Bab 2

1014 Words
"Jadi gimana?" "Hah? Gimana maksudnya?" Galasena berdecak kesal karena gadis di depannya malah tak langsung menjawab. "Nikah sama aku." Velicia masih belum bisa menjawab, dia menggigit bibir bawahnya. Galasena yang melihat itu menggeram tertahan. Normal karena dia laki-laki, dan saat ini masih pagi. "s**t, jangan menggigit bibirmu." Belum lagi Velicia menjawabnya, Galasena kembali meraih wajah Velicia lalu mencium Velicia. Mata Velicia membola, dia awalnya yang syok akhirnya mengikuti permainan Galasena. Tubuhnya mengkhianati otaknya. Dia ingin menolak, tapi tubuhnya menginginkan lebih. "Uh ..... pelan." Akhirnya pagi itu, Galasena dan Velicia melakukanya sekali lagi. "Kamu bikin aku gila kalau begini." Galasena melihat Velicia yang kembali tertidur karena ulahnya. Lalu dia mencari ponselnya menghubungi asistennya. "Reval, bawakan pakaian baru untukku dan sepasang dengan wanita. Dan atur berkas pernikahan ku." Tanpa menunggu jawaban dari Revaldi, Galasena menatap Velicia yang tertidur lelap di ranjang. # Byur.... Uhuk..... Reval menyemburkan minumannya ketika Galasena menghubunginya. "Me-menikah? Hah?" Reval kembali melihat ponselnya dan benar yang barusan menelfon adalah Galasena. "Menikah sama siapa? Kok mendadak?" Reval masih mencerna semuanya tapi pesan masuk di ponselnya segera membuatnya sadar jika Galasena tak becanda dengan apa yang barusan dia katakan. "Cari tahu siapa yang menjebakku semalam. Aku nggak akan jadi laki-laki berengsek seperti dia!" Revaldi akhirnya mengerti kenapa Galasena melakukan itu. Revaldi segera mengurus semua berkas dan juga data yang di kirimkan Galasena. Dia bisa mengurus semuanya setelah mendapatkan identitas wanita itu. # Beberapa waktu berselang, Velicia terbangun. Dia melihat ke sekelilingnya dan tak menemukan keberadaan Galasena. Di sebelahnya ada dua paper bag yang berisi pakaian dan makanan. "Jangan ke mana-mana, bersihkan dirimu dan makan dulu. Setelah itu, ikut aku." Velicia mengambil noted kecil yang ada di sana lalu melihat isi di dalamnya. Tak hanya pakaian dan makanan ternyata di sana juga ada salep untuk miliknya yang masih terasa nyeri. "Perhatian juga dia." Velicia bergegas membersihkan dirinya meskipun area intimnya masih terasa perih. Dan matanya membola ketika melihat seluruh tubuhnya penuh dengan bercak yang di tinggalkan Galasena. "Astaga, apa dia gila? Bisa-bisanya dia meninggalkan bekas sebanyak ini!" Meskipun Velicia menggerutu tapi tetap saja dia tak bisa menghajar Galasena saat ini. Velicia mengganti pakaiannya dan juga makan yang di berikan Galasena kepadanya. Dia mulai ingat dengan apa yang terjadi padanya sebelum dia berakhir dengan Galasena sejak semalam. "Rania, tetap saja nggak berubah. Masih saja pakai cara menjijikkan seperti ini." gumam Velicia. Dia lalu mencari pakaiannya yang di sobek oleh Galasena karena kejadian semalam. Dia mencari ponselnya, dan menemukan ponsel itu tergeletak di bawah. Namun ponselnya kehabisan daya dan tak menyala sama sekali. "Daddy kalau tahu aku tidur sama cowok pasti langsung ngamuk." "Siapa yang ngamuk?" "Eh...." Saking kagetnya, ponsel yang di pegang oleh Velicia terjatuh. Prak.... Velicia meringis melihat ponselnya jatuh dan retak. "Ponsel ku! Mana baru ganti!" batin Velicia. Galasena yang melihat itu mengerutkan keningnya ketika melihat ponsel Velicia. Dia mengambilnya, semakin mengkerut keningnya saat tahu ponsel Velicia ternyata hampir sama dengan miliknya. "Ponselmu...." "Ah, itu cuma sewa kok, hahaha, iya cuma sewa." "Duh, bodoh. Velicia, mana ada kamu sewa ponsel semahal itu!" batin Velicia. Galasena sepertinya percaya karena dia tak bertanya lagi. "Nanti aku belikan yang baru." Velicia melongo, dia masih mencerna semua yang terjadi padanya. Lalu Galasena duduk di sana dengan tenang. Sementara Reval berdiri di belakang nya. Masih tak percaya jika tuannya perhatian sama seorang wanita. Galasena meletakkan buku nikah di sana. "Apa itu?" "Buku nikah kita resmi dan sah." "Hah?" Mata Velicia sampai mengerjap tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Me-menikah?" Galasena mengangguk, dia duduk dengan tenang. Lalu menepuk pelan sisi sebelahnya menyuruh Velicia untuk duduk di dekatnya. Lalu Velicia menerima buku nikah itu dengan perasaan campur aduk. Dan benar saja di sana ada foto juga nama Velicia. "Serius dia urus ini cuma pake identitas ku aja? Galasena Anggara Sagala, kok nggak asing ya namanya?" batin Velicia. Lalu dia melihat ke arah Galasena yang duduk dengan tenang sambil terus menatap ke arahnya. Galasena yang di perhatikan oleh Velicia menjadi bingung. "Kenapa melihat ku seperti itu? Ada yang salah dengan identitas mu?" Velicia menggeleng, dia tak bisa kabur lagi. Jadi apa boleh, dia akan menerima nya saat ini. "Nanti aja ngomong sama Daddy, kalau sekarang nggak mungkin." batin Velicia. Lalu Galasena menyerahkan satu berkas pada Velicia. "Apa ini?" "Baca aja, nanti kamu akan ngerti." Velicia membuka berkas yang diberikan dan ternyata itu berkas perjanjian menikah. Di sana juga di jelaskan pernikahan mereka dah dan resmi. Mereka juga akan tinggal satu rumah, tapi pernikahan mereka tak akan di publish untuk saat ini. Selain itu, Velicia harus menemani Galasena di acara mana pun. Velicia menggigit bibir bawahnya membaca poin itu. Otaknya berpikir cepat. "Kalau emang nggak di publish dan harus nemenin kamu ke mana-mana, aku mau jadi asisten kamu di kantor. Jadi orang-orang juga nggak akan curiga. Atau sekretaris kamu aja. Otakku juga nggak bodoh-bodoh banget." Galasena menatap Velicia lagi lalu dia mengangguk, apa yang dikatakan Velicia masuk akal saat ini. "Oke, tanda tangani dan kita pulang ke rumah kita." Velicia tanpa pikir panjang langsung menandatangani berkas perjanjian itu. Terlebih di sana ada poin di mana tak ada pihak ketiga di antara mereka dan itu menguntungkan untuknya mengingat terlihat Galasena juga bukan orang sembarangan. "Nggak mungkin kalau nggak ada wanita di sekitarnya. Dia gunain aku buat jadi tameng nya dari wanita-wanita itu. Licik sekali dia!" batin Velicia. Setelah itu, Galasena mengajak Velicia pergi dari sana karena dia harus kembali ke perusahaan. Sepanjang perjalanan, Velicia hanya diam saja tanpa mengatakan apapun. Tapi pikirannya sudah kemana-mana. Velicia melihat sekitar ketika mobil itu memasuki area sebuah rumah mewah dan elit. Velicia sudah terbiasa dengan suasana seperti itu. Hanya saja dia kagum dengan taman yang ada di dekat pintu masuk. Velicia tersenyum. Dan semua itu tak luput dari pandangan Galasena. "Kalau kamu suka tamannya, kamu boleh rubah sesuai yang kamu mau." Velicia langsung menoleh pada Galasena. "Tidak, taman itu sudah bagus, hanya tinggal menambah beberapa bunga yang lain dan lebih berwarna." Galasena mengangguk, sementara Reval sampai tak bisa berkata-kata ketika melihat perubahan Galasena yang perhatian pada Velicia. "Baiklah, lakukan apapun yang kamu mau. Hari ini istirahat di rumah baru besok aku bawa kamu ke perusahaan." to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD