Angin gunung menderu di celah-celah dinding batu, namun di dalam gua kecil yang tersembunyi di balik lereng salju, udara terasa begitu pekat oleh aroma darah dan keraguan. Cahaya dari api unggun kecil yang mereka buat menari-nari di wajah Raka yang pucat. Ia sedang duduk bersandar, membiarkan Amara membalut luka di perutnya dengan sobekan kain dari kemejanya. "Jangan terlalu kencang, Amara. Aku masih butuh bernapas untuk menarik pelatuk," gumam Raka, suaranya parau. Amara tidak menjawab. Ia justru mempererat balutannya, membuat Raka meringis pelan. "Kalau kau mati karena kehabisan darah, kau bahkan tidak akan bisa melihat musuhmu, apalagi menarik pelatuk." "Kau marah?" "Menurutmu?" Amara mendongak, matanya berkaca-kaca namun penuh amarah. "Kita terjebak di puncak dunia. Anakku ketakuta
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


