Langit di atas kompleks pemakaman mewah di Jakarta Selatan tampak kelabu, seolah sedang menahan tangis yang enggan jatuh ke bumi. Amara melangkah pelan melewati barisan nisan marmer yang dingin, tangannya menggandeng erat jemari kecil Leo. Anak itu mengenakan kemeja putih rapi dan celana hitam, wajahnya tampak jauh lebih tenang setelah mendapatkan perawatan medis dan psikologis selama beberapa hari terakhir di bawah pengawasan Amara. Mereka berhenti di depan sebuah nisan yang bertuliskan nama Arisanti Pratama. Itu adalah kakak Amara, wanita yang menjadi alasan utama mengapa Amara rela terjun ke dalam neraka yang diciptakan oleh Dion dan Hendra. Di bawah nama itu, terukir tanggal kematian yang selama ini dianggap sebagai akhir dari segalanya, namun kini Amara tahu bahwa itu hanyalah awal d

