ke samping dan berjalan lurus dengan langkah lebar di jalanan yang sepi itu untuk membuktikan kata-katanya.
“Ya, ya, ya. Tapi hati-hati dengan tiang lampu di depanmu,” kata Takumi.
Itsuki berhenti tepat pada waktunya sebelum hidungnya yang mancung menabrak tiang lampu. Ia menoleh ke arah Takumi dan tertawa.
“Aku melihatnya kok.”
Takumi hanya menggeleng-geleng pasrah. Ia kembali berjalan dan Itsuki menyusulnya dari belakang.
“Paman ini apa-apaan?
Takumi dan Itsuki serentak menoleh ke arah suara wanita bernada tinggi itu. Tidak jauh di depan mereka terlihat seorang wanita dan seorang pria sedang bertengkar. Si pria berusaha menarik tangan si wanita sementara si wanita memberontak.
Sedetik kemudian Itsuki berseru, “Oneechan!” dan langsung berlari ke arah kedua orang itu sebelum Takumi sempat mencegahnya.
Oneechan? Takumi segera menyadari kalau wanita yang sedang ditarik-tarik itu adalah Okada Hikari. Hikari terlihat sedang berusaha membebaskan diri dari cengkeraman si pria tak dikenal.
Dalam sekejap Itsuki sudah tiba di samping mereka dan berseru, “Lepaskan tanganmu!”
Segalanya terjadi begitu cepat di depan mata Takumi. Bersamaan dengan teriakan itu, Itsuki juga melayangkan tinjunya ke rahang pria yang menarik-narik kakaknya. Namun pria itu tidak tersungkur seperti yang diharapkan Itsuki. Pria itu masih tetap berdiri, malah ia menggeram dan balas melayangkan tinju. Itsuki pun terjatuh ke tanah diikuti pekikan kakaknya.
“Jangan ikut campur, anak ingusan!” seru pria itu serak.
“Astaga,” gumam Takumi, dan langsung berlari ke arah mereka. Ia berhasil mencapai ketiga orang itu tepat ketika si pria tak dikenal bermaksud menendang Itsuki yang masih terkapar di tanah. Takumi langsung menahan d**a pria itu dan mendorongnya ke belakang.
“Siapa lagi kau?” seru pria itu marah. “Cari mati ya?”
Takumi menoleh ke arah Hikari yang berlutut di samping adiknya.
“Hikari-san, kau tidak apa-apa?”
“Takumi-san,” bisik Hikari dengan mata terbelalak, lalu melanjutkan dengan cepat, “Ya, aku baik-baik saja. Orang gila ini bersikap kurang ajar terhadapku dan dia tadi meninju Itsuki.”
“Sebaiknya kau minggir. Urusi urusanmu sendiri,” ancam pria itu dengan rahang terkatup. Ia menatap Takumi dengan mata disipitkan.
Kini Takumi bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Usianya mungkin sekitar pertengahan sampai akhir tiga puluhan dan bertubuh agak kurus. Takumi memerhatikan penampilan pria itu: pakaiannya bagus, sepatunya bagus, ada beberapa cincin emas melingkari jari-jari tangannya. Mata Takumi terangkat ke wajah pria itu. Wajahnya agak seram karena penuh kerutan marah. Alis matanya lebat—berlawanan dengan rambutnya yang terlihat tipis di puncak kepalanya, membuatnya terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya—dan matanya kecil, hidungnya agak bengkok, bibirnya tipis dan berkerut.
Dia mabuk, pikir Takumi ketika melihat pria itu melangkah agak terhuyung-huyung mendekatinya.
“Tapi ini teman-temanku, jadi ini juga urusanku,” kata Takumi tenang. Ia menatap lurus ke dalam mata pria itu.
“Hah. Pria itu mendengus keras. Ia menunjuk Itsuki yang masih mengerang pelan di tanah. “Dia menyerangku, aku hanya membalasnya.”
Ia beralih menunjuk hidung Hikari. “Dan tentang perempuan jalang ini, dia yang menggodaku lebih dulu.”
“Hei, Paman mimpi ya?” sela Hikari galak dengan dagu terangkat tinggi. “Seharusnya Paman bercermin dulu. Mana mungkin aku menggodamu?”
Pria itu mengangkat tangan kanannya. “Dasar perempuan ...”
Takumi bergerak ingin menghalanginya, tetapi telapak tangan pria itu malah mendarat di pipinya.
“Takumi-san!” pekik Hikari.
Takumi memegangi pipinya dan mengernyit. Ia bisa merasakan darah di lidahnya. Sialan, pukulan orang itu kuat juga. Untung giginya tidak patah. Takumi menegakkan tubuh dan menatap pria di depannya.
Pria itu mengangkat hidungnya tinggi-tinggi dan menantang. “Apa? Mau lagi? Mau lagi? Ayo ke sini kalau mau.”
Orang itu mabuk, kesal, dan tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak mungkin bisa diajak bicara baik-baik. Takumi mendesah. Kalau begitu hanya ada satu cara.
***
Aiko menonton televisi di ruang duduk apartemennya tanpa minat. Ia baru saja pulang dari makan malam bersama Akira. Acara mereka memang terputus karena Akira mendapat panggilan dari rumah sakit, tapi Aiko tetap merasa kebersamaan mereka yang singkat itu sangat menyenangkan. Ia ingin mencari teman berbagi cerita. Masalahnya apartemen Hikari kosong. Bahkan Takumi juga tidak ada di rumah. Biasanya jam-jam segini Hikari sudah ada di apartemennya, menyiapkan makan malam untuk adiknya. Ke mana mereka semua?
Kemudian Aiko mendengar suara-suara di luar. Ia segera mematikan televisi dan bangkit dari lantai. Mungkin itu Hikari sudah pulang. Atau mungkin Takumi? Aiko membuka pintu dan melongokkan kepala ke luar.
“Kau mau masuk, Takumi-san?” Aiko mendengar suara Hikari di lantai bawah.
“Tidak perlu. Aku naik saja.” Kali ini suara Takumi.
“Tapi itu ...”
“Ah, ini? Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan,” sela Takumi, lalu tertawa kecil. “Kelihatannya justru Itsuki yang harus diurus.”
“Aku tidak apa-apa,” Itsuki membantah.
“Apanya yang tidak apa-apa?” potong Hikari. “Lihat pipimu memar begitu. Tapi Takumi-san, kau juga berdarah.”
Berdarah? Mendengar itu Aiko langsung keluar dari apartemennya dan bergegas menuruni tangga ke lantai bawah.
“Oh, Aiko,” kata Hikari yang melihat Aiko lebih dulu, lalu yang lain ikut menoleh.
“Ada apa, Oneesan?” tanya Aiko sambil memandang mereka bertiga bergantian, lalu terkesiap pelan ketika melihat wajah Itsuki dan Takumi. “Kalian berdua kenapa?”
“Tadi ada orang sinting yang menggangguku di jalan,” Hikari yang menjawab dengan nada berapi-api. “Seenaknya saja dia menarik-narik aku seolah-olah aku ini w**************n. Untung saja mereka berdua muncul.” Ia menunjuk Takumi dan adiknya. “Itsuki langsung meninju orang itu setelah berteriak, ‘Jangan sakiti kakakku!’ ...”
“Aku tidak bilang begitu,” protes Itsuki salah tingkah. “Aku hanya bilang, ‘Lepaskan tanganmu.’”
“Tapi aku tahu maksud hatimu yang sebenarnya,” balas Hikari sambil mengacak-acak rambut adiknya. Lalu ia kembali menatap Aiko.
“Tapi orang itu balas memukul Itsuki dan Itsuki langsung terkapar. Saat itulah Takumi-san beraksi.”
Aiko berpaling ke arah Takumi. Sudut bibir laki—laki itu terluka. “Kau juga dipukul?” tanya Aiko khawatir.
“Cuma sekali,” sela Hikari bahkan sebelum Takumi sempat membuka mulut. “Lalu Takumi-san membuat orang itu lari terbirit-birit.”
Aiko menatap Takumi Iagi. “Bagaimana bisa?”
Masih Hikari yang menjawab, “Sabuk hitam karate.”
Alis Aiko terangkat. Takumi menatapnya dan tersenyum lebar, lalu ia menggeleng. “Tidak juga. Hanya sedikit-sedikit.”
“Tapi orang itu sempat mengancam Takumi Oniisan sebelum dia pergi,” kata Itsuki.
“Sebaiknya kau cepat masuk dan kompres pipimu,” sela Takumi.
“Benar. Ayo, masuk,” kata Hikari sambil mendorong adiknya masuk ke apartemen mereka.
Aiko membuka mulut. “Tapi ...”
“Kau mau naik atau tidak?” panggil Takumi yang sudah mulai menaiki tangga.
Aiko menatap Takumi, lalu ke arah Hikari dan Itsuki, lalu kembali ke Takumi. Akhirnya ia menyerah dan mengikuti Takumi ke atas.
***
Takumi menyentuh pipinya dan meringis pelan. Pipinya pasti bengkak besok. ‘Ck, malam ini benar-benar kacau.’
Ketika ia berhenti di depan pintu apartemennya dan mengeluarkan kunci ia mendengar Aiko bertanya dengan nada khawatir, “Apa maksud Itsuki tadi?”
“Apanya?” Takumi balik bertanya. Ia masuk ke apartemennya dan Aiko mengikutinya dari belakang.
“Katanya orang itu mengancammu.” Aiko melepas sepatunya dan mengenakan sandal Hello Kitty-nya sebelum memasuki apartemen Takumi.
“Hanya gertakan kosong,” gumam Takumi sambil melepas syal, jaket, dan topinya. Ia berbalik menghadap Aiko. “Tidak usah dipikirkan.” Ia melihat Aiko menatapnya dengan kening berkerut. “Kenapa?” tanya Takumi. “Ada sesuatu di wajahku?”
“Sudut bibirmu mulai membiru,” gumam Aiko muram. “Biar kuambilkan obat.”
Ketika gadis itu hendak berjalan ke pintu, Takumi meraih pergelangan tangannya. “Tidak perlu repot-repot,” katanya lelah. “Aku juga punya obat. Kepalaku sakit kalau kau mondar-mandir. Duduk saja yang manis.”
Aiko menurut. Ia duduk di samping Takumi di sofa dan menatap wajahnya untuk mencari luka lain. “Kau terluka di mana lagi?” tanyanya. “Kepala? Kau bilang kepalamu sakit.”
“Kepalaku tidak terluka. Hanya pusing sedikit.”
“Tangan?”
“Tidak.”
“Kaki?”
“Tidak.”
“Badanmu?
Takumi tertawa pendek. “Aiko-chan, aku baik-baik saja.” Melihat kening Aiko yang berkerut tidak percaya, ia melanjutkan, “Sungguh! Atau kau mau aku membuka baju untuk meyakinkanmu?”
Aiko mendengus, lalu bertanya, “Kau sudah makan?”
Takumi tidak langsung menjawab. Ia menatap Aiko sejenak, lalu memalingkan wajah dan mendesah. “Tadinya aku mau mengajakmu makan.”
“Ah, aku pergi makan dengan Sensei,” kata Aiko langsung tanpa ditanya. Senyumnya mengembang.
“Sensei?”
Aiko menegakkan punggung dan menatap Takumi dengan mata berbinar-binar. “Aku sudah pernah bercerita padamu tentang dia, bukan? Cinta pertamaku? Namanya Kitano Akira.”
Mendengar nama itu Takumi mendesah pelan. Ia mengangguk-angguk pelan dengan pandangan kosong dan bergumam tidak jelas.
“Dulu, sewaktu aku pertama akali bertemu dengannya tiga belas tahun yang lalu, aku sama sekali tidak tahu dia orang yang seperti apa,”
Aiko melanjutkan sambil melamun. “Hm”
“Tapi sekarang aku tahu dia orang yang menyenangkan.”
“Hm”
“Juga pintar.”
“Aku haus,” sela Takumi tiba-tiba.
Aiko terdiam sejenak, Ialu berkata, “Biar kuambilkan air.”
Sebelum gadis itu sempat bangkit dari sofa, Takumi sudah mendahuluinya dan berjalan ke dapur. Ia kesal. Bagaimana gadis itu bisa membicarakan Kitano Akira di depannya seperti itu? Tapi, tentu saja, Aiko sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan Takumi.
Merasa agak bersalah karena telah memotong cerita Aiko, Takumi menoleh ke arahnya dan bergumam, “Bisa kulihat kau sangat gembira. Aku juga ikut senang.”
Aiko tersenyum. “Ya, memang.”
Takumi mengisi gelas dengan air keran dan langsung meneguknya sampai habis.
“Sebentar lagi Natal,” kata Aiko tiba-tiba.
Takumi menoleh ke arah Aiko. Karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya, ia hanya menunggu gadis itu melanjutkan. “Sensei mengajakku menonton pertunjukan balet pada malam Natal nanti,” kata Aiko sambil menatap Takumi. “Swan Lake.”
Takumi mengerang dalam hati. Tidak, jangan lagi. Takumi mengerutkan kening. “Swan Lake?” ulangnya sambil meletakkan gelas ke meja.
Aiko mengangguk dan Takumi menyumpah dalam hati. “Kau ada rencana apa untuk malam Natal nanti, Takumi-san?” tanya Aiko.
Untuk apa mengatakan pada Aiko bahwa ia juga punya tiket pertunjukan balet yang sangat ingin ditonton gadis itu? Akhirnya Takumi hanya berkata singkat, “Pergi jalan-jalan.”
Alis Aiko terangkat heran. “Ke mana?”
Takumi memaksakan seulas senyum. “Aku belum tahu,” katanya sambil mengangkat bahu. “Kuharap kau bersenang-senang nanti.”
Aiko hanya menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.
Takumi menghela napas dalma-dalam dan menunduk. “Aku capek,” katanya. “Sepertinya aku ingin tidur sekarang.”
“Kalau begitu, istirahatlah,” kata Aiko sambil berdiri dari sofa. Ia tersenyum lebar dan mengangkat sebelah tangannya. “Sampai jumpa besok.”
Takumi melihat gadis itu keluar dari apartemennya dan menutup pintu. Sekali lagi ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia sudah terlambat. Terlambat. Seharusnya ia tidak menunggu selama ini untuk mengajak gadis itu keluar. Tetapi waktu itu ia berpikir sebaiknya ia mendapatkan tiket pertunjukan itu terlebih dahulu sebelum mengatakannya pada Aiko.
Sekarang ia harus menerima hasil dari keputusannya yang bodoh. Gadis itu akan pergi dengan Kitano Akira. Kenyataan bahwa Akira adalah teman baiknya malah membuat Takumi semakin kesal. Sepertinya sejarah terulang kembali.
Ia tertarik pada gadis yang justru tertarik pada teman baiknya.