Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang masih selalu sama di setiap harinya. Penjagaan berlapis serta pengujian loyalitas. Setiap sudut rumah diawasi, setiap nama yang masuk dan keluar dicatat, setiap napas terasa seolah sedang dihitung di setiap menitnya. Namun yang ditunggu, tak pernah datang. Serangan yang sudah mereka antisipasi tidak pernah terjadi. Lima tahun berlalu seperti bilah pisau yang diasah perlahan, dan di tengah semua itu, Damian tumbuh. Usianya kini sudah dua belas tahun. Tubuhnya lebih tinggi, bahunya mulai membentuk garis tegas. Matanya pun tak lagi memantulkan kepolosan seorang anak. Sorotnya tajam, karena ia mewarisi mata Levon yang penuh perhitungan. Damian kini tak lagi sekedar dijaga. Ia ikut berjaga. Ia tahu jadwal patroli. Ia tahu siapa berdiri di mana.

