Abimanyu memandang cincin itu dengan tatapan hampa, cukup lama hingga suasana menjadi begitu berat. Sama seperti Maura yang berat untuk melepasnya, begitu pula Abimanyu yang enggan menerimanya. Maura menghela napas panjang, menahan gejolak hatinya yang campur aduk. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Abimanyu mengulurkan tangannya dengan ragu. Ya, dia menerima cincin itu. Namun, bukan untuk menyimpannya. Abimanyu justru meraih jemari Maura, menyematkan cincin itu kembali di tempat semula, tepat di jari manisnya. Mata Maura membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka hendak memprotes. "Abimanyu, kenapa dipasang lag—" "Shuut ...." Jemari Abimanyu dengan lembut menyentuh bibir Maura, menghentikan kata-kata yang belum sempat terucap sepenuhnya. Tatapan Abimanyu yang tegas dan menusuk me

