Veve berjalan lesu menuju rumahnya, ini hanya salah paham. Veve berniat meluruskannya dengan Akbir. Tapi, kembali lagi pada kejadian-kejadian sebelumnya. Kalau Nisa, adik Akbir. Lalu kenapa saat mereka b******a, nama Nisa yang disebut? Veve menghentikan langkahnya. Bulu kuduknya merinding membayangkan Akbir mencintai adiknya sendiri. Dengan kesal, Veve berbalik arah. Ia tak jadi pulang. Namun, seseorang menghentikan langkahnya. Dengan cepat orang itu memeluk tubuh mungil Veve. "Jangan pergi lagi!" lirihnya makin mendekap sang istri. Veve membeku, jantungnya berdetak tak wajar. Ingin sekali menampar wajah Akbir yang mempermainkannya. Baru saja hatinya sakit karena dibanding-bandingkan. Kini melihat wajah sendu suaminya, dia jadi luluh kembali. Veve balas memeluk tubuh Akbir. "Akhhhh!!

