BAB 2

1459 Words
“Harusnya kamu intropeksi diri, kenapa aku memilih Ivanka. Pria mana yang akan menikah dengan wanita macam kamu?” Kalimat itu terus terngiang di telinga Eliana. Elaina meledak, berteriak tapi Fidell memberi tanda pada penjaga untuk menyeretnya turun dari pelaminan. Walaupun seorang wanita namun dua penjaga yang menyeretnya membutuhkan tenaga extra untuk menyeret tubuh ramping Eliana. Wanita marah dan Vodka, sebuah kombinasi yang cukup merepotkan kaum pria. “Jangan kamu pikir masalah ini akan selesai, Fidell. Kamu harus terima pembalasankuuu!” Fidell kembali berdiri di sisi istrinya, matanya tetap mengikuti gerakan para petugas yang menyeret Elaina keluar dari ballroom. Ia memperhatikan dengan seksama bagaimana tubuh mantan tunangannya itu ditarik dengan paksa, langkah demi langkah hingga akhirnya menghilang di balik kerumunan tamu undangan. Suasana ballroom tetap ramai, tetapi bagi Fidell, momen itu menjadi titik lega. Ia merasa beban yang sempat menekan dadanya sedikit berkurang karena Elaina berhasil diamankan. Setidaknya untuk malam ini, ia tidak perlu menghadapi keributan yang bisa merusak acara. Namun, rasa lega itu segera bercampur dengan rasa heran. Fidell tidak menyangka Elaina berani datang ke tempat ini. Ia tahu bahwa setiap tamu yang hadir harus menunjukkan barcode undangan resmi. Pertanyaan pun muncul di kepalanya: siapa yang memberinya akses? Apakah ada seseorang di antara tamu yang sengaja membantu Elaina masuk? Pandangannya menyapu ruangan, meneliti wajah-wajah yang tampak tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Fidell mencoba menahan diri agar tidak menunjukkan kecurigaan berlebihan. Ia tahu bahwa malam ini bukan waktu yang tepat untuk menimbulkan kegaduhan baru. Senyuman kembali ia pasang di wajahnya, meski pikirannya masih penuh dengan dugaan. Sentuhan lembut istrinya di pinggang membuatnya sadar bahwa ia harus tetap menjaga sikap. Ia menoleh sebentar, melihat wajah istrinya yang berusaha menenangkan. Fidell menarik napas panjang, berusaha menutup rapat kegelisahan yang masih berputar di benaknya. Malam ini harus tetap berjalan sesuai rencana, meski ada pertanyaan yang belum terjawab. “Iya, Sayang.” Ivanka menyipit, wajahnya terlihat kesal dari balik riasan yang dipakainya. Riasan yang tadinya membuat wajahnya bersinar Bahagia, kini seolah meredup, tergantikan aura curiga dan emosi. Menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. Kedatangan Elaina yang mengamuk, membuat mood-nya yang semula bagus menjadi hancur. “Fidell, jangan berani-berani kamu bermain gila di belakangku,” desisnya mengancam. Fidell meraih tangan sang istri dan mengecupnya. “Mana berani aku? Kamu adalah wanita satu-satunya yang aku cintai. Aku dan wanita itu memang pernah dekat, tapi dulu sekali. Setelah itu dia seolah terobsesi denganku. Bukankah disampingku ada orang tuaku? Kenapa kamu nggak tanya mereka biar percaya?” Ivanka menahan diri untuk tidak langsung berbicara kepada kedua mertuanya. Ia sebenarnya ingin bertanya dan membantah, tetapi keadaan tidak memungkinkan. Tamu undangan sudah berbaris panjang untuk memberikan ucapan selamat, sehingga ia memilih untuk tetap diam. Rasa ingin tahunya tentang wanita yang baru saja muncul dan merusak pesta itu ia simpan dalam hati. Meski begitu, ia bertekad tidak akan membiarkan Elaina begitu saja. Baginya, wanita itu harus menerima balasan karena sudah membuatnya malu di depan banyak orang. Selama berbulan-bulan, Ivanka mempersiapkan pesta pernikahan ini dengan penuh perhatian. Setiap detail ia rencanakan dengan cermat, mulai dari dekorasi, hidangan, hingga daftar tamu. Ia mengundang ribuan orang dengan tujuan menimbulkan rasa kagum sekaligus iri. Ia ingin pesta ini menjadi peristiwa yang diingat, diliput media, dan dibicarakan di kalangan elit. Semua persiapan itu bukan hanya untuk merayakan pernikahan, tetapi juga untuk menunjukkan posisinya di tengah masyarakat. Ivanka sadar tidak semua orang bisa mewujudkan pesta pernikahan sebesar ini. Biaya adalah kendala utama bagi kebanyakan orang. Namun, sebagai anak pengusaha batu bara, ia memiliki segalanya. Uang dan kekuasaan ada di tangannya, sehingga ia bisa mewujudkan pesta sesuai keinginannya. Karena itu, kehadiran Elaina yang berani mengacau dianggap sebagai tindakan menantang. Ivanka menilai gadis itu sengaja mencari masalah dengannya. Ia tidak akan membiarkan gangguan ini berlalu tanpa konsekuensi. la mengusap lengan sang mama dan berbisik lirih. “Maa, minta orang awasi gadis gila itu. Jangan sampai mengacau lagi” Sang mama mengangguk. “Tenang saja, papamu sudah mengaturnya. Kurang ajar sekali Fidell mengundang gadis itu kemari.” “Maa, Fidell nggak undang dia. Nggak tahu dapat undangan dari mana.” “Kalau begitu, biar para penjaga yang mengatasinya.” Ivanka mengangguk, dendam dan kemarahan menyala di hati. Ivanka mengubah ekpresi wajahnya dari kesal menjadi penuh senyum saat kembali berjabatan dengan para tamu. Ini adalah harinya, dan tidak ada seorang pun yang berhak merusaknya. Tidak juga seorang Eliana. Tiga pria berseragam mencengkeram lengan Elaina. Tidak peduli meski gadis itu berteriak kesakitan. Mereka mendapatkan perintah untuk membuang gadis ini jauh-jauh dari tempat pesta, dan itu yang sedang mereka lakukan. “Kurang ajar kalian! Lepaskan lenganku!” Elaina berteriak, menyadari kalau kepalanya pusing dan perutnya mual. la sudah datang ke tempat ini dengan penuh keberanian, berusaha menegakan apa yang disebutnya keadilan bagi dirinya. Namun, pada akhirnya tetap saja kalah. Para penjaga itu membawanya turun dengan lift menyeret paksa dirinya keluar dan melemparkannya ke lobi. “Dilarang masuk!” teriak salah seorang dari mereka. Elaina terhempas ke marmer yang keras dengan satu sepatu di kaki kiri, dan kaki kanannya bertelanjang kaki. la mengernyit, merasakan tulang pinggulnya nyeri, akibat benturan tubuhnya dengan marmer sungguh tidak main-main. Eliana memang tidak kurus, namun lapisan lemak di bawah kulitnya juga tidak bisa dikatakan tebal. la tersentak, saat sebuah lengan yang kokoh terulur untuk membantunya berdiri. Lengan dengan balutan tuxedo hitam pekat, serta aroma musk yang terkesan maskulin, membuat otaknya yang berada di bawah pengaruh Vodka Martini jadi semakin oleng. “Kalian kasar sekali dengan wanita!” Elaina menatap sosok yang bicara, seorang pria tinggi dengan jambang tipis membingkai rahang tegasnya, serta memakai kacamata frameless yang menambah penampilannya terlihat sangat manly. Pria itu menunduk, mengusap lembut siku Elaina yang sukses memberikan sengatan listrik statis pada tubuh Eliana. “Kamu nggak apa-apa?” Elaina meneguk ludah. “Nggak apa-apa, terima kasih.” “Tunggu di sini.” Pria itu memberi perintah pada Elaina yang terdiam. Maju beberapa langkah pria itu berkata tenang pada penjaga. “Kalian naik, biar aku yang urus wanita ini.” “Siapa kamu?” Satu penjaga bertanya dengan keras. Nada bicaranya masih sama seperti saat ia mengusir dan menyeret Eliana. Pria itu tersenyum, mengambil kartu nama dari dompet. Saat melihatnya, ketiga pria saling pandang, mengangguk sesaat lalu berbalik dan masuk ke dalam lift. Elaina mendengkus, menenteng satu sepatu dan menuju ke mesin penjual minuman. Sambil mengernyit ia merogoh koin dalam dompet, dan memasukkannya ke mesin. Memencet bir. Tiga kaleng menggelinding keluar. la mengambil semua, duduk didekat mesin dan tidak peduli pada pandangan orang-orang yang berlalu lalang. Membuka kaleng pertama dan menandaskannya. Kaleng kedua menyusul habis, dan saat kaleng ketiga baru dibuka, pria berkacamata berjongkok di sampingnya. “Kamu mau mabuk-mabukan di sini?” Elaina menggeleng. “Nggak, mau pulang.” “Pulang kemana? Ayo, aku antar.” “Kamu antar?” Elaina bertanya bingung. Pria itu mengangguk. “Iya. Ayo, bangun, awas sepatumu.” Elaina berdiri sempoyongan. “Sepatu, mana sepatuku?” “Hanya ada satu.” “Ya, satu lagi aku pakai buat lempar muka Fidell. Pria sialan! Kurang ajar!” “Awas langkah!” Elaina tidak bisa berpikir jernih, tentang siapa yang menggandengnya dan akan kemana dibawa pergi. la hanya ingin keluar dari hotel, menjauh dari orang-orang yang membencinya. “Fidell, suatu saat aku akan membunuhmu.” “Ah, tapi membunuh itu dosa.” Elaina mengangguk. “Benar, membunuh itu dosa. Dan aku bisa di penjara.” Pria berkacamata frameless itu tersenyum lirih, memanggil petugas parkir. “Tunggu sebentar. Mobil lagi diambil.” Elaina terkikik, saat tiba di teras hotel menatap pria di sebelahnya. Sangat tinggi, tegap, dan tampan meskipun dagunya tertutup rambut tipis. la mendekat, lalu merangkul leher pria itu. “Kamu tampan.” Pria itu menunduk, sepasang labium yang merekah terlihat dekat sekali dengan bibirnya. “Kamu mabuk,” bisiknya. Elaina menggeleng. “Nggak, aku sadar.” “Kamu sadar? Apa kamu tahu sedang memelukku di keramaian?” Pria itu mengulurkan tangan untuk mendekap pinggang Elaina saat serombongan orang lewat dan hampir menabraknya. Elaina menghela napas, menghirup aroma maskulin dari tubuh pria yang memeluknya. Diraupnya aroma itu dengan rakus, seolah angin yang berhembus akan segera menghapusnya. Tidak masuk akal, tapi anehnya menenangkan. Untuk pertamakalinya Eliana mengakui jika aroma maskulin ini membuatnya tenang sekalipun mereka tidak saling kenal. “Elaina....” Pria itu memanggil namanya. Elaina tersenyum. “Aku suka suaramu.” Tangan pria itu mengusap pinggangnya. “Aku suka semua tentangmu. Sebelum kita ditangkap security karena melakukan tindakan asusila di sini, lebih baik kalau kita pergi sekarang. Ayo, ke rumahku.” “Ke rumahmu?” “Iya, awas kepala.” Elaina tidak menolak saat dibantu masuk ke mobil. Pikirannya keruh, tidak lagi bisa membedakan mana yang seharusnya boleh dilakukan dan mana yang tidak. Seorang gadis ikut bersama pria yang tidak dikenal adalah hal bahaya, anehnya Elaina tidak memerdulikan itu. Otaknya hanya berisi rasa marah, kesal dan kesedihan karena pengkhianatan Fidell.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD