Malam itu, rumah Marthen dalam situasi gawat darurat! Lampu-lampu minyak dan bohlam darurat menyala bersamaan, membuat bayangan orang-orang bergerak cepat di dinding bambu. Bau garam laut bercampur darah segar memenuhi udara. Suara langkah kaki, perintah singkat, dan dentingan alat-alat medis yang disusun tergesa membuat suasana terasa seperti ruang operasi, walaupun tanpa sirene, tanpa monitor, tanpa bantuan dunia luar. Marthen berdiri di tengah ruangan. Meski rambutnya sudah memutih dan tangannya tak lagi setegap dulu, geraknya masih akurat. Mantan dokter itu bergerak dengan insting lama yang tidak pernah pudar dimakan waktu. “Yang dua itu stabil,” katanya cepat, setelah memeriksa dua pria pertama, “luka tembak tembus, tapi tidak kena organ vital. Tekan perdarahannya. Jangan lepaskan

