Arka terdiam beberapa saat. Tatapannya sempat turun beberapa saat, sebelum kembali terangkat ke arah Raka dan Irna. Sikapnya yang demikian seperti sedang mempertimbangkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya agar terdengar sebagai sebuah kekhawatiran, bukan tuduhan. "Beberapa kali, saya lihat Arin jalan sama laki-laki." Kalimat itu membuat suasana ruang keluarga berubah perlahan. Tidak ada yang menyela. Bahkan, Anita yang sejak tadi duduk santai di sofa ikut mengangkat wajah lebih tinggi dari sebelumnya. Perhatian seluruh penghuni ruangan kini tertuju kepada Arka. Pria itu lalu menoleh ke arah Anita. "Kamu ingat? Bekas merah di leher Arini pas di paviliun yang katanya digigit serangga?" Anita terdiam. Keningnya berkerut tipis. Ingatannya berusaha menelusuri kejadian demi kejadian

