Bab 1

1281 Words
“Malam ini, aku pastikan kamu milikku, Shanin!” Plak! Suara tamparan keras itu menggema jelas di dalam kamar hotel bintang lima tersebut. Dekorasi mewah, kelopak mawar, dan cahaya lampu yang temaram mendadak terasa sia-sia, karena tidak ada sedikit pun kehangatan di malam yang seharusnya menjadi malam pengantin mereka. Shanin terkapar di lantai dingin sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Matanya membelalak, menahan syok sekaligus sakit yang datang terlalu cepat. Air mata sudah menggenang di pelupuk, tetapi tubuhnya seperti membeku untuk sekadar bergerak. “Dan aku nggak terima dikhianati, bahkan sebelum kita menikah!” bentak Bravendra penuh emosi. “Aku nggak pernah mengkhianati kamu, Mas!” Pyar! Suara benda pecah menyusul begitu cepat. Vas bunga di samping meja hancur berantakan setelah dilempar Bravendra ke arah dinding. Pecahannya berserakan di lantai, membuat tubuh Shanin refleks bergetar semakin hebat. Namun itu belum selesai. Cambuk kulit di tangan Bravendra terangkat tanpa ragu, lalu menghantam tubuh Shanin dengan keras. Perempuan itu langsung memalingkan wajah sambil menahan jeritan yang nyaris lolos dari bibirnya. Desis pelan terdengar saat rasa perih menjalar di kulitnya yang sejak tadi sudah gemetar ketakutan. Bravendra … pria yang sudah bersamanya selama tiga tahun itu akhirnya memperlihatkan sisi lain yang selama ini tersembunyi rapi. Sisi gelap yang tidak pernah benar-benar Shanin kenal. Dan untuk pertama kalinya malam ini, Shanin sadar bahwa selama ini ia mungkin mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar ia pahami. Pria tersebut langsung melempar cambuknya ke sembarang arah. Satu tangannya mencengkeram leher Shanin. Memaksa tubuh ramping istrinya hingga berdiri dengan paksa. Perempuan itu kini tampak menyedihkan di matanya. “Ini adalah akibat dari sikap murahan kamu, Shanin!” Brak! Tubuh itu dihempas ke atas ranjang. Punggung Shanin membentur sandaran tempat tidur yang terbuat dari kayu jati. Seketika denyut nyeri menyebar ke seluruh badan. Ia yakin, punggungnya kini memar akibat tindakan kasar suaminya. “Apa salahku, Mas? Kenapa kamu lakukan ini padakau?” Suara serak Shanin menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Wajah yang masih berhias makeup pengantin itu harus kacau dengan air mata yang terus mengalir. Gaun resepsi pernikahan yang masih dikenakan sudah kusut. Bravendra menatap berang ke arah istrinya. Setelah apa yang terjadi di pesta tadi, setelah apa yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri, Shanin justru masih sanggup bertanya demikian. Kepalanya makin mendidih. Emosinya tidak lagi bisa dikendalikan. Satu kaki pria tersebut lantas naik ke atas tempat tidur. Dalam beberapa detik, ia menatap istrinya dalam diam. Lantas, tanpa sepatah kalimat pun yang keluar, pria tersebut menggenggam kerah gaun yang dikenakan Shanin. Dalam satu kali tarikan kasar, gaun itu sobek hingga sampai ke batas dadaa. Bravendra menganggalkan gaun tersebut dengan tidak sabar. Tatapan liarnya makin haus dan gelap. Ia seper]ti melihat sesuatu yang selama ini ia tahan dalam-dalam. Ia langsung menghantamkan wajahnya ke d.a.da sintal sang istri. Lumatan dan pagutan kasar itu memberi bekas merah lebam di belahan dadanya yang terbungkus bra. Kedua tangannya menahan tangan Shanin yang kini berada di atas kepa perempuan tersebut. “Akhhh ....” Desahan itu terdengar ketika Bravendra menggigit kulit tipis di bagian dadanya. Shanin memejam. Sakit di tubuhnya tidak bisa diredam oleh apa pun. Tangisannya seperti terbuang percuma karena nyatanya Bravendra tetap melakukan hal menyakitkan itu padanya. Tangan kokoh pria tersebut mengobrak-abrik tubuh bagian bawah Bravendra. Kedua kakinya dipaksa terbuka lebar. Celana dalamnya sudah tidak berbentuk akibat ditarik paksa lepas dari tempatnya. Kini dataran kulit yang lembut itu bersentuhan dengan jari dingin milik Bravendra. “M-Mashhh ....” Suara Shanin terdengar tergagap ketika jari kokoh itu mulai memaksa masuk ke lipatan miliknya yang hangat. Tubuhnya refleks menegang, sementara jemarinya mencengkeram seprai kuat-kuat. Air mata terus mengalir di wajahnya yang sudah memerah sejak tadi. Ia menggigit bibir bawahnya saat jari tengah milik suaminya makin dalam tenggelam di miliknya yang masih kering. “S-sakit, Mashhh ....” Desisan panjang itu membuat Bravendra menerbitkan senyum setannya. Ia memandangi wajah cantik istrinya yang jauh lebih menarik dan seksi saat memberi respons atas tindakannya. Hal tersebut mengundang sisi lain yang lebih liar dari fantasi gilanya malam ini. “Aku sudah menunggu lama untuk ini, Shanin,” bisik Bravendra dingin. Ia menggigit cuping telinga sang istri yang berhias anting berlian pemberiannya. “Dan kamu harus membayar dua kali lipat atas penantian dan pengkhianatan yang kamu berikan padaku.” Shanin menggeleng. Ia jelas terkejut dengan hadiah malam pertamanya. Baru pertama kali ia mendapati sikap suaminya yang sekejam ini. Perempuan tersebut bahkan sempat menahan napas dalam beberapa detik lamanya. “A-aku nggak pernah mengkhianatimu, Mas.” Shanin berusaha berujar tegas di tengah suasana yang makin berkecamuk. Bravendra diam sebentar. Namun, diamnya itu justru menyiapkan sesuatu yang lebih keras dan menyakitkan. Jari telunjuknya bergerak. Perlahan-lahan ia mendorongnya hingga posisinya sejajar dengan jari tengah yang masih berada di dalam milik Shanin. Seketika Shanin meronta. Kedua tangan yang masih ditahan dengan cekalan suaminya di atas kepala, refleks mengepal kuat. Keringat tipis mulai menghias dahi dan pelipisnya. Betapa menyakitkannya hal yang dilakukan Bravendra sekarang. “Milik kamu sesak sekali, Shanin. Erghhh ....” Erangan Bravendra terdengar bersamaan dengan kedua jarinya yang merasakan sempitnya lorong tersebut. Ia menggerakkannya maju-mundur dengan ritme pelan. Hanya setengah dari jarinya yang masuk, sudah berhasil membuat cairan hangat itu keluar. Shanin mengejang kecil. Ia masih sibuk memahami semuanya. Perempuan tersebut merasakan hal asing yang jelas belum pernah dirasakan sebelumnya. Otaknya mendadak malfungi. Kepalanya berisik, berisi berbagai dugaan yang membuatnya makin berat. Bravendra memperhatikan bagaimana raut wajah Shanin. Istrinya itu tidak memberi reaksi lebih. Jauh di luar dugaannya yang sempat berpikir bahwa Shanin akan berteriak dan meminta lebih. Respons yang diberikan perempuan tersebut benar-benar membuatnya kecewa. Kasar, Bravendra melepas cekalan dari kedua pergelangan Shanin. Rahangnya mengeras. Dalam beberapa saat, tatapannya bertemu dengan mata hazel perempuan tersebut. Tanpa aba-aba, ia turun dari tempat tidur dan menarik ikat pinggang miliknya, kemudian melepas celananya dengan cepat. Perempuan tersebut beringsut. Tubuhnya berusaha mencari sandaran sebagai tempat berlindung. Wajahnya menahan ketakutan yang tidak bisa lagi dijelaskan. Lantas, benar saja dugaan Shanin. Bravendra kini menarik tangannya hingga turun dari tempat tidur dengan cara menyakitkan. Kedua tangan perempuan itu dipaksa bertumpu ke nakas yang ada di samping ranjang. Bravendra menatap istrinya dari belakang. Tubuh itu indah dan tidak ada cela sedikit pun. Kulitnya putih bersih, seperti suusu. Ia mengangkat ikat pinggangnya tinggi-tinggi, kemudian .... Cetas! Cambukan itu menggores bagian bookong Shanin yang penuh. Jeritan serta teriakan itu menggema. Kedua tangan perempuan tersebut mencengkeram sisi nakas. Buku-buku jarinya sampai memutih. “Sakit, Mas!” teriak Shanin. Suaranya pecah. Tubuhnya terlalu lemah untuk menerima kekejaman itu. “Shut up, Bitchh!” Ctas! Ctas! “Arkhhh ....” Teriakan itu melolong panjang. Shanin tergugu dalam tangisan. “Kenapa kamu lakukan ini semua, Mas?! Kenapa?!” Ia menjerit frustrasi. Tawa Bravendra terdengar. Tawa yang tidak lagi ramah, tetapi justru siap menghancurkan apa pun yang ada di depannya, termasuk Shanin. Pria tersebut maju dua langkah. Kini posisinya berdiri tepat di belakang sang istri. Ia membalikkan badan Si Perempuan dengan kasar. Keduanya berhadapan. Tubuh Shanin makin mengecil di bawah tubuh kekar dan tegap itu. Bravendra memajukan wajahnya. Tatapannya tajam, penuh sesuatu yang sulit dijelaskan—antara amarah, obsesi, dan kegilaan yang perlahan terbuka di depan mata Shanin. Dengan kasar, ia mencengkeram rahang sang istri lalu memaksanya mendongak. “Kamu tahu kenapa?” bisiknya rendah. Wajah Bravendra turun perlahan, begitu dekat sampai napas keduanya saling bertabrakan. Bibir mereka nyaris bersentuhan ketika pria itu kembali berbicara dengan suara berat yang membuat tubuh Shanin membeku di tempat. “Karena aku mencintaimu, brengsekk.” Bravendra lantas menyeringai tipis. Jemarinya masih mencengkeram wajah Shanin kuat-kuat, seolah takut perempuan itu lepas dari genggamannya. “Dan kalau aku lihat sekali lagi dia menatap kamu seperti tadi…” ucapnya pelan, lalu berhenti sejenak. Sorot matanya berubah makin gelap. “Jangan salahkan aku kalau teman kecilmu itu kehilangan kedua matanya.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD