Bab 7

777 Words
Salsa yang kesal karena merasa jika yang dimaksud Sheza adalah Zello langsung pergi mencari Sheza. Tapi ternyata Sheza sudah lebih dahulu melakukan pemotretan. Salsa menghentakkan kakinya keras. Dia mencari cara bagaimana bisa membalas Sheza kali ini. Kemudian seringai jahat muncul di wajah Salsa. Dia mendekat ke arah beberapa lampu yang menyorot ke arah Sheza. Dengan tatapan yang jahat, Salsa mendorong lampu lampu itu ke arah Sheza. "Mati kamu cewek sialan!" gumam Salsa lirih. Raka yang ingin mengantar makanan yang di pesan Zello untuk Sheza membelalakkan matanya saat tahu ada bahaya di dekat Sheza. "Nyonya awas!!!" Raka berteriak keras. Dia juga melempar makanan yang dia bawa. Raka berlari dengan cepat lalu menarik tangan Sheza agar tak sampai terkena beberapa tiang lampu yang terjatuh. Sheza yang sempat menoleh semakin kaget saat tangannya di tarik keras oleh Raka. Tak hanya itu terdengar bunyi besi yang jatuh dan teriakan dari para kru yang lain. Napas Raka memburu karena hampir saja dia terlambat menyelamatkan Sheza. "Nyonya, nyonya tidak apa apa?" tanya Raka panik. Sheza mengerjapkan matanya karena masih syok, lalu dia mengambil napas panjang untuk mengontrol dirinya sendiri yang kaget. "Raka, terima kasih aku nggak apa apa." jawab Sheza lirih. Para kru berkerumun ke arah Sheza, lalu memeriksa keadaan Sheza saat ini. Tapi raut wajah Sheza kembali dingin seolah rasa takut tadi menghilang begitu saja. "Kenapa bisa tiang lampu itu jatuh bersamaan? Kalian ingin membunuhku?" tanya Sheza dingin. Matanya memindai semua orang yang ada disana. Pasalnya mereka juga sama sama terkejut karena kejadian ini. Di tambah tak hanya satu tiang yang jatuh tapi lebih dari satu tiang. Raka yang geram ingin menghajar mereka tapi Sheza menahan tangan Raka saat ini. "Apa kalian memang ingin mencelakakan nyonyaku? Kenapa hal keamanan saja kalian tak bisa menjaganya?" Semua orang menunduk, lalu tak sengaja ekor mata Sheza melihat Salsa tak jauh dari sana sedang melihat ke arah mereka. Sheza menarik tangan Raka agar mundur ke belakang dan membisikan sesuatu pada Raka. "Lakukan sekarang, kalau benar dia yang melakukannya aku sendiri yang akan membalasnya!!" Raka mengangguk mengerti, lalu pergi dari sana. Tak lupa juga Raka mengabari Zello tentang insiden saat ini. # Zello yang sedang melakukan rapat online reflek menggebrak mejanya. Hal itu membuat partner rapat Zello ketakutan. "Rapat selesai!" Zello mematikan sambungan rapat itu sepihak. Dan semua orang yang sudah hapal dengan watak Zello memilih untuk diam tak protes tentang apapun. Zello bergegas menyusul Sheza ke tempat pemotretan. Dia menghubungi Raka yang sedang mencari rekaman CCTV di tempat kejadian itu. "Raka, apa kamu sudah menemukan siapa orang itu?" tanya Zello marah. "Aku kirim videonya ke tuan!" Zello memeriksa video yang di kirim Raka kepadanya. Matanya menyipit saat tahu siapa dalang di balik jatuhnya semua lampu itu. "Berengsek, beraninya wanita itu!" "Tuan, tapi nyonya berpesan agar tak ikut campur. Kata nyonya, biar nyonya sendiri yang membalasnya." Mata Zello terpejam erat mendengar itu, ingin sekali menghabisi perempuan itu saat ini juga. "Antarkan Sheza ke vila. Aku tunggu disana!" Zello mematikan sambungan telfonnya dengan Raka. Dia memutar haluan mobilnya dan pergi ke vila yang ada di puncak. Dia ingin meredam semua emosinya saat ini. # Sheza sudah mendapatkan rekaman CCTV itu dari Raka. Dia juga sudah memberi peringatan pada semua kru untuk lebih berhati hati lagi. Tak hanya itu saja, Sheza mengancam mereka semua akan membatalkan kerja sama jika ada kelalaian kerja seperti saat ini. "Jadi nyonya, apa yang ingin nyonya lakukan kepada perempuan itu? Bukannya dia juga saudara nyonya?" pancing Raka. Saat ini ponsel Raka tersambung dengan Zello. Di seberang telfon itu, Zello menunggu apa jawaban Sheza saat ini. "Tidak, biarkan dia menikmati hidupnya sampai dia merasa menang. Setelah itu dia akan merasakan sakit yang sesungguhnya!" Jawaban Sheza membuat Zello tertegun, seberapa sakit sebenarnya yang di rasakan Sheza sampai dia menjadi seperti ini. Raka terdiam, dia tak menyahut apapun karena dia juga tak tahu harus menjawab apalagi. Terlebih melihat wajah murung Sheza yang tiba tiba. "Raka, kita mau pergi kemana?" Sheza menatap jalanan yang mereka lewati berbeda dengan jalan pulang ke rumah Zello. Raka tak menjawab karena Zello berpesan agar Raka tak mengatakan apa apa pada Sheza tentang kemana dia di bawa. "Apa Zello yang menyuruhmu?" Sheza belum mendapatkan jawaban dari Raka, mereka sudah sampai di Vila yang di maksud oleh Zello. " Nyonya, tuan muda sudah menunggu di dalam. Silahkan nyonya masuk, aku akan menyusul setelah ini." Sheza menatap Raka bingung tapi dia tetap menurut dan berjalan masuk ke dalam Villa itu. Ternyata saat Sheza membuka pintu beberapa pelayan sudah berjejer rapi disana. "Nyonya, silahkan ikut kami untuk bersiap. Tuan sudah menunggu di taman belakang." Sheza bingung, tapi entah kenapa langkah kakinya memilih untuk mengikuti para pelayan itu. "Apa yang akan dia lakukan disini?" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD