Damian melangkahkan kaki keluar dari bangunan tua yang selama ini menjadi penjara sekaligus pelindungnya. Udara luar terasa berbeda baginya, jauh lebih pengap dari yang ia rasakan.. Ini adalah napas pertama kebebasannya setelah bertahun-tahun disembunyikan dari dunia. Levon berdiri di sampingnya, menatap putranya dengan campuran kebanggaan dan kekhawatiran. "Sudah siap?" "Untuk apa?" tanya Damian datar. "Untuk pulang." Damian menoleh, tatapannya tajam. "Pulang? Aku bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di sana, dan Papa memintaku pulang?" "Tapi darahmu sudah mengalir di setiap sudutnya," jawab Levon. "Sudah waktunya kau melihat apa yang selama ini aku siapkan untukmu." Sebuah konvoi mobil hitam mewah telah menunggu. Damian masuk ke dalam salah satunya tanpa berkata apa-apa. Perjalana

