Ruangan sempit di atas asrama pekerja Geylang itu terasa seperti oven yang memanggang kesadaran Amara. Suara bising pasar malam di bawah sana hanya terdengar seperti dengung statis di telinganya. Amara duduk di tepi tempat tidur kayu yang keras, keringat dingin membasahi leher dan dadanya, membuat kaos tipis yang ia kenakan melekat transparan di kulitnya. Ia merasa sangat terjepit, sangat sendirian, hingga sebuah ketukan tiga kali yang dijeda terdengar di pintu besi. Amara segera menggenggam pisau lipatnya, berdiri dengan waspada. Namun saat pintu terbuka, bukan Erik yang muncul. Sosok pria yang masuk dengan tubuh terhuyung dan kemeja yang berlumuran darah kering itu adalah Raka. "Raka?" desis Amara, hampir tidak percaya. Pria itu menutup pintu dengan sisa tenaganya dan langsung ambruk

