Kapal nelayan Pak Malik membelah ombak dengan ritme yang tenang, sangat kontras dengan guncangan batin yang kini menghantam Amara. Surat dengan segel lilin emas itu masih tergenggam di tangannya, terasa panas seolah-olah membawa jejak kehidupan dari sosok yang selama ini hanya ia kenal melalui batu nisan dan cerita-cerita palsu. Ibunya, seorang wanita yang seharusnya sudah menjadi debu, kini muncul sebagai bayangan yang lebih besar daripada ancaman ayahnya sendiri. "Siapa kalian sebenarnya?" tanya Amara, suaranya parau namun tajam. Ia menatap pelayan itu dengan mata yang menuntut kebenaran. "Dan apa maksud dari baris terakhir ini?" Pelayan itu, yang kini memperkenalkan diri sebagai Elias, hanya membungkuk dengan sapaan yang sangat formal. "Ibu Anda bukan sekadar istri dari Hendra Arisant

