BAB 1: DONE
Lampu sorot menyinari wajah Cora tanpa ampun.
Panasnya menembus riasan tebal yang menutupi kulitnya, membuat keringat dingin mengalir pelan di pelipis. Di hadapannya, lautan manusia membentang sejauh mata memandang. Delapan puluh ribu penonton memenuhi setiap sudut The Neon Coliseum, mengangkat lightstick berwarna hazel yang bergoyang mengikuti irama... yang seharusnya sudah dimulai.
Mikrofon emas di genggaman Cora terasa licin.
Seharusnya, intro musik sudah menggelegar sejak tiga puluh detik yang lalu. Seharusnya, drum sudah memecah keheningan, diikuti oleh deru gitar listrik yang membakar adrenalin penonton untuk lagu penutup, 'Eternal Shine'.
Tapi tidak ada suara.
Hanya dengung halus dari speaker yang bingung.
Di ruang kontrol backstage, Marcus Reed membanting tablet ke meja. Layar monitor menampilkan wajah Cora yang membesar, statis, menatap kosong ke arah kegelapan auditorium.
"Apa yang terjadi?" teriak Marcus, suaranya pecah di antara headset para kru. "Siapa yang memegang cue lagu terakhir? Kenapa tidak ada musik?"
"Tidak ada sinyal, Pak!" jawab teknisi suara, jari-jarinya menari panik di atas mixer. "Sistem tidak menerima perintah play. Dari panggung... ada perintah mute manual."
Marcus mengertakkan gigi. "Siapa yang berani? Cora? Matikan mic-nya! Sekarang!"
"Tidak bisa, Sir. Mic-nya live. Dia menyanyi."
Di atas panggung, Cora tidak mendengar kepanikan itu. Atau mungkin, dia mendengarnya dan memilih untuk mengabaikannya. Dia menarik napas dalam-dalam. Udara di paru-parunya terasa berat, berbau ozon dan debu panggung yang hangus.
Dia membuka mulut.
Tidak ada auto-tune. Tidak ada reverb. Tidak ada lapisan elektronik yang memoles setiap ketidaksempurnaan. Hanya suara manusia. Telanjang dan rapuh.
"I've worn this mask for ten long years..."
Suara itu melayang. Jernih dan menyayat.
Barisan depan penonton membeku. Seorang gadis remaja di sektor paling depan menutup mulutnya, mata melebar. Air mata sudah menggenang sebelum lirik kedua keluar. Ini bukan performa. Ini pengakuan dosa.
Nada pertama meluncur begitu pelan hingga seluruh stadion seakan lupa cara bernapas.
Barisan depan saling berpandangan.
Beberapa orang mulai mengangkat ponsel. Mereka mengira ini bagian dari pertunjukan. Namun semakin lama mereka mendengarkan, semakin terasa ada sesuatu yang berbeda.
Suara Cora tidak terdengar seperti seorang diva yang sedang tampil.
Ia terdengar seperti seseorang yang sedang mengucapkan selamat tinggal.
Cora melangkah satu langkah ke depan. Sepatu hak tinggi-nya mengetuk lantai dengan suara lirih. Mini skirt putihnya berayun sedikit, mengikuti gerakan pinggul yang biasa dia lakukan ribuan kali. Tapi malam ini, setiap gerakan terasa berbeda. Setiap inci kulit yang terbuka terasa seperti sedang melepaskan rantai.
Crop top berpayet di tubuhnya berkilau di bawah lampu sorot, memantulkan cahaya ke segala arah seperti pecahan cermin. Lengan dan kakinya yang terbuka menunjukkan setiap otot yang menegang, setiap urat yang berdenyut seiring nada yang dia keluarkan.
Dia tidak menatap kamera utama. Dia menatap ke arah kegelapan di sisi kiri panggung. Di sana, di balik tirai hitam yang tebal, ada sepasang mata abu-abu yang menatap balik.
Kael.
Pria itu berdiri diam. Tangan kanannya memegang timer digital. Angka-angka merah berkedip mundur.
00:45
Cora mengalihkan pandangan kembali ke penonton. Tangannya memegang kuat gagang mikrofon. Kulitnya terasa panas, tapi jantungnya dingin. Tenang. Seperti permukaan danau yang membeku di musim dingin.
"Smiled through the blood, swallowed the tears."
Dia melihat wajah-wajah di tribun atas. Mereka yang membeli tiket dengan uang tabungan setahun. Mereka yang membuat banner namanya. Mereka yang mencintainya bukan sebagai Coraline, tapi sebagai Cora. Produk, aset, dan milik bersama.
Rasa bersalah mencoba merayap naik dari perutnya. Tapi Cora menahannya. Dia ingat janji pada diri sendiri. Janji pada Kael. Janji pada Coraline kecil di Alabama yang hanya ingin bernyanyi tanpa harus menjual jiwanya.
"You loved the light, but not the shade..."
Di belakangnya, para penari mulai gelisah. Jake, head dancer, melirik ke arah stage manager di pinggir panggung. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Koreografer mengharuskan mereka bergerak sekarang. Tapi bergerak tanpa musik? Itu akan terlihat seperti kesalahan teknis.
Jake mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat pada penari lain untuk tetap diam. Ini bukan bagian dari naskah. Tapi instingnya berteriak bahwa ini lebih besar dari sekadar kesalahan.
"Now watch the promise that we made..."
Nada suara Cora naik. Oktaf demi oktaf. Tanpa bantuan instrumen, tenggorokannya harus bekerja dua kali lebih keras. Otot lehernya menegang. Urat halus di lengan bawahnya terlihat jelas di bawah sorotan lampu.
Dia tidak sedang bernyanyi untuk mereka. Dia sedang bernyanyi untuk melepaskan diri.
"Break... it... all..."
Kata terakhir itu diucapkan seperti pecahan kaca. Tajam. Memaksa.
Di ruang kontrol, Victor Hartmann berdiri dari kursi kulitnya. Wajah pria tua itu merah padam. Dia mengambil mikrofon komunikasi internal.
"Cora," suaranya dingin, menembus langsung ke earpiece Cora. "Ini bukan bagian dari kontrak. Turunkan mikrofon. Sekarang. Atau aku pastikan kamu tidak akan pernah bekerja di industri ini lagi."
Cora mendengar suara itu. Jelas. Di telinganya, seperti bisikan ular di taman Eden.
Dia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah dia tunjukkan di sampul majalah. Senyum yang penuh dengan kelegaan.
"I'm done playing pretend."
Lampu sorot di atas kepala Cora mulai berkedip. Bukan karena kesalahan listrik. Itu adalah sinyal.
Kael di belakang panggung menekan tombol di saku jaket hitamnya.
"This curtain calls my end."
Penonton mulai bergemuruh. Bukan tepuk tangan. Tapi suara bingung. Suara ribuan orang yang menyadari sesuatu yang salah sedang terjadi. Ada yang berdiri. Ada yang berteriak memanggil nama manajer mereka.
"No more applause, no more light."
Cora mengangkat tangan kirinya. Telapak terbuka. Menghadap ke arah lampu sorot utama di atasnya. Pose seorang konduktor yang menghentikan orkestra.
"I'm done... tonight."
Dia menahan nada terakhir. Panjang. Getarannya memenuhi seluruh arena. Bulu kuduk di lengan penonton merinding serentak. Ada sesuatu yang magis dalam suara itu. Sesuatu yang final.
00:10
Timer di tangan Kael berkedip cepat.
Cora menutup mata. Dia membayangkan Alabama. Membayangkan bau tanah basah setelah hujan. Membayangkan suara angin di ladang jagung ayah mereka. Membayangkan tangan Kael yang kasar memegang pinggangnya di kamar rias yang sempit.
"Thank you... for loving me."
Bisikan itu tertangkap mikrofon. Menggema lebih keras dari teriakan sebelumnya.
00:03
00:02
00:01
00:00
BLAR.
Gelap.
Seluruh lampu stadion padam.
Gelap gulita.
Tidak ada satu pun sorotan yang tersisa.
Hanya suara ribuan orang yang serempak menahan napas.
Lalu, kepanikan meledak.
"CO-RA! CO-RA! CO-RA!"
Teriakan itu bergema, memantul di dinding beton stadion. Mereka mengira ini bagian dari pertunjukan. Penutup yang dramatis. Mereka menunggu lampu menyala kembali. Menunggu Cora muncul dari lift tersembunyi dengan kostum baru.
Lampu utama menyala kembali lima belas detik kemudian.
Hening. Panggung itu kosong.
Tidak ada jejak kaki. Bahkan stand mikrofon yang tadi dipegang Cora pun jatuh tergeletak miring di lantai, bergulir pelan hingga berhenti di tepi panggung.
Mikrofon itu masih menyala. Lampu indikator merahnya berkedip kecil, seperti jantung yang masih berdetak meski tubuhnya sudah tiada.
Jake berlari ke tengah panggung. Sepatu sneaker-nya berdecit keras di lantai licin. Dia menoleh ke kiri, ke kanan, menunduk memeriksa lubang lift.
"Tidak ada!" teriak Jake ke headset-nya. Suaranya gemetar. "Dia tidak turun! Dia tidak ke samping!"
Di ruang kontrol, Victor membanting gelas kopinya hingga pecah. Pecahan keramik berhamburan ke karpet mahal.
"Cari dia!" raung Victor. "Kirim keamanan ke semua pintu! Cek kamar ganti! Cek toilet! Cek ventilasi! Dia tidak mungkin menguap!"
"Sir," teknisi suara mengangkat wajah pucatnya. "Sistem keamanan... semua kamera di backstage looping selama dua menit terakhir. Ada yang meretas."
Victor terpaku. Matanya menyipit. "Siapa?"
Tidak ada yang menjawab. Semua orang terlalu takut untuk bernapas.
Di balik tumpukan kotak peralatan di sisi paling gelap backstage, Kael menurunkan Hoodie-nya. Dia melihat monitor yang menampilkan kekacauan di panggung. Wajahnya datar. Tidak ada kemenangan yang teriak di sana. Hanya kelegaan yang lelah.
Dia merogoh saku, mengambil sebuah earpiece kecil. Mematikan frekuensinya.
Selesai.
Dia berbalik, berjalan menjauh dari keributan, menuju pintu keluar layanan yang sudah dia buka kunci sejak satu jam lalu. Langkahnya tenang. Teratur. Tidak ada yang memperhatikan pria berpakaian hitam biasa yang berjalan di tengah badai kepanikan.
Di panggung, Marcus mencoba mengambil alih situasi. Dia berlari naik ke panggung, keringat membasahi kemejanya. Dia mengambil mikrofon yang tergeletak.
"Ehm... teman-teman..." suara Marcus bergema, canggung. "Mohon tenang. Ini... ini hanya gangguan teknis. Cora... Cora butuh istirahat sebentar."
"BOOOO!"
Penonton tidak menerima itu. Teriakan kecewa mulai terdengar. Beberapa fans di barisan depan menangis. Mereka tahu. Insting mereka tahu. Ini bukan gangguan teknis. Ini adalah perpisahan.
Seorang gadis remaja di sektor tengah memegang lightstick berwarna hazel nya erat. Cahayanya berkedip lemah. Dia menatap panggung kosong itu, air mata mengalir deras di pipinya.
"Dia pergi, kan?" bisik gadis itu pada teman di sebelahnya. "Dia benar-benar pergi."
Temannya tidak menjawab. Dia hanya menatap layar ponselnya. Video detik-detik Cora menghilang sudah diunggah. Dalam lima menit, itu akan menjadi tren nomor satu di seluruh dunia.
#LosingCora.
#WhereIsCora.
#Done.
Di dalam van hitam yang terparkir di lorong belakang stadion, mesin menyala halus.
Cora duduk di kursi penumpang. Dia sudah melepas crop top berpayet dan mini skirt-nya. Sekarang dia hanya mengenakan kaos longgar hitam milik Kael dan celana jins. Rambut panjangnya yang tergerai berantakan, menutupi sebagian wajahnya.
Dia menatap jendela gelap. Di kejauhan, lampu stadion masih terlihat berkedip-kedip seperti kota kecil yang sedang sekarat.
Kael masuk ke kursi pengemudi. Dia menutup pintu, mengunci semua pintu otomatis. Suara kunci terdengar final di dalam kabin yang sempit.
Dia menyalakan mesin. Van itu meluncur perlahan, menjauh dari keributan, menyatu dengan lalu lintas malam New York yang tidak pernah tidur.
"Cora," panggil Kael. Suaranya rendah.
Cora tidak menoleh. Dia masih menatap lampu stadion yang semakin kecil di spion tengah.
"Aku mendengar mereka," bisik Cora. Suaranya serak. Sisa dari nyanyian tadi masih terasa gatal di tenggorokannya. "Mereka masih memanggil."
Kael mengemudi dengan satu tangan. Tangan lainnya meraih tangan Cora yang terkepal di atas pangkuan. Jari-jari Cora dingin. Kael menghangatkannya dengan genggaman tegas.
"Biarkan mereka memanggil," kata Kael. Matanya tetap menatap jalan raya yang lurus ke depan. "Mereka memanggil Cora. Bukan kamu."
Cora akhirnya menoleh. Mata hazel-nya bertemu dengan mata abu-abu Kael di pantulan kaca spion. Ada air di sana. Tapi bukan air mata sedih. Itu air mata lega.
"Aku takut, Kael," aku Cora. Suaranya pecah. "Bagaimana jika mereka membenciku?"
Kael menekan rem perlahan saat lampu merah menyala. Dia menoleh sepenuhnya ke arah Cora. Tangan kanannya melepaskan setir, mengusap pipi Cora. Ibu jarinya menyapu sisa makeup yang luntur di bawah mata wanita itu.
"Mereka mungkin membenci Cora," kata Kael pelan. "Tapi Coraline... Coraline akhirnya hidup. Dan itu satu-satunya yang penting."
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Kael menginjak gas. Van itu melaju lebih cepat, meninggalkan stadion, meninggalkan lampu sorot, meninggalkan ribuan orang yang masih berteriak mencari hantu.
Di radio mobil, siaran berita darurat mulai terdengar.
"Breaking News. Diva sensasional Cora dilaporkan hilang setelah konser malam ini di The Neon Coliseum. Agency belum memberikan keterangan resmi..."
Cora memejamkan mata. Dia membiarkan suara penyiar radio itu menjadi latar belakang. Dia merasakan getaran mesin van di bawah punggungnya. Realitas. Nyata.
Dia menarik napas. Udara di dalam van berbau kopi dingin dan kulit jaket Kael. Bau kebebasan.
"Kael?"
"Ya?"
"Jangan lepaskan tanganku."
Kael tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya memperkuat genggamannya. Jari-jari mereka saling mengunci erat.
Di belakang mereka, kota New York terus bersinar. Tapi bagi Cora, cahaya itu sudah mati.
Dan untuk pertama kalinya, kegelapan terasa seperti rumah.