Bully

931 Words

Veve memegang erat pipinya. Tamparan panas tangan besar Akbir tak berarti dengan rasa sakit di hatinya. Veve berlari menuju pintu. Belum sempat meraih gagang pintu. Suara Akbir mampu membuat tulang tulangnya membeku. "Lari terus, anak kecil setiap ada masalah selalu lari. Pengecut." ujar Akbir sinis dengan kata kata kejamnya. Veve diam, sudah tak mampu lagi bibirnya untuk mengelak. Diam mematung di depan pintu adalah pilihan terbaiknya. Ia menangis dengan bahu bergetar, tapi tak mampu membuat Akbir merasa iba. Saat ini, Veve ingin tertidur menyembunyikan wajahnya sampai ia tak mampu bangun lagi. Pernikahan muda yang ia yakini akan berujung bahagia, malah membawa musibah yang membuat dirinya retak tak berujung. Sampai rasanya Veve tak mampu berdiri lagi. Kegelapan merasuki indra pengli

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD