“Aryo! Aryo kamu kenapa? Oma? Oma Aryo kenapa?!” Tubuh Tania menyeruak dan membubarkan beberapa orang yang merubungi tubuh Aryo. Tania syok melihat darah merembes dari baju Aryo dan lelaki itu ditahan seseorang agar tetap berbaring di lantai. Spontan Tania memeluk tubuh suaminya dan menangis tersedu. “Aku nggak papa. Aku nggak papa, kok. Jangan nangis. Aku baik-baik saja, Tania.” Aryo berusaha membalas pelukan istrinya dengan sebelah tangan. “Kamu berdarahh,” bisik Tania lirih. Dilepaskannya pelukannya dan dia memandang ke arah pinggang suaminya. “Rumah sakit! Kita harus ke rumah sakit! Cepat siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang juga!” Tania berusaha berdiri sembari berusaha mengangkat Aryo agar ikut dengannya. “Tania please … ini cuma tergores. Nggak seseram kelihatannya. Ak

