Bab 1

1009 Words
"Jangan melakukan kesalahan, ingat semua orang mengawasi kita malam ini." Sebuah suara berat berbisik di telinga seorang gadis muda yang sejak tadi terus tersenyum manis kepada tamu tamu yang sedang menyalaminya. Dia tak menjawab ucapan laki laki yang ada disebelahnya yang sialnya adalah suami sahnya beberapa jam yang lalu. "Kau tenang saja tuan Leroy, lebih baik kau khawatirkan kekasihmu yang ada disana. Kasihan sekali dia, sepertinya dia sudah ingin menangis sejak tadi!" Leroy mengeratkan rahangnya mendengar semua perkataan istrinya itu. Dia lalu melihat ke satu sudut dimana seorang wanita sedang melihatnya dengan tatapan yang sendu. Leroy tanpa sadar meremas kuat pinggang Zia, wanita yang baru saja menjadi istri sahnya itu. Zia, meringis menahan sakit karena pinggangnya di cengkeram kuat oleh Leroy. "Kau gila, kau membuatku kesakitan. Jika kau kasihan kepadanya, pergilah kesana. Aku tak keberatan!" Zia mengatakan semua itu dengan nada datarnya. Tak hanya itu, saat Leroy menoleh dia melihat Zia menatapnya tajam. Bukan tatapan seorang cemburu tapi tatapan tajam seseorang yang sedang marah karena kesakitan. Leroy mendengus lalu melepaskan pinggang Zia. Saat Leroy kembali menoleh, dia sudah tak melihat kekasihnya itu berada disana. "Sial, kenapa malah aku terjebak disini. Evelyn, maafkan aku. Jika aku tak melakukan ini, mereka akan terus menyusahkan mu." batin Leroy. Zia yang menahan kesal karena ulah Leroy memilih meninggalkan pelaminan. Dia mengatakan kepada orang tuanya jika dia sudah lelah. Bersyukur orang tuanya mengijinkan Zia pergi terlebih dahulu. Leroy yang tersadar jika istrinya pergi meninggalkan nya sendiri di pelaminan mendengus kesal. Lantaran setelah itu dia harus mengurusi sisa tamunya yang masih banyak. Sedangkan di satu sisi, Zia sedang mencari udara segar sampai seseorang berjalan menghampirinya. "Sudah puas kah kau ambil kekasihku?" Tanpa menoleh pun Zia tahu siapa yang bicara dengan nada datar dan terdengar menyebalkan bagi telinga Zia. Zia tak ingin peduli, karena serangkaian pernikahan yang di gelar oleh orang tua dan mertuanya benar benar menguras tenaganya. Tapi saat dia ingin melangkah pergi, bahunya di tarik oleh wanita itu. Zia yang tak siap goyah dan hampir saja terjatuh. Beruntung refleknya cepat. Dia berpegangan pada benda di sebelahnya. "Apa mau mu?" "Kembalikan Leroy padaku!" jawab wanita itu dengan tegas. Zia terkekeh, rasanya dia muak. Pernikahan yang dia jalani semua sudah di atur. Pernikahan bisnis yang biasa terjadi di kalangan pebisnis untuk mempertahankan kerajaan bisnis mereka. "Ambil, kalau kau mau!" Evelyn, wanita yang sejak tadi menahan Zia disana mengepalkan kedua tangannya marah. Dia tak sengaja melihat Leroy sedang berjalan ke arah mereka. Rencana jahat muncul di kepala Evelyn. Tapi bukan Zia namanya jika dia tak peka dengan keadaan sekitarnya. Bahkan kedatangan Leroy kesana juga sudah di ketahui Zia. Dan di belakang Leroy, terlihat mertua dan orang tuanya juga ada. "Aku tak ingin berebut apapun, apalagi hanya seorang laki laki. Jika kau ingin bermain trik kotor, aku akan ajarkan kau bagaimana kotornya sebuah permainan!" Evelyn berniat mendorong Zia tapi harus dia yang jatuh terlebih dahulu. Tangan Evelyn sudah terulur ke arah Zia. Tapi mata Evelyn membola ketika Zia berbalik langsung menangkap tangan Evelyn. Dengan sengaja, Zia mendorong tubuhnya mengenai Evelyn tapi Zia yang langsung terjatuh. "Argh ...." Semua orang menoleh termasuk Leroy. Mata Leroy membola ketika melihat Evelyn mendorong Zia dengan keras. Ingin menyangkal tapi dia melihat sendiri begitu juga dengan orang tuanya. Plak.... Satu tamparan keras mendarat di pipi Evelyn. Leroy tersentak kaget ketika mamanya menampar Evelyn dengah keras. Zia bangun di bantu oleh orang tuanya. "Kenapa kau ada disini? Bukannya sudah ku peringati, agar kau tak muncul di sekitar putraku. Dan apa ini, kau mencelakai menantuku?" Evelyn memegang pipinya yang panas karena tamparan itu. Air mata nya sudah keluar seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak tante, bukan aku yang mendorongnya. Tapi dia sendiri yang membuat tubuhnya terjatuh." bantah Evelyn. Zia masih meringis karena pergelangan kakinya keseleo. "Kenapa malah sakit beneran, ini sakit sekali!" batin Zia. Entah kenapa kakinya benar benar keseleo. Dia meringis kesakitan sejak tadi. "Leroy, apa yang kau lakukan? Bawa istrimu masuk ke dalam. Kau tak perlu lagi mengurus wanita ini!" Leroy tak bisa membela Evelyn, terlebih saat ini tak hanya ada mereka. Beberapa tamu yang mendengar keributan itu juga melihat mereka. Semua orang berbisik membicarakan Evelyn. Siapa yang tak tahu wanita itu yang selama ini sering terlihat bersama Leroy. Bahkan Evelyn juga bekerja di kantor Leroy. Leroy terpaksa menggendong Zia di depan semua orang termasuk Evelyn yang langsung mengepalkan kedua tangannya menahan marah. Sementara Zia sempat melihat ke arah Evelyn sambil menyeringai. "Aku tak merebut, tapi kau yang memancing kesabaranku kali ini. Jadi jika kau kalah kali ini, bukan salahku." batin Zia. Matanya menatap tajam ke belakang yang membuat Evelyn semakin tak suka dengan Zia. Leroy membawa Zia kembali ke kamar pengantin mereka. Dia meletakkan Zia dengan hati hati. Dia tahu Zia tak berbohong. Dia lalu berjongkok di depan Zia yang membuat Zia berjingkat kaget. "Apa yang kau lakukan?" pekik Zia keras. Leroy tak menjawab, dia menarik kaki Zia dengan keras. Reflek Zie menjerit kesakitan, dan disanalah Leroy melihat pergelangan kaki Zia membiru karena bengkak. Tak hanya itu saja, belakang kaki Zia juga lecet akibat terlalu lama berdiri di pelaminan. "Kau kasar sekali, apa tak bisa kau pelan pelan. Itu sangat sakit!" keluh Zia kesal. Zia meringis ketika Leroy sedikit memijat kakinya. "Kenapa kau harus bertingkah, bisakah kau diam saja di kamar? Dan kenapa kau bisa bersama Evelyn?" Zia mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang membuncah. "Dia yang menghampiriku." Hanya itu jawaban yang diberikan Zia kepada Leroy. Wajah Leroy terangkat, matanya bersitubruk dengan mata milik Zia. Dan baru ini, Leroy bisa melihat dengan jelas wajah Zia dari dekat. Zia yang kesal dengan sikap Leroy langsung memalingkan wajahnya terlebih dahulu. Dia menarik pelan kakinya dan beringsut menjauh dari Leroy. Leroy langsung bangkit dari sana tanpa mengatakan apapun pada Zia. "Dia pasti menemui wanitanya, mana mungkin dia tega melihat wanita itu di salahkan orang lain!" gerutu Zia pelan. Tapi mata Zia melebar ketika Leroy ternyata kembali ke kamar mereka membawa kompresan untuk kaki Zia. "Jangan menggerutu, kau akan bertambah tua!" Bugh ... Zia melempar bantal ke arah Leroy, tapi Leroy tak menghindar. Dia fokus dengan kaki Zia yang sudah bengkak. "Jangan memancing ku Zia!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD