Rania mengembuskan napas panjang. “Angga sama orang tuanya aman, kok, Rin. Dia udah dilepasin sama Arka.” Arini memejamkan mata sesaat, sebelum mengembuskan napas lega. Beban yang sejak beberapa waktu terakhir menggantung di dadanya terasa sedikit berkurang. Setidaknya, Arka menepati ucapannya kali ini. Angga dan keluarganya tidak lagi berada dalam masalah karena dirinya. Sejenak, Rania menatap ke arah perut Arini. Lama tidak bertemu, harusnya kandungan sahabatnya sudah besar bukan? Namun, kenapa keadaannya malah perut tersebut rata? “Rin, kandungan kamu ....” Rania tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Arini tersenyum getir. “Setelah insiden itu, aku kehilangan bayi yang aku kandung, Ran.” Rania memegang perut Arini dengan hati-hati. Wajahnya memperlihatkan rasa prihatin yang tidak

