Ellara tidak langsung menjawab. Ia tetap memandang keluar jendela, ke arah cahaya lampu yang berpendar samar di balik kaca buram. Musik dari luar terdengar seperti gema yang jauh, teredam oleh dinding tebal dan keputusan yang baru saja lahir di dalam dadanya. Lalu perlahan, ia mengangguk. Gerakan kecil itu nyaris tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat Levon memahami segalanya. “Kau tidak ragu lagi,” ucap Levon pelan, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan. Ellara berbalik. Wajahnya kini tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang barusan menerima dua kenyataan besar sekaligus. Tentang hidup di dalam rahimnya. Dan tentang perang yang menanti di depan. “Tidak,” jawabnya singkat. “Aku tidak ragu lagi.” Levon menatapnya dalam. Ia mengenal Ellara. Jika perempuan itu sudah mengambil

