Arhan menyibukkan diri keesokan harinya tanpa menemui Kayra terlebih dulu. Kejadian semalam benar-benar membuatnya makin, sekaligus kesal pada dirinya sendiri. Di momen yang seharusnya menjadi pembuktian bahwa ia bersungguh-sungguh ingin berpisah nyatanya jadi pembuktian bahwa ia mengalami penyakit yang dapat menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang lelaki tulen.
Arhan benar-benar menyibukkan diri, menguras tenaga dan waktu, nyaris ia tidak punya kesempatan untuk mengisi perutnya yang sejak semalam tidak diisi apapun.
“Jangan menyiksa diri, tulang kakimu bisa patah.” Imam, rekan satu timnya menurunkan kecepatan treadmill.
“Treadmill nya bisa rusak.” Imam kembali menekan tombol untuk menurunkan kecepatan hingga arhan berjalan di atas treadmill, bukan berlari kencang bak kuda seperti tadi.
“Kenapa?” selidik Imam, menyodorkan sebotol air mineral dingin. “Ribut sama istri?” senyumnya menggoda, sementara Arhan justru mendengus pelan membasahi tenggorokan dengan air dingin.
“Nggak.” jawabnya.
“Kami baik.”
“Kenapa muka lo kusut banget,”
Arhan bisa berbohong tapi wajah dan eksepsinya tidak dapat menutupi apa yang tengah dirasakannya saat ini.
“Capek aja.”
Imam berdecak, tahu temannya berbohong.
“Udah tau capek, malah lari kayak tadi. Apa nggak bikin makin capek?”
Arhan tidak menjawab, ia mengabaikan penasaran Imam. Tidak mungkin menceritakan masalahnya pada Imam, sedekat apapun hubungan keduanya tetap saja urusan pribadi yang bersifat sangat sensitif itu tidak akan pernah Arhan ceritakan pada siapapun, bahkan salsa sekalipun.
Suasana hatinya benar-benar buruk, mungkin karena ia terlalu lelah dan lapar, tapi jauh di lubuk hatinya ada hal lain yang sangat mengganggu.
Satu jam berlalu, Arhan sudah berlatih dengan keras ia pun merasakan kelelahan.
Ponsel Arhan berbunyi, nama Salsa muncul disana. Tapi ia enggan untuk menerima panggilan dari wanita itu, lebih baik mengabaikannya saja dan berpura-pura sibuk. Mengingat sosok salsa, Arhan merasa wanita ikut andil dalam kegagalan malam pertamanya dengan Kayra tadi malam.
“Sial!” Umpatnya, melemparkan ponsel ke dalam tas jinjing agar ia tidak perlu tahu saat wanita itu kembali menghubungi.
Arhan sempat menikmati makan siang di cafe dekat lokasi latihan, rencananya setelah selesai makan ia akan segera pulang. Menghindari Kayra seperti saat ini tidak akan menyelesaikan masalah ia dan wanita itu harus segera bicara setidaknya untuk membahas syarat perpisahan keduanya yang tidak mungkin dipenuhi Arhan.
Melihat mobil milik Kayra masih tertarik di garasi, artinya wanita itu tidak pergi ke butik seperti biasanya. Arhan pergi sejak pagi buta, tidak bertemu dengan Kay sejak kejadian semalam.
Dengan ragu dan Canggung, Arah masuk kedalam rumah.
Rumah yang mereka tempati selama beberapa bulan setelah resmi menikah. Di rumah, tidak ada asisten tetap. Hanya ada satu orang yang ditugaskan untuk membersihkan rumah, datang setiap pagi dan pulang pukul satu siang. Hanya mereka berdua di rumah itu.
Arhan menoleh ke arah jam tangan, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore artinya Mbak Isah, asisten rumah tangga sudah pulang.
Kayra sendiri di dalam sana.
Jika rahasia besar dalam hidupnya belum terbongkar, Arhan akan dengan percaya diri masuk kedalam rumah, mengabaikan Karya seperti biasanya tapi hari ini ia merasakan adanya perubahan. Entah mengapa bertemu dengan Kayra butuh keberanian yang besar, ada rasa tidak percaya diri yang menyeruak dalam hati.
Arhan berusaha meyakinkan diri, menghela berulang kali sebelum membuka pintu.
Saat pintu terbuka dan kedua kalinya menginjak lantai rumah, arhan mencium bau harum masakan yang begitu menggoda. Karya memang pandai memasak, tapi kesibukan membuatnya jarang menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah makanan.
Arhan sudah makan, tapi ia merasa perutnya bergejolak merespon bau harum masakan Kayra.
“Sudah pulang?” Kayra menyadari kehadirannya, langsung menyapa dengan senyum seperti biasanya.
“Hmm,, “ balas Arhan, Pura-pura tidak tertarik.
“Mau makan? Aku sudah masak makanan kesukaan kamu.” Kayra menunjukkan hasil karyanya dengan bangga, ratunya tidak terlihat canggung bahkan malu. Kayra justru tetap bersikap seperti biasanya.
“Nanti saja.” Tolan Arhan.
“Baiklah.”
Kayra kembali fokus pada kegiatannya di dapur, sementara Arhan masih tetap dengan posisinya, berdiri di dekat meja makan.
“Kenapa? Kamu butuh sesuatu?” tanya Kayra dengan raut bingung.
“Kenapa kamu nggak ke butik?”
“Sakit,”
“Sakit? Bahkan kita tidak melakukannya semalam, tapi kamu bilang sakit?”
Sangat sensitif, sebelum Kayra me mengatakan hal-hal yang berpotensi menyinggung, Arhan sudah terlebih dulu kesal dan marah.
“Aku memang sakit, ini buktinya.”
Kayra menunjukkan beberapa bercak merah di leher, dekat d**a bahkan memar di lengannya.
“Aku nggak bohong.”
Artan terdiam, menatap memar yang ditunjukkan Kayra padanya. Semalam tidak terjadi apapun, bahkan belum sampai pada titik penyelesaian, tapi Kayra sudah mengalami banyak luka memar karenanya.
“Kay, sepertinya aku nggak bisa melakukan itu.” Arhan menelan ludahnya sendiri. “Syarat yang kamu mau. Aku,,, aku tidak bisa melakukannya.”
“Kenapa?”
“Karena tidak bisa. Karena tubuhku nggak bereaksi padamu.”
“Yakin?”
“Tentu!!” jawab Arhan cepat dan tegas.
Kayra menatap datar, tatapan yang sangat dibenci oleh Arhan.
“Tidak.” Kayra menggelengkan kepalanya.
“Aku tetap mau itu, sebagai syaratnya tidur denganku, sampai aku hamil. Hanya itu.”
“Tapi, Kayra..”
“Kita bisa coba lagi nanti, apakah kamu benar-benar tidak bereaksi padaku atau justru sebaliknya.”