Benar saja. Dua sniper di atap yang sejak tadi menjadi ancaman tak kasatmata, mendadak tak lebih dari bayangan yang terlambat. Ledakan-ledakan kecil mulai bermunculan hampir bersamaan di struktur paling atas bangunan. Darco, sambil berlari tertatih, melemparkan bom-bom ke titik-titik penyangga yang hanya ia ketahui. Langit malam menyala sesaat. Beton retak. Baja-baja berdentuman. Atap bangunan runtuh seperti rahang raksasa yang menutup paksa. “Sniper—!” teriak seseorang. Tak ada lagi tembakan dari atas. Dua sosok terlempar keluar dari lantai tertinggi, tubuh mereka jatuh berputar-putar di udara sebelum menghantam aspal dengan bunyi akhir yang mengerikan. Ancaman yabg tdi begitu nyata, kini lenyap seketika, dikubur oleh puing dan api. Darco berlari dan sama sekali tidak menoleh. Darah

