Tanpa berniat mengenakan pakaian lebih dulu, Abimanyu berlalu dengan langkah cepat. Dia yang baru saja mandi mendadak merasa panas lagi lantaran kesenangannya diusik. Belum jelas siapa yang mengetuk pintunya, Abimanyu terus mengomel dan menggerutu tanpa henti. "Sabar, biasa saja ketuk pintunya, tid-" Ucapan Abimanyu terhenti begitu saja ketika matanya menangkap sosok di depan pintu. Dia membeku, wajahnya menegang dan segera menutup pintu kamar rapat-rapat demi menyembunyikan Maura yang berada di dalam. "Tania?" Wanita dengan rambut pirang kecokelatan itu berdiri di sana, mengenakan mantel tebal berwarna krem, wajahnya dingin tapi matanya menyiratkan amarah yang sulit disembunyikan. "Abimanyu." Suaranya terdengar datar, tapi jelas penuh tuntutan. "Kita perlu bicara." "Ada apa? Bukankah

