Di rumah sakit, Evelyn mulai menggila. Dia menghubungi Leroy berkali kali tapi nyatanya ponselnya tak aktif.
"Sialan kau Zia, kau sudah merebut semua nya dariku. Bahkan Leroy saat ini mengabaikan ku!!"
Evelyn berteriak seperti orang kesetanan.
Alvaro sejak tadi sudah memperhatikan semua yang dilakukan Evelyn dari video CCTV. Tak ada yang tahu jika ruangan Evelyn di pantau oleh CCTV. Semua itu dilakukan Alvaro semenjak dia tahu ada yang berbeda dari wanita itu.
"Apa yang kupikirkan ternyata benar, wanita itu tak sebaik yang selama ini terlihat. Astaga, untung tuan muda sudah menikah dengan nona Zia. Dia benar benar terselamatkan." gumam Alvaro.
Anak buah Leroy pun setuju dengan pemikiran Alvaro saat ini.
Sementara itu di rumah Zia, Leroy terus terusan bersin sejak keluar dari kamar mandi.
"Kau kenapa? Kau sakit?"
Zia mendekati Leroy yang terus menggosok hidungnya sampai terlihat merah.
Leroy membeku ketika Zia tiba tiba menyentuh keningnya untuk memeriksa suhu badannya.
"Kau tak demam lalu kenapa bersin terus terusan?"
Leroy masih diam di tempatnya sampai Zia akan berbalik barulah Leroy menarik pinggang Zia sampai menabrak d**a bidangnya.
"Leroy.... kau?"
Leroy masih setia memeluk pinggang Zia tanpa ingin melepaskan.
"Aku tak sakit, dan aku juga tak demam. Tapi sepertinya ada yang sedang membicarakan ku."
"Hah? Memang masih ada hal seperti itu?"
Leroy melihat ekspresi Zia dengan perasaan aneh.
Zia benar benar terlihat baru tahu jika ada hal seperti itu. Dan ekspresi wajah itu terlihat sangat lucu.
"Kau benar benar tak tahu jika ada hal seperti itu?"
Zia kembali berkedip lucu, lalu dia memang tak pernah ingat jika ada hal hal seperti itu.
Zia yang sadar jika posisinya masih berada dalam pelukan Leroy pun mendorong tubuh Leroy pelan.
"Kau mengada ada, memangnya ada hal seperti itu di dunia ini? Mungkin saja kau sedang alergi mencium sesuatu."
Cup....
Mata Zia membulat sempurna, bisa bisanya Leroy mencuri satu ciuman dari nya.
"Kalau mencium yang ini, tak akan membuat alergi sama sekali."
Zia kembali ingin protes tapi Leroy memeluknya lebih erat.
Akhirnya Zia memilih menyerah dan membiarkan Leroy terus memeluknya. Mata Zia lagi lagi melotot ketika tiba tiba tubuhnya melayang.
"Leroy, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!!" pekik Zia keras.
Leroy membawa Zia naik ke atas ranjang lalu memeluk Zia erat.
"Tidur sayang, kalau kau masih berteriak aku tak menjamin besok pagi kau bisa berjalan dengan normal." ucap Leroy dengan suara yang serak.
Zia langsung terdiam, dia tak memberontak lagi. Leroy yang melihat kediaman Zia langsung tersenyum tipis. Dia sempat mencium kepala Zia sebelum dia sendiri menutup mata karena lelah.
Perlahan Zia mencoba menutup matanya karena tubuhnya memang sudah tak bisa di ajak untuk sekedar berdebat.
"Dia jika menurut seperti ini, terlihat seperti kelinci yang imut. Tapi ketika matanya terbuka, astaga....benar benar membuatku sakit kepala. Papa dan mama menjodohkan ku dengan wanita yang bisa membuat ku naik darah setiap hari." batin Leroy.
Malam itu, malam kedua setelah pernikahan mewah mereka. Tanpa disadari hati mereka mulai menerima satu sama lainnya.
#
Keesokan paginya, Leroy sudah turun ke bawah dengan pakaian yang sudah rapi. Hanya ada kemeja juga celana panjang tanpa jas seperti biasa.
"Kau sudah bangun? Dimana istrimu?"
"Masih tidur mom, mungkin Zia masih lelah." jawab Leroy sedikit ambigu.
Tapi Leroy tak menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh kedua mertuanya.
Sementara Mahika dan Arion saling lirik mencoba bicara lewat lirikan mata itu.
Mahika juga memberikan secangkir kopi kepada Leroy sama seperti milik Arion. Dan tak lama Zia turun dengan wajah bantalnya. Mahika yang melihat itu menggelengkan kepalanya pelan. Bisa bisanya Zia seperti itu disaat dia sudah menikah.
"Zia, apa yang kau lakukan? Kenapa turun masih belum rapi?"
Zia yang awalnya masih mengantuk membuka matanya lebar.
"Memang nya kenapa?"
"Kau lupa kalau kau sudah menikah, dan lihat ini. Bahkan suamimu saja sudah rapi. Tapi kau masih belum mandi, apa kau tak malu?"
Wajah Zia langsung berubah masam ketika mendengar Mommy nya mengomel.
Zia berdecak kesal lalu kembali naik ke kamarnya.
"Leroy, tolong jangan dimarahi mungkin dia belum terbiasa dengan semua itu."
"Tak apa mom, aku mengerti. Selama kami memang tidur larut. Ada banyak hal yang harus kami urus."
Mahika mengangguk mengerti, dia lalu melanjutkan menyiapkan sarapan untuk semuanya.
"Bagaimana urusan mu dengan wanita itu?"
Arion enggan menyebut nama Evelyn, tapi demi keberlangsungan rumah tangga putrinya dia tetap akan ikut campur. Sampai Leroy benar benar selesai dengan masa lalunya. Meskipun terkesan memaksa tapi itu semua demi kebaikan Leroy sendiri.
"Dad, terima kasih sudah menjaga ku dan Zia. Aku akan menyelesaikan nya secepat mungkin. Dan maaf jika aku sempat berprasangka buruk dengan kalian. Selama ini aku terlalu buta dengan semua hal di sekitarku."
Arion tersenyum tipis, dia senang ketika Leroy kembali menyadari kesalahannya.
"Kau lebih mengenal orang tua mu seperti apa Leroy, kau semakin dewasa. Tanggung jawab mu semakin besar mengingat kau juga putra satu satunya. Dan masalah wanita itu sepertinya Zia lebih cepat mempunyai semua informasi nya dari padamu."
Leroy mengakui semua kecepatan Zia dalam melindungi dirinya sendiri.
Dan mungkin setelah ini dia akan belajar banyak hal dari istri mungilnya itu.
"Dia sudah terbiasa dengan hal hal seperti itu Leroy, mengingat dia menyandang nama besar orang tuanya. Ditambah lagi juga pekerjaannya. Jika di lengah akan ada banyak orang yang mencelakainya."
Leroy mengangguk setuju. Tak lama, terlihat Zia sudah mandi dan rapi. Leroy menarik kursi di sebelahnya untuk di duduki Zia.
"Masih lelah?"
Lagi lagi pertamanya Leroy terlalu ambigu untuk di dengar.
Zia hanya menggeleng, dia meriah s**u hangat di depannya dan meneguknya sampai tinggal separo.
"Jangan tunda tunda ya sayang, Daddy dan Mommy sudah semakin tua. Jadi cepat kasih kami cucu yang lucu." celetuk Mahika.
Byur.....
Uhukkk....
Zia tersedak s**u hangatnya. Leroy yang panik menepuk pelan punggung Zia.
"Mommmm......" protes Zia.
Mahika hanya terkekeh melihat wajah kesal Zia.
"Kau tak apa apa?" tanya Leroy panik.
Zia menggeleng, Zia sudah memasang wajah cemberutnya ketika Mahika terus menggodanya.
Ada rasa hangat yang menjalar di hati Leroy. Selama bersama Evelyn, dia tak menemukan itu semua. Bukan bermaksud membandingkan tapi rasanya sangat berbeda jauh. Setiap bersama Evelyn yang akan di bahas hanya mengenai semua kebutuhan Evelyn. Tanpa Evelyn ingin bertanya apa yang dirasakan Leroy sebenarnya.
"Segera sarapan, aku akan mengantarmu ke tempat pemotretan. Setelahnya aku akan ke rumah sakit."
Tubuh Zia menegang, dia menggenggam sendoknya kuat.
Leroy yang melihat itu tersenyum samar. Dia lalu meraih tangan Zia dan menggenggam nya lembut.
"Jangan berpikir yang macam macam, aku hanya menyelesaikan semua administrasi nya. Dan aku butuh bertemu dokter itu untuk memastikan semuanya. Kita semalam sudah membahas ini bukan?"
Mahika dan Arion mendengarkan Leroy tanpa menyela.
Ada perasaan lega di hati Arion. Dia melihat wajah Leroy yang bersungguh sungguh saat ini.
"Hmm, kalau kau sibuk aku bisa minta Natalie untuk menjemput ku."
"Tidak, kau ku antar dan tak ada penolakan."
to be continued