Lift cadangan itu terus mendaki dalam kesunyian yang mencekik, hanya suara getaran kabel baja yang mengisi ruang di antara Amara dan Raka. Kata-kata Raka baru saja meluluhlantakkan sisa-sisa realitas yang Amara genggam. Ayah mereka, seorang pria yang pemakamannya ia hadiri dua dekade lalu, pria yang fotonya selalu ia simpan sebagai simbol integritas yang telah hilang, ternyata masih hidup. Dan lebih buruk lagi, dialah suara misterius yang membimbingnya melalui frekuensi radio tadi. "Kau berbohong," bisik Amara, meski jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di d**a. "Ayah sudah mati, Raka. Aku melihat peti matinya ditimbun tanah." Raka menyandarkan tubuhnya yang lemah pada dinding lift, darah masih merembes dari luka-luka akibat siksaan Arisanti. "Kematian hanyalah produk dagangan

