Bab 2

701 Words
Sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak, hanya beberapa sentimeter di depan tubuhnya. Pintu mobil terbuka. Seorang pria tinggi dengan jas rapi keluar. Wajahnya dingin dan tatapannya tajam menatap lurus ke arah Ciara yang jatuh tersungkur sambil meringis. “Kalau mau cari mati, jangan di depan mobil saya!” katanya menyentak. Ciara yang emosinya sudah kacau langsung tersulut. “Saya bukan mau mati! Kamu yang nyetir ngga lihat ini jalan masuk kampus! Bisa pelan aja nggak bawa mobilya!” Pria itu tertawa meremehkan. “Apa kamu bilang? Kamu memaki saya barusan?” “Kalau iya, memangnya kenapa?!” Ciara tak sadar kalau lututnya luka, dan agak membiru. Dia hendak pergi, tapi pria itu menahan lengannya. Pria itu melihat luka di sudut bibir dan lutut Ciara yang berdarah karena jatuh tadi. “Masuk,” perintahnya. “Tidak perlu—” “Hujan akan turun. Masuk, cepat.” Hujan deras mulai turun. Ciara akhirnya menyerah dan masuk ke mobil. Di dalam mobil suasana sunyi dan canggung. Pria itu menyodorkan kotak P3K tanpa banyak bicara. Ciara membersihkan lukanya sendiri sambil menahan isak tangis. Tangan kirinya masih gemetar. Sesekali pria itu melirik Ciara, tapi tidak bertanya apa pun. Hingga Ciara tanpa sadar tertawa kecil sambil menangis. “Biasanya orang habis menangis tidak langsung tertawa,” ujar pria itu pelan sekaligus heran. Ciara menoleh sinis. “Lucu aja. Lima tahun ternyata kalah sama perempuan murahan. Dan, maaf kalau jadi ngerepotin. Sori juga tadi malah marah-marah.” Pria itu tersenyum kecil lalu menggeleng. Rupanya gadis didepannya ini sedang dalam keadaan kacau, lucu juga, pikirnya. “Rumah kamu dimana?" “Ngapain nanya alamat rumah? Turunin aja aku di depan sana.” Tunjuk Ciara pada arah lampu merah di depan, dari sana ada belokan. Tempat biasa Ciara turun menunggu jemputan Angga. Ciara tertegun, lalu mengumpat pelan. “Sial, brengsek.” Ternyata ini alasan Angga selalu menjemput Ciara jauh dari area parkir kampus, karna dia tidak mau orang tau hubungannya dengan Ciara. Benar kata Shenina, Angga hanya memanfaatkan otaknya selama lima tahun ini. “Saya akan antar kamu sampai rumah, lagipula ini hujan,” ucap pria itu. Ciara menggeleng. “Nggak perlu, aku lagi nggak mau pulang.” “Lalu, kamu mau kemana?” Ciara menatap pria itu yang tampak tak terganggu dengan keberadaannya. Dia hanya fokus menyetir tanpa bertanya banyak hal tentang Ciara. “Kamu keberatan kalau nemenin orang random kayak aku minum?” ** Mereka duduk di sudut yang remang. Ciara memegang cocktail ringan yang dipesan. Ini gelas kesekian yang Ciara teguk sampai habis. Semakin malam, suasana di antara mereka terasa semakin berat. Saat Ciara hendak meraih gelasnya lagi, pria itu menahan pergelangan tangannya. “Jangan minum lagi.” “Kenapa?” “Kamu keliatan nggak biasa minum. Kamu bisa mabuk,” katanya pada Ciara. Tatapan mereka bertemu lama. Ciara merasakan jantungnya berdegup tidak karuan. Ciara yang masih penuh emosi berkata lirih, “Kalau diselingkuhi setelah lima tahun, salah aku juga, ya?” “Hem?” Pria itu menatap Ciara lekat. “Apa maksud kamu?” “Apa aku nggak cantik? Aku ini memang nggak seru, gitu, ya?” “Kamu terlalu mabuk, gadis kecil.” “Pacarku, aku baru putus sama pacarku dan pacarku ciuman sama orang yang aku benci. Dia itu rival ku dan kami nggak pernah akur.” Pria itu tertawa. “Ah, rupanya begitu.” “Dia mudah banget ciuman sama cewek lain, karna selama ini aku nggak mau dia cium.” “Kalau dia bisa menyentuh perempuan lain semudah itu, berarti dia memang tidak pernah pantas untuk kamu.” “Apa?” Ciara merasa dadanya sesak sekaligus hangat. Dia tanpa sadar terus menatap wajah pria direpannya. Rahang pria itu menegang. “Jangan tatap saya seperti itu.” Ciara menelan ludah. “Memangnya kenapa?” “Karena saya sedang berusaha tetap sopan.” “Kenapa harus sopan sih? Kamu ganteng banget, pasti udah punya pacar ya? Sana pulang, nanti pacar kamu—” Belum sempat Ciara menyelesaikan kalimatnya, ia sudah mendekat dengan cepat. Tangan Ciara meraih kerah kemeja pria itu dan menariknya ke depan, lalu menatap bibirnya. “Pacar kamu marah nggak, kalau aku cium kamu?” “Jangan bicara sembarangan. Kendalikan diri kamu, saya akan antar kamu pulang.” “Cium aku, please.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD