Tangan Arini gemetar. Hanya melihat namanya saja sudah berhasil membuatnya gugup. Perempuan tersebut bahkan hanya memandangi layar. Membiarkan ponsel itu terus berdering. “Rin?” Irna kembali memanggil ketika Arini masih belum memberi respons untuk panggilan di ponselnya. Setiap panggilan Irna membuat Arini terenyak. Ia mengangkat wajahnya. Menyadari Irna yang juga menaruh curiga terhadapnya. “Em, Arin izin ke belakang dulu buat angkat telepon, Ma.” Irna mengangguk. “Iya, Nak. Mama juga mau ke kamar Anita.” Ia beranjak dari kursi, meninggalkan Arini lebih dulu. Pandangan perempuan itu ikut naik, mengamati gerak-gerik Irna yang bayangannya mulai tenggelam di balik lorong menuju kamar. Embusan napas berat terdengar. Arini mengusap dadanya, lega. Ponsel itu masih berdering. Namanya

