Amel melipat kakinya di atas ranjang, memilih duduk bersila sedang sang suami berdiri dihadapannya. Wanita yang telah melahirkan satu anak untuk Hanggono di usia mudanya itu membuka mulut, “Ap,’ lalu menutupnya lagi. “Apa Yang?! Jangan bikin emosi ya kamu!” Cibiran Amel berikan. Berani sekali Hanggono memperlakukan dirinya seperti ketika ia masih bekerja dulu. “Tolong Anda ulangi lagi Pak Hanggono?! Di kamar ini bosnya adalah saya.” Omel Amel membuat Hanggono langsung membelalakan mata. Ia lupa menjaga emosi. Hanggono berlutut. Ia menggosokkan telapak tangan sembari meminta pengampunan pada Amel. “Ampun, Yang.. Mas keceplosan!” pinta Hanggono berharap Amel akan memaafkan dirinya. Niel di sofa menggelengkan

