'001. Kematian Ayah

1447 Words
Satu minggu sebelumnya. Gerimis mengiringi prosesi pemakaman Surya Mahardika Adinata. Pemilik jaringan hotel dan resor mewah Adinata Group itu meninggal dunia pada usia enam puluh dua tahun akibat serangan jantung mendadak. Suasana duka menyelimuti keluarga Adinata, tetapi orang yang paling merasa kehilangan adalah Tsireya Luanari Adinata. Putri bungsu Surya yang lahir dari hubungan di luar pernikahan, dari seorang wanita penghibur yang pernah dicintainya. Meski terlahir sebagai anak di luar nikah, keberadaan Tsireya tidak pernah disangkal Surya. Sejak bayi, gadis itu sudah dibawa ke kediaman utama keluarga Adinata setelah ibunya meninggal usai melahirkannya. Sejak saat itu, Tsireya dibesarkan di sana. Dia mendapatkan pendidikan terbaik, fasilitas mewah, dan limpahan kasih sayang dari ayahnya. Bagi Surya, Tsireya bukanlah sebuah kesalahan. Gadis itu adalah satu-satunya peninggalan dari perempuan yang paling dicintainya—penyesalan sekaligus cinta terakhir yang tidak pernah bisa dilupakan Surya hingga akhir hidupnya. Namun, kehadiran Tsireya tak pernah benar-benar diterima keluarga sah ayahnya. Di depan Surya, mereka tampak tenang dan bersikap sewajarnya. Akan tetapi, di belakang pria itu, Tsireya tumbuh di tengah tatapan merendahkan, sindiran halus, serta perlakuan dingin yang tak pernah benar-benar berhenti. Bagi mereka, Tsireya adalah noda. Simbol pengkhianatan kepala keluarga Adinata. Dan kematian Surya menjadi titik balik segalanya. Tsireya tidak hanya kehilangan orang yang paling disayanginya, tetapi juga satu-satunya pelindung yang selama ini menjaga dirinya. Dunianya runtuh seketika, bersamaan dengan jasad ayahnya yang perlahan tertimbun tanah. Saat satu per satu pelayat meninggalkan area pemakaman, yang tersisa hanyalah Tsireya dan ibu tirinya, Ratih Kusumawati Adinata. Seorang sopir berdiri di samping Ratih sambil memayunginya dari hujan. Sorot mata wanita itu terasa lebih dingin daripada tetesan gerimis yang jatuh. Dia menatap batu nisan Surya beberapa saat, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan kepada Tsireya. Ekspresinya nyaris tidak berubah. Napasnya terdengar tenang dan teratur, tetapi kata-kata yang keluar dari bibirnya begitu tajam. “Akhirnya pria tua bangka itu mati juga,” katanya. “Tapi sayang ... dia lupa membawa serta anak haramnya.” Tsireya menunduk sambil mengepalkan tangan. Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan. Dia mati-matian meredam isak tangis agar tidak terlihat semakin hancur di depan Ratih. “Ingat baik-baik, Tsireya. Keadaan tidak akan pernah sama lagi setelah ayahmu tidak ada. Dulu kau bebas tersenyum dan menikmati segalanya, seolah hidupmu tidak punya dosa. Tapi sekarang kau akan membayarnya. Membayar semua kesabaran dan sakit hati yang aku dan putriku terima selama ini.” Setelah mengatakan itu, Ratih langsung berbalik pergi menuju mobil yang telah menunggunya di depan gerbang. Kaki Tsireya seketika terasa lemas. Dia jatuh bersimpuh di dekat makam ayahnya, menangis sejadi-jadinya. Rupanya, ledakan kemarahan Ratih tidak menunggu dukanya mereda. Wanita itu langsung mencercanya, meluapkan seluruh kebencian yang selama bertahun-tahun dipendamnya. Bahkan di samping gundukan tanah yang masih basah, seakan mengejek Surya yang kini tak lagi mampu melakukan apa pun untuk melindungi putrinya. “Apa yang harus Reya lakukan setelah Ayah nggak ada?” tanyanya lirih dengan napas tersendat. “Tanpa Ayah, Reya nggak pernah benar-benar punya tempat di keluarga ini.” Tsireya kemudian meringkuk di samping pusara, menyandarkan kepala pada batu nisan sambil memeluknya dengan satu tangan. Air matanya bercampur dengan air hujan. Meski rintik turun semakin deras, dia belum ingin pulang. Dia belum rela melepaskan ayahnya. Tidak … sampai kapan pun, Tsireya tidak akan pernah siap ditinggalkan oleh ayahnya. *** Hari-hari setelah pemakaman berubah menjadi sesuatu yang asing dan mencekik bagi Tsireya. Orang-orang yang dulu bersikap sopan kini mulai memperlakukannya seperti tamu tak diundang di rumahnya sendiri. Dulu, semua kebutuhannya selalu tersedia tanpa perlu diminta dua kali. Apa pun yang dia perlukan tinggal memerintah, lalu seseorang akan segera melakukannya. Namun sekarang semuanya berbeda. Para pelayan mulai mengabaikannya. Bahkan beberapa di antaranya sudah berani memandang sinis ke arahnya. Seperti pagi ini. Tsireya baru saja keluar dari kamar. Dia berniat menenangkan pikirannya dengan bermeditasi di area kolam renang, berharap kesedihan yang terus menyesakkan dadanya bisa sedikit mereda. Namun saat meminta tolong disiapkan matras yoga, salah seorang pelayan justru berdecak kesal. “Nona nggak lihat saya lagi sibuk?” Tsireya sampai terdiam karena terkejut. Dia tidak pernah menyangka akan mendengar nada setajam itu dari salah satu pelayan di rumah ini. Padahal, seingatnya, dia tidak pernah memperlakukan mereka semena-mena. Justru Tsireya selalu berusaha bersikap ramah dan mengakrabkan diri, sebab di rumah ini hanya ayahnya yang benar-benar menyayanginya. “Berhenti merasa kalau Nona masih punya kuasa di rumah ini,” lanjut pelayan itu tanpa rasa takut. “Mulai sekarang belajar lakukan semuanya sendiri. Kami bukan orang yang bisa Nona suruh-suruh lagi.” Setelah mengatakan itu, pelayan tersebut berlalu pergi sambil membawa keranjang cucian kosong. Pakaian di dalamnya rupanya sudah dijemur di area belakang. Tsireya menarik napas panjang, lalu menganggukkan kepala pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tidak apa-apa. Dia terus mengulang kalimat itu di dalam hati sampai rasa sesak di dadanya sedikit mereda. Setelah merasa cukup tenang, Tsireya tetap melanjutkan rencananya. Dia mengambil sendiri matras yoga dari ruang penyimpanan sebelum berjalan menuju kolam renang. Di lorong, dia berpapasan dengan Ratih dan seorang pria yang dikenalnya sebagai pengacara keluarga Adinata. Tsireya hanya memberi anggukan singkat ketika tatapan mereka bertemu. Ratih tidak membalas apa pun. Wanita itu justru membawa pria tersebut masuk ke ruang kerja mendiang ayahnya. Pagi-pagi sekali mereka sudah mengadakan pertemuan. Namun Tsireya memilih tidak memikirkannya terlalu jauh. Lima belas menit kemudian, dia sudah berada di area kolam renang. Karena instrukturnya membatalkan sesi mendadak pagi ini, Tsireya memutuskan melakukan meditasi sendiri. Dia duduk bersila di atas matras, mengatur napas selama beberapa menit sebelum memejamkan mata. Perlahan, dia mulai menghitung ritme pernapasannya dalam hati. Satu. Tarik napas perlahan. Dua. Embuskan pelan. Namun tiba-tiba sesuatu yang dingin tumpah mengenai perutnya. Tsireya refleks membuka mata. Di hadapannya berdiri Adelina Pramesti Adinata—kakak tiri sekaligus putri sah keluarga Adinata—sambil memegang gelas yang kini sudah kosong. Senyum sinis terukir jelas di wajah wanita itu. “Apa yang sedang kau lakukan?” ejek Adelina. “Sadarlah. Kau bukan tuan putri lagi. Setidaknya buat dirimu berguna sebelum kemurahan hati kami habis dan akhirnya mengusirmu.” “Maksud Kakak apa?” tanya Tsireya dengan kening berkerut. Sebisa mungkin dia menahan diri untuk tidak terpancing emosi, meski pakaiannya kini basah oleh air jus jeruk yang sengaja disiramkan padanya. “Aku tetap putri Ayah,” lanjutnya lirih. “Aku juga punya hak tinggal di sini.” “Tapi ayah kesayanganmu itu sudah mati.” Senyum Adelina semakin tajam. “Dan sebagai anak tidak sah, kau tidak berhak menikmati sepeser pun hartanya.” “Nggak mungkin ...” Adelina tertawa kecil dengan tatapan merendahkan. “Asal kau tahu, Anak Haram. Satu-satunya pesan terakhir ayah untukmu adalah—” “Adelina.” Suara Ratih memotong ucapan itu. Adelina langsung menoleh ke arah pintu dan mendapati ibunya berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat di dadaa. Wajah Ratih tampak datar ketika menggeleng pelan, seolah memberi peringatan agar putrinya tidak mengatakan terlalu banyak. Adelina segera mengerti. Dia mendengkus pelan sebelum berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah, wanita itu berhenti lalu menoleh lewat bahu. Senyum miring kembali terukir di bibirnya. “Tunggu saja,” ucapnya pelan. “Hidupmu akan berubah sebentar lagi. Dan kau tidak punya pilihan selain menerimanya.” *** “Maaf, Kak ... kartunya ditolak.” Tsireya mendongak perlahan. Pelukannya pada buket bunga lili putih—bunga favorit ayahnya—sedikit mengendur. Keningnya langsung berkerut bingung. “Tolong coba sekali lagi, Mbak.” Kasir itu mengangguk canggung, lalu kembali menggesek kartu milik Tsireya. Namun beberapa detik kemudian, mesin EDC kembali berbunyi nyaring. Transaksi gagal. Seketika rasa dingin merambat di sepanjang tulang punggung Tsireya. Entah kenapa, firasatnya mendadak buruk. Jangan-jangan Ratih ada hubungannya dengan kartu kredit tambahan atas namanya yang tiba-tiba tidak bisa digunakan? “Apa ada kartu lain, Kak?” tanya sang kasir hati-hati. Tsireya tidak langsung menjawab. Dia buru-buru mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi mobile banking. Untungnya masih ada sedikit saldo tersisa—uang jajan terakhir yang diberikan ayahnya sebelum meninggal. Tanpa banyak bicara, Tsireya segera menyelesaikan pembayaran buket bunga itu menggunakan transfer. Setelah transaksi selesai, dia langsung keluar dari toko. Namun sebelum melangkah menuju area pemakaman, Tsireya berhenti sejenak. Jemarinya menggenggam ponsel erat sebelum akhirnya mencari nama Ratih di daftar kontak. Dia harus memastikan prasangkanya. Nada sambung terdengar cukup lama sebelum akhirnya panggilan diangkat pada dering kelima. “Ada urusan apa meneleponku?” Suara Ratih terdengar dingin dari seberang sana. “Ada yang ingin Reya tanyakan,” ucap Tsireya pelan. “Soal kartu kredit Reya—” “Semua kartu tambahan atas namamu sudah dinonaktifkan,” potong Ratih tanpa memberi kesempatan Tsireya menyelesaikan kalimatnya. “Mulai sekarang kau tidak akan menerima sepeser pun uang dari kami.” Klik. Panggilan diputus sepihak. Tsireya menurunkan ponselnya perlahan dari telinga. Tatapannya kosong menatap layar yang sudah gelap. Dadanya terasa sesak. Benar saja. Sedikit demi sedikit, mereka mulai merenggut semua yang selama ini diberikan ayahnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD