Pagi belum sepenuhnya merekah ketika api terakhir di lokasi baku tembak itu dipadamkan. Asap hitam masih menggantung rendah di udara dan menempel di paru-paru kota. Di antara puing besi dan kaca, dua tubuh tergeletak di sana tanpa nyawa. Di samping tubuh Katarina yang sudah hangus, Daniel mengakhiri Vincent dengan cepat. Tak ada teriakan panjang, tak ada doa. Hanya satu keputusan dingin, satu tarikan pelatuk, dan satu lubang tepat di dahi. Daniel berdiri tegap, menahan napas, menunaikan titah yang tak pernah ia pertanyakan. Darah menetes, mengalir di aspal yang kini berabu, lalu berhenti seperti kisah Vincent yang dipaksa tutup. “Aku selalu tahu,” katanya lirih dengan senyum tipis menoreh di bibir. “Levon akan memilih perang.” "Dan peluru telah menjawabnya," lanjut Daniel. Pagi itu, s

