“Aaaaa.. buka mulutnya, mas!” Clarissa mengarahkan satu sendok makanan ke arah mulut Darren. Dengan senang hati Darren membuka mulut menerima suapan dari sang istri tercinta. Ia tersenyum meledek ke arah sekretarisnya, Fandi. Ia bahagia di atas penderitaan sekretarisnya itu. Darren yakin sebenarnya Fandi menginginkan hal yang sama seperti dirinya. Fandi memalingkan wajah. Muak sekali rasanya melihat atasannya itu. Selalu ada drama yang di luar nalar. “Kenapa wajah kamu seperti itu?” tanya Darren “Wajah saya kenapa, Pak?” “Kamu meledek saya?!” “Enggak.” “Bohong! Saya tahu dalam hati kamu meledek saya kan.” Fandi menggelengkan kepalanya. “Enggak, Pak. Saya tidak meledek. Memangnya saya harus bagaimana, Pak?” “Ck,” Darren berdecak kesal mendengar jawaban Fandi. “Mas, udah!”

