dua puluh empat

1081 Words
Yogi pagi ini sudah terbangun, ia baru saja selesai mandi kemudian berjalan turun ke ruang makan sambil mengeringkan rambutnya. Hari ini rasanya malas sekali untuk berkegiatan, jadi bangun sedikit lebih siang daripada biasanya. Di ruang makan sudah ada sang ibu yang tengah membaca artikel dari ponsel, seraya menikmati secangkir teh yang dia buat sendiri tadi. Yogi berjalan mendekat, lalu mencium pipi sang ibu. "Yang lain pada ke mana Mi?" "Kakak-kakak kamu lagi jalan-jalan pagi. Tadi pada minta makan McD." Yogi anggukan kepala, kemudian duduk di meja makan dan mulai menyantap sarapan paginya. Di meja makan sudah tersaji omelette, tumis sayur, nasi goreng singapura, dan juga kerupuk udang. Seorang pelayan mendekat mencoba menawarkan minuman apa yang diinginkan oleh Yogi. "Mau minum apa Pak?" "Tolong air putih anget aja Mbak." "Baik." Pelayan tersebut kemudian kembali ke dapur untuk mengambilkan air putih hangat permintaan tuannya. "Jadi mana perempuan yang kamu sukain itu? Mami harusnya udah balik hari ini, tapi sengaja nggak buru-buru ke Bali karena mau nungguin pacar kamu itu." Yesi bertanya kepada putra semata wayangnya. "Aku kemarin udah coba bujuk dia Mi, tapi dia belum mau datang ke sini." Yogi menjawab pertanyaan Yesi, kemudian dia melahap nasi goreng yang sudah ia ambil di atas piring makannya. Wanita itu kemudian menatap ke arah Yogi, merasa curiga dengan jawaban yang diberikan oleh Yogi. "Kamu benar kan? pacaran sama perempuan yang usianya nggak jauh dari kamu? Bukan sama anak kecil atau pacaran sama Jimmy kan?" "Ya ampun Mami! Mami masih percaya kayak gitu? Masih mikir kalau aku pacaran sama Jimmy?" Tentu saja ditanya seperti itu membuat Yogi tak terima. Karena selama ini dia benar-benar pria yang normal. "Syukurlah kalau gitu." Yesi mengusap d**a, merasa lega selama dengan penuturan putranya. Meski merasa kesal dengan pertanyaan sang ibu, Yogi memutuskan untuk kembali menyantap sarapan. Seharusnya dia bisa menikmati sarapannya itu dengan nikmat, tapi setelah mendengar pertanyaan Yesi tadi malah jadi sedikit merasa kesal. "Gimana kalau kita ke rumah dia aja? Mami penasaran banget nih. Lagian nanti malam kan Mami harus buru-buru balik ke Bali. Ponakan ponakan kamu itu nggak bisa lama tinggal di sini karena mereka juga harus sekolah besok." "Boleh, jadi Mami bisa langsung ketemu sama dia dan anaknya yang cantik banget." Yesi menganggukkan kepalanya, dia merasa senang sekali setelah mendengar persetujuan dari Yogi, karena hal ini adalah hal yang ia nantikan juga. Dan tentu saja setelahnya Yogi bersama Yesi memutuskan untuk ke rumah Rei. Keduanya terus tersenyum sumringah. Sampai mereka tiba di sana. Keduanya tak sempat berpapasan dengan Jun karena datang dari arah yang berbeda. "Mas siapa?" Yogi bertanya pada Rei yang kini berdiri mematung di depan pintu. "Mas Jun, tadi kebetulan Kakak aku ke sini Pak." Yogi senang ternyata bukan Tedi yang datang duluan. Mendengar sapaan yang diucapkan oleh Rei membuat Yesi sedikit terkejut karena terasa kaku sekali. "Pak?" Yogu jadi sedikit canggung. "Dia emang kaku kayak gitu Mi." "Ini ibunya Pak Yogi?" Rei bertanya, ia kemudian mencium tangan Yesi. "Saya Rei, Silakan masuk bu, tapi maaf rumahnya berantakan." Rei mempersilahkan, meskipun merasa aneh dengan keadaan yang ia alami ini. Tiba-tiba saja dihampiri ibu dari Yogi. Rei mempersilahkan masuk, diikuti langkah Yesi dan juga Yogi yang berjalan mengikuti masuk ke dalam rumah. "Silakan duduk sebentar ya Bu, saya bikinkan teh manis." "Kalau boleh aku mau ketemu sama Bebe," kata Yogi meminta. "Tunggu aku panggil sebentar ya Pak. Soalnya tadi dia lagi tidur." Rei lalu meninggalkan tempat itu, menuju dapur untuk membuatkan teh manis seperti rencananya. Yesi melirik ke arah putranya kemudian menyenggol badan Yogi dengan sikutnya. Wanita itu kemudian menatap Yogi dengan tatapan iseng. "Nggak nyangka selera kamu yang berisi ya?" Yogi hanya bisa tersenyum ke diri, pasalnya menyukai Rei sama sekali tak ada di dalam rencananya. Semua terjadi begitu saja karena kejadian malam itu. "Tapi cantik kan mi?" "Cantik, kelihatan rapi dan pintar juga." "Papi!" seruan Bebe membuat Yesi dan Yogi menoleh. Anak itu berlari, menghambur ke dalam pelukan Yogi. terlihat tenang sekali melihat Yogi yang sehat hari ini. "Papi sehat kan? Kemarin Papi sakit? Sekarang udah sehat kan?" Bebe khawatir sekali dengan kondisi Yogi. Melihat interaksi putranya dengan Strawberry membuat Yesi tersenyum. Senang juga rasanya, jadi tak perlu menunggu waktu lama untuk memiliki cucu dan melihat interaksi manis seperti ini. "Anak cantik ini namanya siapa?" "Kenalin ini eyang," kata Yogi memperkenalkan Yesi. Bebe dengan segera mencium tangan Yesi, lalu menjawab pertanyaan dari wanita itu. "Aku Strawberry Jillian, mami manggil Bebe." "Ah, Bebe. Bebe usia berapa Nak?" "Seven eyang." Bebe menjawab malu-malu. "Cantik kan Mi?" tanya Yogi. "Cantik, pinter lagi. Pokoknya asal kamu bahagia mami pasti dukung hubungan kalian berdua." Selama menunggu Rei, Yogi bersama Strawberry banyak mengobrol dan bermain teka-teki. Yesi Tak banyak bicara karena dia menikmati interaksi antara Bebe dan Yogi. Ia bisa membayangkan kalau putranya itu akan menjadi ayah yang baik untuk putra-putrinya kelak. "Maaf lama. Kebetulan tadi dispenser lupa dinyalakan. Jadi harus dimasak dulu." Rei menyajikan teh buatannya di atas meja. Setelahnya dia duduk di sofa yang berada di samping Yogi. "Nggak apa-apa kok. Saya senang di sini bisa main sama Bebe." Yesi berkata, kemudian melirik ke arah Bebe. " Iya kan cantik?" "Bebe sih paling senang kalau ada temennya Bu. Apalagi kalau ditanya-tanya, dia itu kan cerewet banget. Silakan diminum Bu." Yesi menikmati teh yang disajikan oleh Rei, setelahnya meletakkan kembali ke atas meja. "Mbak Rei sudah jadi single mom berapa lama?" "Kebetulan, Sejak saya hamil 5 atau 6 bulan saya Udah cerai Bu." Yogi memerhatikan terlihat kesedihan dari raut wajah Rei ketika sang Ibu bertanya seperti itu. Dan ia berpikir, Apakah Rei masih memiliki perasaan terhadap mantan suaminya? "Ibu nggak salah kan tanya seperti ini?" "Oh, nggak apa-apa kok Bu. itu kan pertanyaan biasa." Rei benar-benar tidak masalah dengan pertanyaan yang diajukan oleh Yesi tadi. Hanya saja ia sedikit ragu karena harus menjawab di hadapan putrinya. Yesi tenang karena sepertinya Rei adalah seorang wanita yang berpikiran cukup terbuka dan ia rasa itu cocok dengan Yogi yang berprofesi sebagai pebisnis. "Syukurlah, Ibu pikir dan takut kalau kamu tersinggung. Kemarin Yogi bilang, kalau dia udah usaha buat ajak kamu ke rumah tapi kamu nggak mau ikut. Kenapa?" "Sebenarnya, saya sendiri bingung dengan hubungan saya sama Pak Yogi. Sebenarnya saya belum menerima—" "Kamu enggak bisa menolak." Yogi menekankan. "Ingat—" Yogi yang mengatakan apapun Ia hanya menatap Rei seolah mengingatkan apa yang telah mereka lakukan berdua Rei jelas ingat, dan ia juga bingung dengan itu. Yesi tersenyum simpul, seolah mengetahui apa yang dimaksud oleh Yogi. "Yaudah kalau gitu terima saja ya Rei. Jadi gimana? Kapan kalian menikah?" **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD