Tepuk tangan masih terdengar, tetapi tidak sehangat tadi. Nada riuhnya berubah jadi canggung ketika Respati berdiri dengan tenang di hadapan Eric. “Saya juga punya hadiah untukmu, Eric.” Nada bicaranya datar. Tidak tinggi, tidak rendah. Namun, cukup membuat orang-orang yang mendengarnya jadi diam. Eric menatapnya tanpa berkedip. Rahangnya mengeras. “Hadiah apa, Tuan?” Ia bertanya singkat. Respati menyelipkan satu tangan ke saku celana. Senyumnya tipis. “Mulai besok, kamu resmi jadi manajer di kantor.” Beberapa tamu langsung berbisik. Ada yang tampak terkejut, ada juga yang mengangguk paham. Aira menoleh cepat ke arah Eric. Matanya membesar. “Mas … serius?” Eric tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap Respati, seolah mencoba membaca maksud di balik ucapan itu. “Pengangkatannya

