Bab 4

1015 Words
Galasena dan juga Velicia tiba di sebuah gudang tua. Meskipun Galasena tak ingin Velicia tahu apa yang dia lakukan tapi wanita itu terus memaksa dan akhirnya tibalah mereka berdua di gudang itu. "Kamu yakin mau ikut aku ke dalam?" Velicia mengangguk semangat. Dia akan membuat perhitungan dengan siapa orang yang sudah menjebak Galasena sampai Velicia harus menikah dengan laki-laki itu. "Kalau begitu, ayo masuk. Jika di dalam kamu ketakutan, kamu bisa langsung keluar. Tunggu di mobil." Velicia tak menjawab. Dia memilih melangkah di belakang Galasena sambil menatap ke sekelilingnya. "Kalau dugaan ku benar, si Galasena ini pasti punya musuh dalam selimut. Karena nggak mungkin orang jauh yang bisa tahu semua aktivitas nya." Batin Velicia. Mereka tiba di ambang pintu lalu terdengar teriakan yang sangat keras dari dalam. "Belum juga mengaku dia?" Semua anak buah Galasena menoleh lalu memberi hormat pada Galasena. Mereka juga tahu jika di belakang Galasena ada Velicia, istri Galasena. Anak buah Galasena masih menatap orang yang sudah babak belur itu dengan geram. Meskipun sudah di siksa sampai babak belur, laki-laki itu masih tak mengakui siapa yang sudah membayarnya. Velicia berjalan mendekati laki-laki itu yang malah menatapnya dingin. "Velicia, apa yang kamu lakukan?" Galasena ingin menarik tangan Velicia tapi Velicia meminta Galasena untuk tetap tenang. "Jadi kamu yang jebak Galasena sampai dia nikahin aku. Wah, terima kasih sekali karena aku jadi beruntung. Dapat suami loyal, ganteng, dan memuaskan di atas ranjang." Kata-kata Velicia yang blak-blakan membuat semua orang melongo. Berbeda dengan Galasena yang wajahnya terlihat memerah. "Apa katamu? Kamu senang? Dasar perempuan murahan." Velicia tersenyum lebar. "Jangan bilang aku murahan dong, aku cewek langka nih, jaman sekarang ketemu yang masih ori dan juga segel kayak aku, Galasena harusnya bangga dong? Iya kan, sayang?" Velicia berbalik menatap Galasena yang semakin salah tingkah dan malu karena semua kalimat yang keluar dari mulut istrinya. "Jadi karena aku dan Galasena bahagia, gimana kalau kami kirim hadiah untuk keluargamu, untuk istri dan anakmu, mungkin." Wajah laki-laki itu berubah pias dan takut karena mendadak Velicia menyebut istri dan anaknya. "Jangan berani menemui mereka!" teriak laki-laki itu. Velicia langsung tersenyum semakin lebar. Lalu dia berbalik dan meraih lengan Galasena. Dia memeluk lengan itu dan bersandar pada bahu Galasena. Galasena yang mendapatkan perlakuan seperti itu mendadak berubah kaku seperti patung. Hal itu membuat Reval yang ada belakang nya sampai tak bisa berkata-kata. "Lihat, dia udah kasih kamu jodoh loh, harusnya kamu kasih dia hadiah nggak sih? Ketemu anak dan istrinya?" Velicia terdengar bicara santai, tapi laki-laki yang ada di depannya itu tahu jika Velicia sedang memancing sesuatu. "Jangan lancang kamu!" "Jangan membentak istriku, karena istriku benar. Harusnya aku langsung kasih hadiah sama keluar mu. Jadi kita impas bukan? Aku dapat istri yang cantik dan kalian dapat hadiah juga bonus dari ku!" Laki-laki itu panik, dia langsung memohon ampunan pada Galasena. Dia mengatakan semuanya pada Galasena tentang siapa yang menjebaknya. Sedangkan Velicia masih tak menyangka jika keluarga Galasena sendiri yang ingin menjebak Galasena. "Gal....." Velicia masih melihat rahang Galasena yang mengeras juga kedua tangan Galasena yang mengepal dengan kuat. "Jadi orang tuanya sendiri yang ingin menghancurkan nya? Gila sekali, aku harus segera ketemu Daddy. Aku harus cari tahu siapa Galasena ini dan semua yang ada di sekitarnya. Kalau salah langkah aku juga bisa celaka!" batin Velicia. Galasena masih diam lalu dia menghembuskan napas panjang setelah mengetahui semuanya. "Ayo pulang." Velicia mengerjap, lalu dia memilih mengangguk sebagai jawaban. Reval yang melihat itu awalnya bingung tapi ketika Velicia melewatinya, matanya membola. "Bisa habisi dia nggak?" Bisikan suara Velicia membuat Revaldi meneguk ludahnya kasar. Lalu dia menoleh melihat di mana Velicia dan Galasena sudah keluar dari dalam gudang tua itu. "Barusan tadi serius? Istri Tuan Muda menyuruhku menghabisinya?" gumam Reval. Reval sampai menepuk pipinya untuk memastikan dia tidak bermimpi. Plak.... "Aduh, sakit ternyata." Semua anak buah Galasena menatap aneh pada Reval. "Bos ngapain? Ada nyamuk ya?" Reval melototkan matanya ke semua anak buahnya. "Diam dan segera lakukan apa yang nyonya bos katakan!" Anak buah Galasena segera melakukan apa yang Reval katakan. Mereka menyeret orang itu pergi menjauh dari sana. Galasena hanya diam di dalam mobil, selama ini dia ingin menyangkal jika orang tuanya tak akan melakukan itu kepadanya tapi ternyata memang masih ingin membuatnya hancur sekali lagi. Velicia melihat wajah Galasena yang tak bisa di tebak sama sekali. "Ayo pulang, aku akan masak yang enak buat kamu." Galasena masih tak merespon. Dan itu membuat Velicia mengerucutkan bibirnya. "Gimana bikin dia galak lagi ya?" batin Velicia. Lalu matanya berbinar ketika mendapatkan ide untuk membuat Galasena melupakan semuanya. Cup.... Mata Galasena membola ketika Velicia mencium pipinya. "Apa yang kamu lakukan?" "Sudah jelas aku menciummu, lalu apalagi." sahut Velicia kesal. Pipinya menggelembung dan membuat wajah Velicia menjadi lebih imut. Galasena yang melihat itu langsung tersenyum lembut, dia kemudian meraih tengkuk Velicia dan membalas ciuman Velicia lebih panas dari pada sebelumnya. Ciuman mereka berlangsung beberapa menit sampai tangan Velicia memukul tubuh Galasena pelan. "Ini baru yang namanya ciuman, Sayang." Galasena mengusap bibir Velicia yang bengkak karena ulahnya. "CK, kenapa kamu malah menyebalkan sekali?" Galasena tergelak, dia sampai tertawa renyah saat ini. Velicia mengerjap, terpesona karena baru ini melihat Galasena tertawa. "Kamu lebih ganteng kalau tertawa. Tapi kalau kamu cemberut wajahmu seperti Koala." Galasena mengusap puncak kepala Velicia. "Mau masakin apa? Kita belanja dulu." Velicia terlihat berpikir ingin masak apa untuk Galasena. "Baiklah, lebih baik belanja terlebih dahulu." Tak lama Reval kembali ke dalam mobil setelah semuanya selesai. Dia tak mengatakan apa-apa karena Velicia memberi kode untuknya agar tetap diam. "Pergi belanja." "Baik!" Mereka akhirnya meninggalkan gudang tua itu menuju pusat belanja. Reval takjub ketika Velicia bisa mengendalikan Tuannya. Selama ini, Tuannya tak pernah menurut dengan siapapun. Terlebih ketika Baskara membawa pulang wanita selingkuhannya dan juga anaknya yang usianya tak jauh dari Galasena. Semuanya menjadi berbeda dan Galasena lebih memilih untuk tinggal di luar. Membangun kerajaan bisnisnya sendiri sampai sejauh ini. Namun, kejadian malam itu membuat Galasena lebih terbuka matanya jika orang tuanya masih tak akan berhenti. # "Ibu, lagi-lagi dia bisa lolos. Sialan!" Rana masih diam menikmati anggur merah yang sejak tadi dia bawa. "Tenanglah Marvin, masih banyak waktu." "Dia tak akan bisa lolos semudah itu!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD