“Aku tidak menyangka kau akan datang ke tempat kerjaku sebagai seseorang yang ingin berkonsultasi, Na,” kata Avena keheranan saat Leana datang ke ruangannya tanpa memberi tahu.
“Aku sengaja datang untuk bicara denganmu,” kata Leana. “Aku akan langsung saja, ya.”
Avena mengangguk.
Leana mengeluarkan sebuah map berwarna coklat dari tasnya dan memberikan pada Avena.
“Aku pikir, Nala mungkin sudah memberi tahu tentang apa yang aku alami di sana, ‘kan?” Leana memulai dan Avena mengangguk. “Ini adalah dokumen persetujuan dokter di sana untuk donor ASI-ku. Aku ingin tahu apakah aku bisa mendonorkan juga di sini? Masih banyak keluar soalnya,” jelas Leana.
Tidak ada tanggapan dari Avena yang sibuk membaca laporan tes dari map yang Leana bawa. Isinya hanya laporan hasil tes kesehatan serta lainnya yang menjadi syarat agar Leana bisa mendonorkan ASI pada bayi malang di rumah sakit. Karena Leana memutuskan untuk pergi dia menyiapkan dokumen itu karena berpikir mungkin ASI nya bisa bermanfaat untuk bayi di sana.
“Aku sudah membaca isinya. Bagus,” ujar Avena seraya menatap Leana. “Ini juga ada keterangan rekomendasi dari dokter sebelumnya dan Bank ASI. Kau menyiapkan semuanya sebelum kembali?”
Leana mengangguk. “Aku ingin memberikan kehidupan pada bayi-bayi yang membutuhkan ASI. Itu sebagai penebusan aku pada bayiku yang belum sempat bahagia,” tuturnya.
Avena mendekat dan menenangkan. “Dia bahagia karena lahir dari sosok dirimu yang hebat, Na. Yakinlah, dia akan menjadi pembuka pintu surga untukmu. Keputusanmu mempertahankan dia sudah benar walaupun ayahnya badj*ngan.”
Leana hanya diam menahan senyumnya karena ucapan Avena itu.
“Ah, sepertinya kau datang diwaktu yang tepat, Na,” kata sang dokter. Avena adalah dokter anak di sebuah rumah sakit besar.
Entah apa maksudnya, Leana hanya menatap sahabatnya itu yang menerima panggilan telepon.
“Ayo. Aku akan menjelaskannya sambil jalan,” kata Avena.
Leana menurut dan mengikuti dokternya keluar dari ruangan. Mereka berjalan di koridor rumah sakit yang cukup ramai. Terus berjalan lewati beberapa ruangan hingga tibalah di sebuah ruang khusus bayi.
“Bayi itu tidak bisa pulang karena tidak mau minum sesuatu yang disediakan oleh rumah sakit. Ibunya meninggal karena lemah, tapi sang bayi terlahir sehat. Hanya saja dia tidak mau makan,” terang Avena sambil terus berjalan.
Di sampingnya Leana hanya mendengarkan.
“Semoga bayinya menyukaimu.”
Leana hanya mengikuti instruksi dari Avena saja yang membawanya ke ruangan khusus itu. Dia juga mencuci tangannya dengan sabun khusus yang tersedia di sana. Mereka kemudian berhenti di dekat pintu kaca. Seorang perawat datang dengan bayi dalam gendongannya yang menangis.
“Bayi laki-laki, dia lahir lima hari lalu. Sehari setelah lahir, ibunya meninggal. Bayi ini tidak mau minum s**u yang kamu sediakan atau makanan. Kondisi fisiknya sehat, hanya saja tidak mendapatkan asupan apapun,” jelas Avena.
Leana memperhatikan bayi itu yang mungil, tangisnya lemah sepertinya dia kelelahan. Ada desir halus dalam nadi Leana kala menatap bayi itu, naluri ibunya muncul membuatnya menatap Avena.
“Boleh aku mengambilnya untuk coba aku susui?”tanya Leana.
“Tentu. Cobalah.” Avena mengizinkan.
Leana dibantu perawat mengenakan pakaian khusus sebelum mengambil bayi itu. Lalu dia duduk di salah satu kursi, menerima bayi itu yang seketika tangisnya memelan begitu ada dalam gendongan Leana. Dia kemudian mengeluarkan miliknya yang sebelah kiri lalu mengarahkan putingnya pada bayi itu. Pada awalnya bayi itu tak mau, masih menangis tapi Leana mencoba memasukan. Ada tetes air dari sana mengenai mulut si bayi yang kemudian mulai menerimanya. Pelan-pelan tapi pasti yang kemudian membuat senyuman mereka hadir.
Dokter dan perawat masih belum bisa bernapas lega karena bayi itu biasanya menerima sebentar saja sebelum kemudian mengeluarkan lagi. Leana merawat ddanya itu supaya tetap bersih.
Lima menit lewat, kemutan mulut bayi itu semakin kuat saja, menyedot airnya rajut seakan mendapatkan sumber makanannya dari sana. Barulah dokter dan perawat bernapas lega menyaksikannya.
“Sepertinya dia menyukaimu, Leana,” ucap Avena lega.
Leana menatap Avena beberapa saat, kedua matanya basah, terharu sekali melihatnya.
“Bolehkah aku menyusuinya lagi?” tanya Leana tapi Avena diam.
“Kami harus berdiskusi lebih dulu dengan walinya. Jika wali mengizinkan, kau mungkin bisa meneruskannya memberikan kehidupan. Bagaimana?”
Leana mengangguk, apapun itu asalkan ASI nya bermanfaat akan dia lakukan apapun. Sayang sekali jika terbuang atau melakukan menghentikan ASI padahal masih bisa dimanfaatkan untuk kehidupan bayi lain.
“Walinya ada disini, Dok, baru saja datang untuk menengoknya,” lapor salah seorang perawat.
“Ah, begitu. Baik. Aku akan bicara.”
Avena pamit pada Leana yang perhatiannya fokus pada bayi itu yang menutup matanya. Tangannya mengelus kepala bayi itu yang rambutnya hitam sekali.
“Kasihan sekali kamu, sayang. Jika kamu suka, ambilah milikku. Akan aku berikan supaya kamu bisa tumbuh dengan baik. Akan aku pastikan kamu nyaman jika kamu menyukainya,” ucapnya pelan penuh kelembutan pada usapan kepala sang bayi.
Perhatian Leana teralihkan pada pintu yang terbuka, Avena kembali dengan seorang pria di belakangnya. Tapi tubuh Leana seketika membeku di tempat kala mengenali sosok itu, pria itu ….
“Ini adalah wali bayinya. Tuan Melvin Rayder,” ucap Avena memperkenalkan. “Tuan Melvin, ini Leana yang baru saja saya ceritakan,” lanjut Avena.
Baik Leana atau Melvin sama-sama diam dengan tatapan tak percaya, kedua mata yang terbuka lebar. Suasana mendadak canggung.
“Leana?” Avena memanggil, menyadarkan gadis itu dari keterdiamannya.
“Ah, iya?”
“Baik-baik saja?”
“Ah, ya, tidak apa-apa.” Leana menjawab lalu menunduk untuk melihat bayi dalam gendongannya yang masih menyusu. Tarikannya cukup kuat, masih enggan melepaskan p****g Leana seakan bayi itu belum puas.
Tidak hanya Leana yang memperhatikan bayi tersebut tapi juga Melvin yang menatap tak percaya, dan Avena yang mengawasi.
Setelah beberapa saat kemudian, bayi itu terlelap, mulutnya terlepas dari p****g Leana yang sudah dia berikan keduanya. Sepertinya bayi itu menyukainya. Perawat mengambil alih untuk menidurkan bayi itu. Sedangkan Leana keluar dari ruangan. Langkahnya terhenti saat mendapati sosok Melvin menghadang langkahnya.
“Ayo kita bicara?” katanya datar.
“Tidak perlu. Aku masih ada urusan,” tolak Leana dan hendak pergi.
“Kapan kau kembali?” Pertanyaan itu cukup menghentikan lagi langkah kaki Leana yang sudah melewati Melvin.
Haruskah Leana mengatakan kalau semalam mereka bertemu bahkan sempat bermain basah di ruangan itu sebelum kemudian Leana pergi lebih dulu setelah memastikan Melvin aman di sana.
“Kenapa kau diam?” Melvin menuntut, suaranya masih dingin tapi tatapannya tak lepas dari Leana.
“Kau tak perlu tahu. Aku permisi.”
“Apa kau bersedia menjadi ibu s**u untuk anakku?”
Sekali lagi langkahnya terhenti ketika mendengar apa yang dilontarkan oleh Melvin.
Leana berbalik, menatap Melvin. “Anakmu?”
Melvin mengangguk, “Ya, untuk anakku.”
Tapi Leana terdiam. Ada selintas pikiran yang muncul, siapa ibu bayi itu?