Bab 10. Mie Instan

1257 Words
“Kin, are you okay?” tanya Samudra sambil mengelus rambut Kinara yang sedari tadi membalikan tubuhnya menatap jendela mobil yang membawa mereka pulang ke arah rumah Kinara. Kinara hanya diam lalu menganggukan kepalanya perlahan, saat menyadari bahwa mereka sudah sampai. Mobil pun melambat dan akhirnya benar-benar berhenti depan rumah. Perlahan Samudra turun dan membantu Kinara untuk turun dari mobil. “Mas– biaya bajunya nanti aku ganti ya,” ucap Kinara pelan ketika mereka berdua berdiri berhadapan. “Gak usah. Anggap saja ini adalah service paket lengkap jasa sewa pacar pria sekelasku. Aku ini bayarannya mahal loh.” “Ck! Apaan sih mas Sam, matre banget!” sungut Kinara. “Eh! Kamu jangan pikir aku nolong gratis! Suatu hari nanti aku akan minta bayarannya,” ucap Samudra sambil menatap Kinara serius. Kinara hanya mendelikkan matanya tak memperdulikan ucapan Samudra lalu menghela nafas panjang dan menatap pria itu dalam. “Makasih ya mas buat segalanya. Aku sudah diperbolehkan menumpang tinggal, diantar sampai Bandung bahkan hari ini mas Sam mau repot nemenin aku ke acara reuni. Aku benar-benar tak tahu bagaimana membalas budi mas Samudra,” ucap Kinara lirih tapi terdengar jelas ditelinga Samudra. Perlahan Samudra menarik Kinara untuk ia peluk erat, dan kali ini Kinara membalas pelukan Sam perlahan. “Semoga kamu bisa segera mendapatkan pekerjaan yang kamu inginkan. Pamitkan aku buat tante Yulia–sudah malam, tak enak kalau harus mengganggu lagi.” Kinara hanya mengangguk pelan lalu melepaskan pelukannya dan Samudra segera kembali ke dalam mobil. “Kabari aku jika ada kabar baik soal pekerjaanmu,” ucap Samudra lagi. Kinara hanya mengangguk lalu melambaikan tangannya sebelum pintu mobil menutup otomatis. Di dalam mobil Samudra masih menoleh kebelakang melihat Kinara yang masih berdiri sampai mobil berbelok dan tak bisa melihat kediaman Kinara lagi. Samudra mendengus perlahan dan tersenyum sendiri sambil memejamkan mata. Ia merasa geli dengan tingkahnya. Sejak kapan seorang Samudra mau menghabiskan harinya dengan hal random seperti ini. Wajah Kinara yang menangis karena patah hati setelah mendengar tentang pertunangan Fey dan Tasya kembali terbayang di pelupuk mata Samudra. Kesedihan yang sama yang pernah Samudra rasakan beberapa tahun yang lalu ketika mantan kekasihnya Frida memutuskan untuk menikah dengan yang lain. Samudra menghembuskan nafasnya kuat-kuat seolah mencoba melupakan kenangan yang terlintas dan tak ingin mengingatnya lagi. *** Fey menatap foto - foto reuni yang membanjiri sosial media dan juga grup w******p kuliahnya. Matanya tak berkedip ketika melihat foto Kinara dan Samudra yang di foto candid. Wajah Samudra yang tampak percaya diri menggandeng tangan Kinara yang menunduk malu membuat perasaan Fey sakit. Apalagi saat ia melihat Samudra yang tengah memeluk Kinara erat menjadi foto boom di salah satu foto membuat Fey mengeraskan rahangnya. Masih terbayang di pelupuk matanya saat ia menyadari Kinara seolah mengikutinya kemanapun ia pergi saat reuni. Pandangan mata mereka beberapa kali bertemu, bukan tak ingin menyapa Kinara tetapi Fey mencari momen yang tepat untuk bisa menghampiri Kinara seorang diri. Rasanya sulit sekali, sampai ia mendapatkan kesempatan terpisah sementara dari Tasya dan berbaur dengan beberapa temannya yang mengucapkan selamat atas pertunangannya dengan Tasya, Fey tahu, Kinara juga berada tak jauh darinya. Saat ia berbalik dan mencoba menghampiri, ia malah melihat Kinara bersama seorang pria yang tengah memeluknya erat, mereka tampak mesra dan membuat Fey spontan balik badan untuk kembali ke tempatnya. Entah mengapa ia merasa sakit hati dan membuatnya sadar perasaannya untuk Kinara masih sangat besar. *** Samudra baru saja hendak mengambil oatmeal untuk sarapan ketika melihat beberapa bungkus mie Instan milik Kinara yang tertinggal. Ia jadi teringat ketika bu Irma menemukan makanan itu dari kamar tamu hampir 3 minggu yang lalu. Samudra menghela nafas menatap mie instan itu dalam. Sejak ia mengantarkan Kinara pulang beberapa minggu yang lalu, sampai hari ini gadis itu tak pernah memberikan pesan apapun untuknya. Sebelum pulang ke Jakarta, sempat terlintas dibenak Samudra untuk memberitahu Kinara, tapi akhirnya ia urungkan. Jika gadis itu tak merasa perlu menghubunginya, mengapa musti ia yang menghubungi terlebih dahulu. Dua hari yang lalu Ratna memberitahu bahwa Kinara berhasil diterima kerja disalah satu perusahaan yang kemarin dia lamar. “Kinara gak bilang sama kamu?” tanya Ratna ketika memberitahu Samudra. “Gak ada tuh!” jawab Samudra dingin–menutupi rasa kesalnya karena Kinara tak membagi kabar baik itu padanya, setelah diberikan tumpangan tinggal. Samudra tak menyangka sikap Kinara yang kemarin tampak manis dan baik bisa begitu saja melupakan dirinya. Jangankan kabar baik, untuk say hello saja ia tidak pernah. Kini ia menatap dalam mie instan makanan kesukaan gadis itu yang masih tersisa dan perlahan menutup kembali lacinya, memutuskan agar mie itu tetap disana entah sampai kapan. Baru saja Samudra menuangkan oatmeal ke dalam mangkuk, terdengar sayup seseorang yang memberikan salam. “Assalamualaikum.” Samudra segera bergerak menuju pintu depan dan membukakan pintunya segera. Benar saja, ada Kinara yang tengah berdiri mengenakan pakaian kerja yang pernah dibelikan Samudra untuk interviewnya sambil memeluk tas kecil. “Loh, mas Samudra belum berangkat?” tanya Kinara tampak terkejut karena pintu itu langsung terbuka dalam hitungan detik. “Ini masih jam 6.30 pagi, bu Irma juga belum datang. Kok mendadak datang?” tanya Samudra sambil melebarkan pintu agar Kinara bisa masuk. Kali ini ia yang merasa canggung, karena tiba-tiba saja hatinya merasa senang sekaligus kesal ketika melihat Kinara yang baru saja dipikirkannya. “Mas–” panggil Kinara sambil berjalan ke dalam rumah. “Ya?” “Aku keterima kerja.” Samudra hendak mendengus kesal, tetapi tak jadi ketika ia melihat Kinara menatapnya dalam dengan pandangan berbinar seolah berharap diberikan kata selamat oleh Samudra. “Terus?” tanya Samudra dingin sambil berjalan ke arah dapur untuk menyelesaikan membuat sarapannya. “Hmmm, hari ini aku datang karena dipanggil untuk tandatangan kontrak juga mengisi administrasi lainnya,” jawab Kinara sambil mengikuti langkah Samudra menuju dapur. Tiba-tiba perasaan senangnya menciut melihat sikap Samudra yang dingin. Pagi ini ia sengaja datang dengan perasaan senang untuk memberitahu langsung pada Samudra bahwa ia diterima kerja, tetapi melihat respon Samudra membuatnya bingung. Apakah pemberitahuan ini membuat Samudra berpikir bahwa ia akan kembali menumpang? “Mas, aku gak akan ngerepotin mas Sam lagi kok. Aku sengaja datang pagi-pagi karena ingin bilang langsung sama mas Sam, tapi sepertinya aku mengganggu ya mas?” tanya Kinara sedikit kikuk. Mendengar ucapan Kinara, tubuh Samudra mematung sesaat sebelum ia balik badan dan segera menghampiri Kinara dan memberikannya pelukan erat. “Selamat ya, aku senang kamu bisa diterima kerja. Tapi aku marah sama kamu, Kin!” bisik Samudra perlahan di telinga Kinara. “Marah?” “Kamu tuh gak ada basa-basinya. Kirim kabar kek, say hello kek, atau beritahu via wa soal kerjaan ini padaku juga tak apa-apa. Setelah pulang ke Bandung kamu benar-benar menghilang.” “Aku sebenarnya ingin wa, tapi takut mengganggu mas Samudra.” “Ck! Alasan!” ucap Samudra sambil menyentil lembut kening Kinara. Kinara hanya bisa menundukan wajahnya karena wajah Samudra yang terlalu dekat dengan wajahnya membuat jantungnya berdebar keras. Status sepupu ini tak bisa membuatnya untuk tidak grogi. Padahal beberapa minggu yang lalu mereka sudah terasa dekat dan akrab. “Mana kopermu?” tanya Samudra ketika menyadari Kinara tak membawa apapun. “Aku langsung pulang lagi kok mas ke Bandung setelah tandatangan kontrak nanti.” “Menginaplah semalam!” “Tapi aku sudah pesan tiket …” “Ck! Nanti aku ganti! Selesai sarapan aku antar kamu ke kantor baru.” “Mas, aku bisa berangkat sendiri,” ucap Kinara menolak halus, karena selain tak ingin merepotkan Samudra, janji temunya masih lama, sekitar pukul 10 pagi. Ia sengaja mampir agar bisa punya tempat untuk singgah sesaat sebelum datang ke kantor baru. Tapi Samudra tampak tak peduli. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD