bc

Godaan Hasrat Mantan Istri

book_age18+
14
FOLLOW
1K
READ
family
HE
friends to lovers
boss
bxg
brutal
like
intro-logo
Blurb

Pernikahan Tisya dan Hadi harus berakhir karena hadirnya orang ketiga yang membuat onar. Tisya yang sudah terlanjur sakit hati dengan Hadi karena merasa diduakan, diam-diam mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Hadi yang tidak tahu apa-apa tentu saja shock, sudah berusaha menjelaskan tetapi Tisya menyaksikan sendiri suaminya itu sedang b******u dengan wanita lain di tempat umum.Siapa sangka, setelah tiga tahun perceraian mereka di pertemukan kembali. Tentu saja pertemuan mereka tidak akan Hadi sia-sia kan, karena selama ini Hadi masih sangat mencintai Tisya. Bahkan, Hadi berubah menjadi orang yang sangat misterius dan dingin."Ngapain sih ngikutin aku terus? Minggir sana!" usir Tisya."Memangnya kamu nggak inget waktu kamu berada di atas tubuh saya betapa kamu memuja saya?" goda Hadi."Streeessssss!!!" ketus Tisya dengan mata melotot.

chap-preview
Free preview
Mari Bercerai, Mas
Akhirnya, aku pulang ke rumah setelah tiga hari nginap di rumah Umma. Sejak semalam, Mas Hadi sudah menghubungiku terus menerus. Bahkan, Mas Hadi ngancam aku kalau sampai hari ini aku nggak pulang maka dia akan menjemputku secara paksa. "Hadi, ayo kita lakukan lagi mumpung istri kamu nggak ada di rumah, ahhh ...." Aku berdiri diambang pintu saat mendengar suara perempuan dengan jelas. Aku melangkah masuk ke dalam yang kebetulan pintunya memang tidak di kunci. Hingga, aku melihat hal yang paling menjijikan yang belum pernah aku lihat. Brak! Aku menjatuhkan tas yang sedari tadi aku genggam. Mas Hadi dan perempuan itu menoleh karena suaranya cukup keras. Mereka terkejut melihat kedatanganku. "TISYA," ucap Mas Hadi dengan suara meninggi. "Ayo Hadi, kita lakukan lagi ... aku nggak tahan loh sama sentuhanmu tadi," kata wanita itu dengan suara manjanya. "Kamu ngapain, Mas? Kenapa kamu tega sama aku?" tanyaku dengan suara gemetar. Duniaku runtuh seketika, rumah tangga yang aku pertahankan selama ini nyatanya tidak dianggap apa-apa oleh Mas Hadi. Air mataku terjatuh, bahkan lidahku terasa kelu untuk bicara. Aku hanya diam sambil menatap hal yang paling menjijikan yang pernah aku lihat. "Tisya, ini nggak seperti yang kamu lihat." Mas Hadi berusaha menyentuhku, tapi aku dengan cepat menghindarinya. "Jangan sentuh aku! Aku jijik sama kamu!" ketusku mundur perlahan. "Nggak seperti yang aku kira, tapi mataku melihat semuanya, Mas!" imbuhku lagi dengan suara berteriak. Sakit sekali menyaksikan suami selingkuh di hadapan aku langsung. Tau gitu aku tidak akan kesini tadi, aku lebih baik di rumah Umma. Mataku sudah merah, saat itu juga rasa benciku kian menjadi pada Mas Hadi. "Mas Hadi, ayo atuh aku udah nggak kuat nih," kata wanita itu dengan suara sangat manja. "DIAM! PERGI KAMU DARI SINI!" bentak Mas Hadi lalu menyeret wanita itu dengan kasar, setelah itu dia menutup pintunya rapat-rapat. Aku tersenyum sinis. "Bagian mana saja yang sudah disentuhnya, Mas? Sudah berapa kali ciuman? Oh, atau kalian berdua sama-sama saling menikmati?" sindirku membuat wajah Mas Hadi memerah. "Ini nggak yang seperti kamu lihat, Tisya! Saya bisa menjelaskan semuanya!" ucap Mas Hadi membuat aku semakin terkekeh. “Cuih aku jijik sama kalian yang sama-sama menikmatinya dan suara kalian yang membuat telingaku menjadi sakit,” ketusku. “Kamu tenang dulu ya … saya bisa jelasin semuanya ke kamu,” kata Mas Hadi dengan penuh permohonan. "Apa yang mau dijelasin hmm? Semua udah jelas, Mas! Lagian aku lihat sendiri gimana kamu menikmati setiap sentuhan yang diberikan wanita itu," tuturku dengan suara ketus. Mas Hadi menghela napas berat. "Saya tau kamu capek, yuk kita istirahat di dalam!" ajak Mas Hadi yang sudah menyentuh bahuku, namun aku segera menepisnya dengan cukup kasar. “Kenapa diusir? Kenapa nggak dilanjut aja? Sayang tau,” sindirku membuat wajah Mas Hadi merah padam. Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. "Mari kita bercerai, Mas!" ucapku lirih membuat mata Mas Hadi melotot tak percaya. "Nggak! Sudah berapa kali saya bilang ke kamu kalau diantara kita nggak akan ada perceraian!" tegas Mas Hadi. "Buat apa dipertahankan kalau ujung-ujungnya cuma disakiti?" tanyaku membuat Mas Hadi mengusap wajahnya kasar. "Saya dijebak, Sayang ... tubuh saya panas, saya juga nggak tau ...." Belum selesai Mas Hadi menjelaskan sudah lebih dulu aku potong. "Alasan! Mana ada maling ngaku!" ucapku dengan ketus. Aku ambil kembali tas yang tadi sempat jatoh, nggak sudi rasanya berlama-lama bersama orang yang nggak bisa dipercaya. Baru ditinggal sebentar aja udah berani bawa wanita lain. Dasar Hadi, semaunya sendiri. Aku ambil tasku dengan tangan gemetar, lalu melangkah cepat keluar dari rumah itu. Nafasku terasa sesak, seolah dinding-dinding rumah yang dulu jadi tempat berlindung kini berubah jadi penjara penuh pengkhianatan. Ya, suamiku sendiri yang menjadi pengkhianatnya. Mas Hadi berusaha mengejarku. “Tisya, dengar dulu! Saya dijebak, saya nggak sadar!” teriaknya dari belakang. Aku berhenti sejenak di teras, menoleh dengan mata yang penuh amarah. “Mas, jangan pernah lagi cari alasan. Semua sudah jelas. Aku lihat sendiri bagaimana kamu menikmati pelukan dan sentuhan perempuan itu. Kamu pikir aku bisa percaya lagi?” Mas Hadi terdiam, wajahnya pucat. “Saya nggak mau kehilangan kamu, Tisya. Kamu segalanya buat saya.” Aku tertawa getir. “Segalanya? Kalau aku segalanya, kenapa kamu tega menghancurkan rumah tangga kita dengan tanganmu sendiri?” Air mataku jatuh, tapi aku segera menghapusnya. “Mulai hari ini, aku akan kembali ke rumah Umma. Aku nggak mau lagi tinggal di sini. Aku butuh ketenangan, bukan luka yang terus kamu kasih.” Mas Hadi mencoba mendekat, namun aku mundur. “Jangan ikuti aku, Mas. Kalau kamu masih punya sedikit rasa hormat, biarkan aku pergi.” Aku melangkah meninggalkan rumah itu, tapi tiba-tiba tubuhku melayang di udara. Mas Hadi menggendongku dan membawaku masuk ke dalam. Aku memberontak meminta untuk diturunkan, tapi Mas Hadi nggak mendengarkannya dia malah membawaku ke kamar. "Nggak ada yang boleh pergi dari rumah ini," ucap Mas Hadi dengan menyatukan keningku ke keningnya. Matanya memerah, napasnya memburu, aku merasa Mas Hadi sedang tidak baik-baik saja. Tapi, rasa sakitku begitu besar. Aku kecewa dengannya bukan karena kejadian hari ini saja tapi sejak awal menikah dia jarang memberikanku uang. "Lepas Mas!" teriakku sambil mendorong d**a Mas Hadi. "Abi baru aja meninggal, Mas ... tapi, dengan teganya kamu berbuat begitu di rumah kita. Kamu punya otak nggak, Mas?" tanyaku kali ini dengan bahasa yang kurang sopan. "Aku diam waktu kamu nggak mau nginep, setelah pemakaman kamu pulang. Apa aku marah? Nggak kan? Tapi, sekarang aku benar-benar marah Mas sama kamu. Aku cerai aja dari kamu!" ujarku sambil terus menangis. Mas Hadi menatapku dengan mata merah, seolah ingin menahanmu dengan segala cara. Namun, keputusanku sudah bulat. Air mataku terus mengalir, bukan lagi karena cinta, melainkan karena luka yang terlalu dalam. “Aku nggak bisa lagi, Mas. Semua sudah hancur,” ucapku lirih, sambil berusaha melepaskan genggamannya. Mas Hadi meraih wajahku, suaranya bergetar. “Tisya, jangan pergi. Saya bisa berubah. Saya janji, saya akan perbaiki semuanya.” Aku menatapnya dengan tatapan mata kosong. “Janji? Berapa kali janji yang sudah kamu ucapkan, Mas? Dan berapa kali aku harus menelan kecewa? Aku sudah nggak percaya lagi.” Aku mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga, lalu berlari keluar kamar. Nafasku terengah, d**a terasa sesak, tapi langkahku mantap. Di ruang tamu, aku sempat berhenti, menatap foto pernikahan kita yang tergantung di dinding. Senyumku dulu begitu tulus, sementara kini hanya tersisa pahit. Mas Hadi menyusul, suaranya parau. “Tisya, jangan tinggalkan saya. Saya nggak bisa hidup tanpa kamu.” Aku menoleh, menatapnya dengan mata yang penuh luka. “Kalau benar nggak bisa hidup tanpa aku, seharusnya kamu nggak mengkhianati aku. Aku pergi bukan karena aku nggak sayang, tapi karena aku harus menyelamatkan diriku sendiri.” Dengan tangan gemetar, aku meraih gagang pintu. Tapi, sayangnya Mas Hadi sudah mengamankan semua kunci di rumah ini. Aku nggak bisa keluar, Mas Hadi benar-benar egois. "Bukain!! Aku mau cerai," ucapku ketus sambil berusaha membuka, tetapi tetap saja tidak bisa.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
760.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.3K
bc

Not just, the Beta

read
351.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook