BAB 7

1202 Words
Elaina duduk dengan gelisah, mencoba memahami dirinya sendiri. Ia tidak mengerti mengapa sulit menolak ajakan Alister. Tatapan mata laki-laki itu terasa menekan, seolah memaksa dirinya untuk tunduk. Kata-kata yang keluar dari mulut Alister membuatnya kehilangan kendali. Ia merasa seakan-akan tidak memiliki pilihan selain menerima. Dalam pikirannya, Elaina membandingkan dengan Fidell. Ia pernah mencintai Fidell dengan sepenuh hati. Bersama Fidell, ia sering berciuman dan bermesraan. Namun, pengalaman itu tidak pernah menimbulkan dorongan sekuat yang ia rasakan sekarang. Bersama Alister, ada desakan yang membuatnya tidak mampu menolak. Elaina merasakan ajakan kuat dalam dirinya, seolah tubuhnya sendiri ingin menerima pelukan dan ciuman dari Alister. Ia sadar bahwa perasaan ini berbeda. Fidell memberinya cinta, tetapi Alister menghadirkan sesuatu yang lebih mendominasi. Elaina hanya bisa pasrah, meski hatinya penuh kebingungan. “Aku menyukai aroma kulitmu kali ini. Apakah ini sabun mandi yang biasa aku pakai juga?” tanya Alister sambil menciumi pundak dan d**a Elaina yang telanjang. Lidahnya menyapu puncak d**a gadis itu. Elaina tidak kuasa menahan desahan. “Iya, Pak. Ini sabunmu.” “Kalau begitu, kamu harus sering-sering mandi di sini Elaina. Aku menyukai wangi sabunku di tubuhmu. Wangimu sangat menggairahkan.” Alister mendekat, bibirnya menyentuh bibir Elaina dengan desakan yang membuat gadis itu terdiam. Tatapan matanya penuh keyakinan, seolah ingin menegaskan bahwa momen itu hanya milik mereka berdua. Elaina merasakan tubuhnya bereaksi, meski ia sendiri tidak sepenuhnya memahami dorongan yang muncul. Kurangnya pengalaman membuatnya bingung, tetapi ia tidak mampu menolak. Elaina menggigit bibir, matanya terpejam, dan napasnya semakin cepat. Suara lirih yang keluar dari tenggorokannya terdengar jelas di telinga Alister, menambah intensitas suasana. Ia menikmati setiap respon kecil yang muncul, seakan menjadi bukti bahwa dirinya berhasil menembus pertahanan Elaina. Alister menurunkan wajahnya, mendekat ke pundak Elaina, lalu mengecup kulitnya dengan lembut. Sentuhan itu sederhana, namun cukup untuk membuat Elaina semakin larut. Dalam keheningan ruangan, hanya ada napas yang memburu dan detak jantung yang berpacu. “Elaina ...” “Pak, aku ...” Elaina tidak dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya saat jemari laki-laki itu mengobrak-abrik dirinya. Pertama kalinya ia merasa seolah tubuhnya bukan berada dalam kendalinya. la terengah, napasnya tersengal Seolah mendaki bukit yang terjal. Gerakan jemari Alister melambungkan hasratnya. Ia terbanting, karena gairah yang seolah tidak bertepi. Alister mengangkat jemarinya dari milik Elaina yang basah karena ulahnya. Meraih tubuh gadis itu hingga kembali tegak dan membantunya memakai kembali kemeja. Menyangga tubuh gadis itu di bahunya, hingga napas mereda dan tidak lagi gemetar. “Yah, kusut,” desah Elaina tidak berdaya kala menatap pakaiannya yang berantakan. Kemeja yang ia kenakan sudah terbuka kancing-kancingnya, bagian lehernya bahkan sudah melorot hingga ke bahu. Begitu juga bagian bawahnya yang sudah tampak kusut. Alister mengangguk. “Memang, dan kamu bisa mengganti dengan pakaian yang lain. Kamu bisa ambil kemeja mana saja yang kamu sukai dalam lemari.” “Pak, mana ada sopir kemejanya bermerek mahal? Satu lemari penuh pula.” protes Elaina. “Anggap saja pakaian di lemari itu bukan milikku, seperti halnya penthouse ini. Ayo, kita duduk di ruang tamu untuk bicara, banyak yang harus kita bicarakan.” Elaina menjejakkan kaki di lantai dengan sedikit goyah, sebelum mengikuti Alister menuju sofa. Kakinya masih sedikit bergetar akibat ulah Alister, pun dengan nafasnya yang masih sesekali tersenggal, meraup oksigen dengan lahap untuk mengisi rongga paru-parunya. Laki-laki itu mengeluarkan sekotak rokok dengan merk premium dan bertanya padanya. “Nggak apa-apa kalau aku merokok?” Elaina menggeleng. “Nggak apa-apa.” Alister menyulut api dan mengisap rokoknya. “Berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Fidell?” Pertanyaan pertama Alister lontarkan setelah hembusan asap rokok keluar dengan kuat dari bibir sexy-nya. “Tiga tahun.” Elaina menjawab lirih, nyaris tidak kedengaran suaranya. “Cukup lama juga. Kenapa kalian bisa putus?” Elaina menggeleng, menyugar rambut panjangnya yang indah ke belakang. “Nggak tahu. Beberapa hari yang lalu dia memang datang ke bar tempatku bekerja. Berbicara singkat tentang ingin putus dan memintaku tidak menghubunginya lagi. Aku pikir, Fidell sedang bercanda dan aku membiarkannya. Ternyata, ada seorang teman datang dengan membawa undangan dan aku membuktikan sendiri kalau memang dia menikah dengan gadis lain.” “Kalian sudah bertunangan?” “Sudah, dua tahun lalu sepertinya. Waktu itu aku masih di akhir tahun kuliah.” “Kenapa tidak langsung menikah?” Elaina menatap Alister dan menghela napas, mengatur kata-kata yang hendak keluar dari bibirnya. Pikirannya menerawang sesaat, membayangkan masa-masa yang sudah berlalu. Waktu yang pernah ia lalui dengan sangat bahagia, dan akhirnya terenggut oleh bencana. Tidak tahu siapa yang harus disalahkan, Karena semua terjadi di luar perkiraan mereka. “Fidell mengajakku menikah buru-buru, tapi aku menolak. Kebetulan sedang skripsi dan aku tidak ingin studiku terganggu. Sampai akhirnya, setahun kemudian bisnis orang tuaku bangkrut. Ditipu sangat banyak, uang dan aset hilang. Harus menjual perusahaan untuk membayar tagihan utang jatuh tempo. Rumah besar yang kami tempati harus dijual juga. Papa dan mamaku, membawa adikku tinggal di kota yang lebih kecil. Selain untuk menghemat uang karena adikku masih sekolah, juga untuk menghindari tekanan. Skripsi selesai, aku mengambil pelatihan bartender dan bekerja di bar. Bisa jadi, Fidell memutuskan hubungan denganku karena mendapatkan perempuan yang lebih kaya.” Alister mengangguk. “Memang. Ivanka adalah anak pengusaha tambang. Jelas kaya raya. Jika kamu mengira bahwa ia meninggalkanmu karena harta, bisa jadi dugaanmu terbukti kali ini.” Elaina menggeleng, berusaha mengusir rasa berat di kepalanya. “Yang paling membuatku kesal adalah fakta kalau Fidell menduakan kami. Di saat bersamaan dia memacariku dan istrinya, aku nggak tahu apakah istrinya mengetahui kalau dia masih berstatus pacarku. Kalau memang mau menikah, kenapa nggak dari berbulan-bulan lalu memutuskan hubungan kami? Kenapa membiarkan aku berharap lalu dicampakkan? Apakah dia tidak pernah memikirkan perasaanku yang dicampakkan?” Alister mengamati gadis yang terlihat murung di depannya. Elaina menyimpan rasa pahit dari perasaan yang dicampakkan. Tidak heran kalau gadis itu nekat melakukan tindakan tak terpuji di pesta. Elaina sedang menumpahkan rasa marah dan kecewanya saat itu. “Apa kamu berniat balas dendam pada Fidell?” Elaina menatap Alister lekat-lekat. “Untuk apa balas dendam? Aku nggak mau dikira ingin merusak pernikahannya. Di pesta kemarin, aku memang sedang gila tapi sekarang aku sudah waras.” “Bukan untuk merusak pernikahan Fidell tapi untukmenunjukkan kalau tanpa dia, kamu tetap tegak menjalani hidup dan move on dengan cepat.” “Dengan menjadi kekasih, Anda, Pak Alister? Maksudku, kekasih pura-pura?” “Hanya statusnya yang pura-pura, tapi tidak dengan hubungannya. Aku akan mernperlakukanrnu layaknya kekasih sungguhan. Dengan begitu, kita bisa saling membantu.” “Dalam hal apa Bapak mau aku bantu?” Alister menghela napas panjang. “Aku membantumu, menunjukkan pada Fidell kalau kamu tidak lagi berharap padanya. Sedangkan kamu membantuku, untuk menghadapi Orang tuaku. Mereka menginginkan aku menikah, dan aku belum siap untuk itu.” Elaina tersenyum. “Takut menikah, Pak?” Mata bulat Eliana memancar penuh jenaka, membuat wajah ayunya makin menggemaskan. “Anggap saja begitu. Bantulah aku mengusir para perempuan yang ingin mengejar dan mendekatiku.” Elaina menyipit, menatap Alister yang mematikan rokok dan membuang putung ke asbak. Di tatapnya Alister dengan tatapan tajam penuh kecurigaan, dan Alister menangkap pandangannya. “Ada apa? Kenapa menatapku begitu?” “Pak, entah kenapa aku berpikir kalau kamu bohong.” “Soal apa?” “Pekerjaan. Kamu pasti bukan sopir. Mana ada sopir yang dikejar-kejar perempuan?” “Ada, kalau punya wajah sepertiku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD