Bertahan demi anak
“Kalau kamu memang sudah bosan jadi istriku, kenapa nggak sekalian minta cerai?”
Piring porselen buatan tangan dari Perancis yang diusap Miranda dengan kain lap berhenti bergeser. Suara Hasta menggema di ruang makan yang tinggi, dan memantul di antara lampu gantung mewah itu. Miranda melipat kain lapnya dengan rapi, meletakkannya di samping mangkuk buah, lalu tertawa kecil.
“Lucu sekali.”
Hasta merapikan manset kemeja mahalnya, memutar jam tangan emas yang melingkar di pergelangan tangan dengan gerakan tidak sabar. “Apa yang lucu?”
“Kamu yang selingkuh, Hasta. Kamu yang bolak-balik tidur dengan perempuan lain. Tapi sekarang kamu yang tanya kenapa aku nggak menceraikanmu?”
Hasta mengembuskan napas kasar. Ia menarik kursi kayu mahoni itu, duduk dengan punggung tegak, lalu menuangkan air putih dari teko kaca ke gelasnya sendiri tanpa menawari Miranda.
“Jangan mulai lagi.”
“Mulai apa?” Miranda menyilangkan tangan di depan d**a, berdiri tetap kokoh di seberang meja. “Mengingatkan kamu sama kenyataan?”
“Aku sudah bilang berkali-kali, itu semua nggak ada artinya.” Hasta menyesap airnya, menaruh gelas ke alasnya hingga terdengar denting halus.
“Nggak ada artinya?”
Miranda menahan senyum sinisnya. Pengakuan itu sudah berubah menjadi alasan usang yang dihafalnya di luar kepala. Perempuan pertama di hotel bintang lima Bali tidak berarti apa-apa.
Model muda yang diajaknya ke Singapura tidak berarti apa-apa. Sekretaris baru yang meninggalkan jejak lipstik di kerah kemejanya juga tidak berarti apa-apa.
Di kalangan keluarga besar mereka, perceraian adalah cacat reputasi yang mahal harganya. Miranda mengusap cincin berlian bernilai ratusan juta di jari manis, perhiasan indah yang kini terasa seperti barang yang tak ada harganya.
“Aku bertahan cuma buat Mahatma,” kata Miranda. Suaranya tidak lagi meninggi, melainkan datar dan dingin. “Bukan buat kamu, bukan juga buat menjaga nama baik keluargamu.”
Hasta menatap istrinya dengan tatapan meremehkan yang biasa ia gunakan saat menghadapi lawan bisnis di papan catur perusahaannya. “Tentu saja, Mahatma butuh keluarga yang utuh, istriku sayang. Dia calon penerus utama. Kamu pikir dia bisa dihormati di lingkaran kita kalau orang tuanya bercerai cuma karena persoalan sepele begini?”
“Sepele?” Miranda menyentak napasnya yang sudah memburu, matanya melebar seketika. “Kamu bilang pengkhianatanmu bertahun-tahun itu sepele?”
Hasta memilih tidak menjawab. Ia malah meraih ponselnya, mengetik pesan singkat dengan ibu jari tanpa mengalihkan pandangan dari layar, seolah keberadaan istrinya di ruang makan itu tidak lebih penting dari jadwal rapat esok pagi.
Sikap meremehkan yang amat tenang itu memukul d**a Miranda jauh lebih keras daripada bentakan kasar yang dulu sering dilayangkan sang suami padanya.
“Aku capek, Hasta.”
Langkah kaki Miranda melambat saat ia berjalan mengitari meja. Ia tidak lagi menyembunyikan getar di jemarinya.
Bertahun-tahun ia memoles penampilan sebagai istri konglomerat yang sempurna, menyambut tamu-tamu VIP di ruang tamu mewah rumah mereka, dan berpura-pura tidak mencium aroma parfum asing yang menempel di jas suaminya setiap kali lelaki itu pulang larut malam.
Hasta akhirnya meletakkan ponselnya di meja, mendongak menatap Miranda yang kini berdiri hanya selangkah di samping kursinya.
“Aku sudah menghabiskan bertahun-tahun mencoba jadi istri yang bisa kamu banggakan,” ujar Miranda pelan. Ia melepas cincin pernikahan dari jarinya, lalu meletakkannya tepat di sebelah gelas air minum Hasta. “Menutup mata setiap kali kamu injak-injak harga diriku. Memaafkan tiap kali kamu pulang dengan bau perempuan lain.”
Hasta menatap lingkaran berlian di meja itu, lalu mendongak menatap wajah istrinya. Ada kilat keterkejutan yang tertahan di matanya, namun dagunya tetap terangkat tinggi, enggan menurunkan gengsi.
“Miranda…”
“Tapi aku sudah nggak bisa terus-terusan seperti ini.” Ia mendesiskan kalimat itu tepat di depan wajah sang suami, agar setidaknya pria itu mengerti.
Pintu ganda ruang makan yang terbuat dari kayu jati mendadak terbuka. Suara engselnya memotong ketegangan yang belum usai. Langkah kaki yang terburu-buru bergema dari arah foyer, disusul denting kunci mobil yang ditaruh asal di atas meja konsol.
“Mama?”
Miranda langsung menarik napas dalam-dalam, mengibaskan tangannya di udara seolah menyapu sisa pertengkaran mereka, lalu memoles senyum hangat di bibirnya.
Perdebatan panas yang baru saja berlangsung surut seketika. Hasta berdehem singkat, membetulkan letak jam tangannya, dan kembali bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Mahatma muncul di ambang pintu sambil menggeletakkan tas ransel kulitnya ke atas salah satu kursi. Di belakangnya, berdiri seorang pria muda yang langsung menyita perhatian seluruh ruangan.
Pria itu bertubuh tinggi dan tegap, dibalut kaus hitam pas badan yang memperlihatkan lekuk d**a serta lengan atletisnya. Rambut kehitamannya sedikit berantakan, membingkai wajah tampannya dengan rahang tegas yang sangat memikat.
“Ma, Pa, aku pulang.” Mahatma melangkah masuk, menyalami ibunya, lalu menepuk bahu pria di sampingnya.
Miranda melangkah maju untuk menyambut putranya, tetapi pandangannya tidak sengaja bertabrakan langsung dengan mata pria di belakang Mahatma.
Sorot mata yang dalam itu mengunci tatapannya tanpa ragu. Pria muda itu tidak sekadar mengangguk sopan seperti teman-teman Mahatma biasanya, melainkan memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan intensitas yang membuat napas Miranda tertahan seketika.
Ada sensasi aneh yang mendadak berdesir di dadanya, sebuah ketertarikan spontan yang langsung membuat tubuhnya kaku, dan sedikit salah tingkah.
Pria muda itu tampak sama terpukaunya. Matanya terpaku pada sosok Miranda yang anggun, sebelum akhirnya ia berkedip cepat, menyadari kekurangajarannya, dan membasahi bibirnya sendiri dengan canggung.
“Salam kenal, Om, Tante. Saya Biantara Kartakusumah, kakak tingkat Mahatma di Fakultas Ekonomi.” Pria itu mengulurkan tangan. Mengingat nama belakang yang sangat familial di lingkaran bisnis papan atas Jakarta, sosoknya jelas datang dari trah keluarga kaya lama yang setara dengan keluarga mereka.
Hasta hanya menatap uluran tangan itu sekilas, memberikan jabat tangan singkat dan terkesan formalitas semata. “Hasta Prawiroatmodjo, Papanya Mahatma. Salam kenal, Bian.”
Miranda mengambil alih situasi sebelum keheningan menjadi canggung. Ia mengulurkan tangan, menyentuh jemari Biantara dengan remasan lembut yang ramah, berusaha keras menutupi getaran kecil di tangannya sendiri.
“Miranda. Senang bertemu kamu, Biantara. Tante sering dengar Mahatma cerita soal katingnya yang suka bantu dia di kampus. Ayo duduk, Tante panggilkan si Bibi dulu buat siapin minum.”
“Terima kasih banyak, Tante. Nggak perlu repot-repot,” jawab Biantara dengan nada sopan, meski matanya sempat tertahan sepersekian detik di bibir Miranda sebelum kembali menatap mata wanita itu.
Sementara itu, Mahatma sudah melangkah santai ke arah pantry bersih di sudut ruang makan untuk menuangkan air dingin. Namun, ia tiba-tiba menghentikan gerakannya. Pandangannya tidak sengaja tertuju ke sisi lain meja makan, tepat di sebelah gelas milik ayahnya.
“Ma? Cincin Mama kok ditaruh di situ?” Mahatma menunjuk lingkaran berlian yang tergeletak begitu saja di sana. “Nanti hilang atau terselip gimana? Dari dulu kan nggak pernah dilepas.”
Miranda sempat mematung. Jemari tangan kirinya secara refleks meraba pangkal jari manisnya yang kini terasa kosong dan tela-njang.
Sebelum Miranda sempat menyusun kebohongan, Hasta sudah lebih dulu memotong dengan kekehan ringan yang amat natural. Hasta beranjak lalu merangkul bahu istrinya dari samping, menarik Miranda mendekat dengan gestur protektif yang dipaksakan.
“Mamamu cuma lagi ngambek, Mahatma,” ujar Hasta santai sambil mengusap lengan Miranda, bertindak seolah mereka adalah pasangan paling harmonis di dunia.
“Mama ngelepasin cincin itu karena bilang model berliannya sudah ketinggalan zaman. Katanya mau minta ganti yang ukurannya jauh lebih besar minggu depan di Singapura.”
Hasta lalu menatap Biantara dengan senyum tipis yang sarat wibawa. “Biasa, Bian. Urusan wanita memang selalu soal perhiasan yang kurang besar. Nggak jauh-jauh dari itu.”
Miranda menahan napas, merasakan kehangatan palsu dari cengkeraman tangan Hasta di bahunya yang terasa diremas dengan erat.
Ia tidak menepis tangan itu di depan anak dan tamunya, melainkan melipat tangan di depan d**a dan tertawa kecil, melakoni sandiwara yang sudah ia kuasai bertahun-tahun.
“Iya, Mama minta itu tadi. Temen arisan Mama soalnya sudah banyak yang punya set perhiasan terbaru,” sahut Miranda cepat. Matanya menyapu wajah Mahatma yang tampak percaya, lalu tanpa sengaja kembali beradu pandang dengan Biantara.
Pria muda itu memperhatikan interaksi penuh kepura-puraan di depannya dengan cermat. Biantara tidak tersenyum. Sorot matanya tajam, seolah bisa membaca ketegangan terselubung dan kepalsuan yang baru saja dirangkai oleh pasangan suami istri di hadapannya.
“Mahatma, ajak Biantara ke ruangan kamu dulu. Biar Mama minta si Bibik bawain cemilan ke sana,” sambung Miranda, berusaha mengalihkan konsentrasi pria muda itu.
“Siap, Ma. Yuk, Bian, kita lanjut ngobrol di kamar aja.” Mahatma menepuk punggung Biantara, mengarahkannya keluar dari ruang makan.
Biantara mengangguk sopan pada Hasta, lalu menatap Miranda sekali lagi sebelum berbalik. “Permisi, Tante, Om.”
Saat kedua anak muda itu melangkah pergi, Miranda membiarkan senyum ramahnya memudar sepenuhnya. Ia membuang napas perlahan, meratapi tatapan Biantara yang entah mengapa masih tertinggal di pikirannya.
"Lepaskan tanganmu, Hasta. Menjijikkan," sentak Miranda pada tangan suaminya itu.