“Pak Tama,” Kaiv cepat-cepat masuk ke dalam kantor atasannya itu setelah mengetuk pintu. Lelaki dengan setelan kemeja dan celana hitam itu berjalan cepat menuju ke hadapan meja di ujung ruangan.
Kaiv berdiri dengan tegap. Darurat. Gawat darurat yang tidak bisa lagi ditunda. Sebuah berita sedang berkembang dan mulai menyebar dimana-mana. Berita tentang bosnya itu.
Istri bosnya lebih tepatnya.
Di tempatnya duduk di kursi seberang meja dengan jendela kaca lebar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit di daerah sibuk Jakarta, Mahatama menatap ponsel di tangannya dari balik kacamata bacanya, dengan ujung bibir naik membentuk senyum kecil.
Anak pertama dari tiga bersaudara keluarga Djati itu mengangkat wajahnya, menunjukan senyum yang tercipta karena apa yang dilihatnya di laar ponselnya. Ia menatap assisten pribadinya yang datang terburu itu.
“Pak Tama?” panggil Kaiv lagi. Jantungnya berdebar melihat senyum itu.
Bukan. Tentu saja bukan karena ia jatuh cinta! Meski benar jika senyum itulah yang membuat banyak wanita yang jatuh hati. Tapi Kaiv straight! Ia masih suka perempuan!
Debar jantungnya kali ini karena ia sudah lama tidak melihat senyum itu. Sejak naik menjadi CEO Djati Media, wajah serius Tama adalah template yang selalu berada di wajah tampannya itu. Kali ini, sepertinya bosnya menemukan sesuatu yang menyenangkan.
Tama melepas kacamatanya, “Video ini, kan?” tanyanya dengan ponsel yang berputar mengarah pada Kaiv, layar ponsel itu menampilkan video seorang wanita yang membelakangi kamera.
Video yang sudah beredar sekitar lima belas menit yang lalu. Kemudian beredar cepat dengan narasi yang semakin menjadi.
Video yang berisi suara istri bosnya yang sedang berkata kalau pernikahan mereka benar-benar diluar imajinasinya. Lalu ditambah oleh narasi yang mengatakan kalau wanita berambut cokelat gelap itu adalah Anne Li. Seorang penulis novel terkenal yang tidak pernah membuka identitasnya ke publik.
Kepala Kaiv mengangguk tanpa ragu. Memang karena itulah ia cepat-cepat datang ke ruangan Tama. Karena tambahan informasi yang membawa nama bosnya, Mahatama.
“Lalu apa yang sedang kamu lakukan?” Tama bertanya dengan kedua alis terangkat.
Kaiv berkedip.
“Bereskan sekarang juga!” perintah Tama dengan ringannya. Ia kembali memakai kacamata, meletakkan ponsel di atas meja lalu kembali mengambil berkas di mejanya dengan santai.
Seakan masalah yang sedang terjadi tidak ada apa-apanya untuknya.
Kaiv sekali lagi mengangguk. Ia berbalik kembali keluar ruangan, sedangkan tangannya dengan cekatan mengambil ponsel dari balik saku jasnya, mengangkatnya dan menempelkannya di telinga.
“Bereskan! Sapu bersih sampai ke akar. Cari tau siapa yang upload lebih dulu!” perintahnya pada orang yang mengangkat telepon dari seberang sana.
Sekali lagi Kaiv menoleh pada pintu ruangan CEO yang sudah tertutup di belakangnya. Sampai hari ini, ia masih tidak mengerti kenapa bosnya masih bertahan diam. Padahal jika dibicarakan semua hal merepotkan seperti ini dan semua hal merepotkan lainnya tidak akan pernah terjadi.
Ya, mungkin sampai kapanpun, ia tidak akan pernah mengerti. Kaiv mengangkat bahu, pasrah saja. Toh ini memang pekerjaannya. Bagaimana perasaan pasangan suami istri itu, ia tidak mau ikut campur.
“Saya kesana sekarang,” ucapnya sebelum memutuskan sambungan telepon.
Tama kembali melirik pintu yang tertutup, lalu beralih melirik ponselnya. Ia menghela napas dengan hal yang terlintas di dalam kepalanya. Apa sekarang adalah waktu yang tepat?
--
“Kamu tau ini semua salah siapa?!” tanya Vera murka.
“Angkasa! Anak haram itu yang udah bikin papa kamu jadi kayak gini! Kalau aja dia gak lahir, kalau aja ibunya menggugurkannya sejak di dalam perut, anak sialan itu gak akan membuat hidup kita susah!”
Vera menarik napas. pundaknya naik turun dengan emosi yang menguasai. Emosi yang sama setiap kali nama Angkasa disebutkan. Amarah yang selalu membara setiap kali mengingat anak itu. Anak diluar nikah suaminya yang hobi centil pada setiap perempuan.
“Kalau aja anak itu bisa diem dan gak buat ulah, kita masih akan hidup dengan layak dan kamu gak perlu menikah dengan Tama atau siapapun untuk membantu kita mempertahankan semua ini!”
Nesa tidak mau menjawab, meski dalam versinya papa juga salah. Tapi menjawab mama dalam situasi seperti ini tidak akan membantu apapun untuknya. Sama sepertinya, Mama juga sedang tidak baik-baik saja dalam hidupnya. Mengingat itu, Nesa memutuskan untuk menutup mulut.
Ia sadar sudah menyulut kembali ingatan mamanya tentang kejadian itu.
“Sekarang pulang ke rumahmu! Datang ke kantor Tama kalau perlu. Sujud kamu minta maaf karena udah bikin skandal gak berguna kayak gitu! Harusnya kamu bersyukur karena dapet suami orang kaya yang gak akan ditangkap KPK. Harusnya kamu diam dan mendukung karir suami kamu! Papa udah bilang juga untuk gak jadi penulis. Ngeyel sih! Suami kamu juga yang susah, kan, sekarang!”
Tangan Vera terangkat menunjuk pintu. Pintu yang menuju ke ruang keluarga. Pintu yang menjadi pembatas antara ruang keluarga dengan halaman belakang ini. Mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh pergi.
Nesa menghela napas, menatap mamanya dengan tatapan tak percaya. Selalu seperti ini. Selalu ia tidak punya hak untuk bersuara.
“Mama masih bisa bilang gitu? Mama masih mau tega liat aku sama sekali gak dipeduliin sama Mas Tama? Meskipun itu cuma potongan suara aku, tapi itu bener, Mah. Aku cuma pajangan di rumah itu. Aku cuma pajangan yang dibawa Mas Tama kalau dia ada acara,” keluhnya sekali lagi.
Berharap kali ini mamanya akan mendengar. Meski jauh untuk menjadi nyata, ia mengharapkan mamanya akan merasakan apa yang dirasakannya.
“Mas Tama gak nganggap aku, Mah. Mama kira hidup aku baik-baik aja? Aku manusia loh, Mah. Aku bukan patung,” tambahnya, sekalian saja ia tumpahkan juga kekesalannya.
“Mama gak mau tau. Mama udah bikin kamu hidup dalam keberlimpahan kayak gitu. Dengan kamu dibawa ke acara yang dihadirinya juga itu udah bentuk dia nganggap kamu. Harusnya kamu bersyukur,” Vera mengalihkan pandangannya dari Nesa. Silent treatmentnya sudah mulai berjalan.
Bibir bawah Nesa sontak langsung naik. Melengkung dengan tatapan sedih. Mata cokelatnya menatap mamanya di seberang meja bulat tempat beliau menikmati secangkir teh sore ini. Salah satu hal yang masih bisa mamanya lakukan di rumah mereka.
“Kalau setelah ini Mas Tama marah dan ceraikan aku, aku gak akan menolaknya, Mah,” ucap Nesa sebelum berdiri.
Ia memakai kembali tweed jaket Chanelnya di luar crop top putihnya. Celana jeans biru mudanya panjang sampai mata kaki, dengan kaki berbalut converse. Tangannya meraih kembali picotin biru mudanya. Kakinya melangkah mendekati Vera. Nesa tahu tangan terulurnya tidak akan diacuhkan mamanya, jadi ia menunduk meraih tangan kanan Vera. Menciumnya dengan hormat.
“Aku pulang dulu. Kalau diusir Mas Tama aku akan balik lagi nanti,” pamitnya.
“Sana ke hotel kalau diusir. Mama juga gak mau terima kamu di rumah ini!” tandas Vera tanpa melirik sekalipun.
Mamanya si Ratu Tega.
Nesa sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin kalau sudah mereda nanti, mamanya bisa ia ajak bicara lagi. Sekarang ia akan membiakannya begitu saja. Mamanya mungkin hanya butuh berpikir dan sendiri. Tidak mungkin mama tidak memikirkan hal ini dari sudut pandangnya, bukan?
Yah, berharap boleh saja. Meski dalam setiap langkahnya ia mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu berharap. Langkah kakinya membawanya menjauhi mama, menuju ke depan rumah dimana ia memarkirkan Merci putihnya itu. Salah satu fasilitas menjadi istri Tama yang didapatkannya.
Sebenarnya, jika ia pikirkan lagi, ucapan mamanya benar. Perannya sebagai istri dari Tama memang tidak begitu terlihat. Hanya lelaki itu yang selalu punya cara untuk membuatnya nyaman.
Lalu sekarang, setelah berita yang tersebar tentang istrinya yang menyembunyikan identitasnya, apa Tama akan murka dan menceraikannya setelah ini? Setelah kekacauan yang diperbuatnya? Setelah asal ucapnya yang pasti membuat Tama kesulitan di kantornya.
Ah, tapi wajah suaminya itu tidak ada marah-marahnya. Wajah yang biasa Nesa lihat setiap pagi berangkat kerja. Wajah yang tidak menujukan raut apapun itu kini tersenyum padanya.
Nesa mematung.
Tunggu!
Suaminya? Di sini? Mas Tama? Mahatama Aru Djati?
“Hai,” sapa lelaki itu sambil menegakkan diri yang tadi menyender ke Palisade hitamnya. Langkahnya berhenti, mamberi jarak di depan Nesa yang juga menghentikan langkahnya.
Nesa mengerjap di sapa seperti itu.
“Sudah bertemu Mama? Mau pulang? Atau, kamu mau kita sekalian pergi makan malam?” tanya Tama dengan suara ramahnya.
Nesa tidak bisa berkata-kata, ia hanya membelalak dengan tangan terangkat menutup mulutnya yang menganga.
Kaget.
--