6. —Malam Seperti Biasa

1369 Words
Rumahnya lengang. Dengan lampu-lampu redup. Ruang tamu bernuansa putih dan cream itu menyambutnya dengan keheningan. Seperti biasa. Nesa duduk di stool, melepas sepatu dan kaus kakinya, menyimpannya ke dalam rak di dekat pintu. Lalu menyimpan picotin biru mudanya begitu saja di atas buffet ruang tamu. Kepalanya mendongak. Menatap pigura foto besar yang menempel di dinding. Foto pernikahannya. Dengan senyum mengembang di kedua wajah yang ada di sana. Wajahnya dan wajah suaminya. Seakan itu ada momen bahagia. Nesa menggigit bibir, menahan sesak yang merambat dari mata ke dadanya. Ia menarik napas, mengisi dadanya yang sesak. Lalu mengembuskan perlahan. Menjaga hatinya yang sudah sakit ini agar tidak terlalu merasa nelangsa. Ia menoleh, mengalihkan pandangannya dari foto bahagia itu. Lalu melanjutkan langkah bertelanjang kakinya melintasi ruang tamu. Melangkah melewati ruang keluarga dimana televisi besar berada di depan sofa L yang nyaman dan empuk. Ditambah bantal-bantal dan selimut yang ada di sana. Tapi dingin. Sofa empuk itu jarang sekali dipakai. Melanjutkan langkah ke ruang makan dengan suasana yang sama. Sepi. Meja makan bulat dengan empat kursi yang mengelilinginya itu juga terasa dingin. Dapurnya juga begitu. Nesa jarang menggunakannya. Ia berbalik, menatap lurus ke depan dimana ia bisa melihat ke ruang keluarga dan pintu menuju ruang tamu. Keheningan yang menyergapnya setiap malam. Setiap kali ia datang. Setiap kali ia pulang. Setiap harinya. Membuatnya sesak. Membuatnya kesepian. Membuatnya mempertanyakan apa perannya hanya sampai di sini saja? “Aku capek,” lirihnya pelan. Ucapannya seperti mantra ampuh untuk membuat air matanya mengalir. Nesa terduduk di lantai. Kedua tangan menangkup wajahnya yang basah oleh air mata. -- Tangannya baru akan memutar kemudi saat suara ponsel membuatnya menoleh ke kiri, tempat dimana Nesa duduk tadi. Ponsel gadis itu tertinggal di sana dan berdering. Pasti karena terburu sampai ia lupa ponselnya sendiri. Tama tersenyum dan kembali menghentikan mobilnya, lalu meraih ponsel dengan tangan kiri. Jebi Calling … Tama pernah bertemu dengannya. Namanya Jelita Bianca, hanya saja nama panggilannya adalah Jebi. Hanya tahu. Tidak bisa disebut akrab. Beberapa kali bertemu saat berpapasan dengannya di rumah saat Jebi datang menemui Nesa. Tapi ia tidak sedekat itu untuk mengangkat teleponnya. Sambungannya terputus. Menyisakan layar ponsel yang menyala. Menampilkan wallpaper yang dipakai Nesa. Sebuah pemandangan. Swiss. Tama kenal dimana foto itu diambil. Lauterbrunnen. Ia pernah kesana dengan rombongan Maharaja, adiknya. Dimana Maha melamar Aish disana. Nesa mau kesana? Tanya dalam kepalanya. Mungkin ia bisa bertanya nanti. Tama mematikan mesin, keluar dari mobil, ia harus memberikan ponsel di tangannya ke pemiliknya. Nesa dan kebiasaan buruknya yang anehnya tidak membuatnya sebal. Padahal jika Kaiv yang teledor ia akan marah padanya. Tapi ia santai-santai saja saat Nesa yang punya kebiasaan teledor itu membuatnya harus bolak-balik atau harus mengumpulkan barang-barangnya yang selalu ditinggalkan Nesa di ruang tamu. Aneh sekali perasaan itu. Tangan Tama menekan pin rumah, mendorong pintu, dan melangkah melewatinya. Ia menoleh pada atas bufet dan mendapati tas yang dipakai Nesa berada di sana. Benar dugaannya. Ia menggeleng sambil dengan senyum miringnya. Ia baru akan meraih tas itu untuk dibawa ke kamar Nesa, tapi tangannya berhenti saat telinganya mendengar suara tangis. Tidak. Sungguh ia tidak takut dengan kemungkinan yang ada di kepalanya. Ia lebih takut jika ada yang terjadi pada Nesa. Jadi, langkahnya membawanya masuk ke rumah lebih dalam. Lalu ia melihatnya, gadisnya yang sedang terduduk dengan kedua tangan menutup wajahnya. Tangisannya terdengar dengan bahunya yang berguncang dalam isakannya. Tama mendekat, pelan, lalu berlutut di depannya. Tangannya yang bergerak sendiri, tubuhnya yang condong dengan sendirinya, lalu meraih Nesa dalam pelukannya. Tidak. Ia ternyata tidak bisa melihat gadis ini menangis. Ia tidak mau melihat istrinya menangis. Ia tidak mampu melihat Annesa-nya menangis. -- “Saya terima nikah dan kawinnya Annesa Lidya Darmawan binti Gunarwan Darmawan dengan mas kawin tersebut tunai!” “Sah?” “Sah!” “Alhamdulillah.” Semua pasang tangan terangkat dan memanjatkan doa dengan senyum menghiasi setiap wajah. Selesai membacakan doa, Pak Penghulu menoleh pada Tama yang juga mengusapkan telapak tangannya ke wajah. “Siap bertemu istri?” tanya beliau dengan gurauan. Mata Tama membalas tatap Pak Penghulu, ia mengangguk, “Saya siap, Pak,” jawabnya mantap. Pak penghulu tersenyum, ia mengangguk pada tim wedding organize yang bertugas. Tama berdiri saat master of ceremony memintanya berdiri untuk menyambut pengantin wanitanya yang akan keluar melewati tirai bunga di pintu masuk. Akad yang sengaja dibuat intimate ini hanya dihadiri oleh keluarga inti mereka. Tama yang memintanya. Dilakukan di masjid dan tertutup. Meskipun begitu,Tama tetap merasa gugup. Di kamar Nesa tadi, ia sama sekali belum mencuri lihat pada wajahnya. Gadis itu pasti sangat cantik, bukan? Dan saat tirai bunga dibuka, gadis yang berdiri di sana lebih dari cantik. Wanita dengan balutan kebaya putih, kain batik yang melilit kakinya, riasan wajahnya yang tidak berlebihan, rangkaian melati dan mahkota di puncak kepalanya. Annesa Lidya lebih dari cantik. Gadisnya itu sangat mempesona. “Silakan masuk—“ Ucapan MC terhenti saat Tama melangkah lebih dulu menuju Nesa yang masih bergeming berdiri di tempatnya. Senyum dari semua orang yang menatap mengikuti langkah tegap Tama menuju gadis di pintu itu. Pandangan Tama lurus pada wanita yang menatapnya dengan mata ragu-ragu itu. Ia tersenyum, menahan debaran hatinya yang menggila. Melihat Nesa yang berdiri di sana, ia tidak bisa. Tidak bisa membiarkan gadisnya berjalan sendirian. “Ananda Mahatama yang tidak akan membiarkan Ananda Annesa berjalan sendirian menuju padanya. Datang menjemput sang kekasih hati yang sudah resmi dan sah menjadi istrinya. Sebuah bentuk pertama dari kewajibannya sebagai suami yang melindungi dan menjadi pendamping istrinya. Menjadi awal dari ditunaikannya kewajiban dari sebuah ijab qabul— “Yaitu mengambil tanggung jawab atas Ananda Annesa dari tangan kedua orang tuanya, Ibu Vera dan Pak Gunarwan. Mengambil tanggung jawab Ananda Annesa untuk sepanjang hidupnya, baik dan buruknya, di dunia dan akhiratnya.” Nesa terhenyak dengan narasi yang diucapkan MC. Bersamaan dengan berdirinya Tama di depannya. Wajah Tama yang asing karena baru bertemu sapa sekali saat lelaki itu datang dan bilang akan menepati janji yang sudah dibuat. Lelaki yang kini ada di depannya. Lelaki yang mengambil tanggung jawab atas dirinya. Kenapa? Tangan Tama terulur di depannya, tangan kanan yang terbuka ke arah Nesa. Tatapan Nesa naik dari tangan terulur di depannya kembali pada wajah tampan Tama yang masih tersenyum hangat padanya. Nesa menggigit bibirnya yang gemetar. Kepalanya menggeleng pelan. Tapi senyum di wajah Tama masih terpasang. “Bisakah kamu percaya pada saya?” tanya Tama dengan bisikan yang jelas bisa ddengar Nesa dari jarak mereka. “Kenapa?” Suara pertama yang didengar Tama dari wanita yang sudah menjadi istrinya ini. “Karena buat saya ini bukan hanya tentang janji,” jawab Tama. Nesa menarik napas, menelan pedihnya, menahan air mata yang ingin sekali menyeruak di antara kelopak matanya. Ia menatap tangan Tama sekali lagi. lalu mengangguk kecil sebelum mengangkat tangan kanannya yang ia biarkan meraih tangan kanan Tama. Sentuhan pertama mereka. -- “Aaaa!!” Nesa berteriak saat sebuah lengan meraihnya, melingkari punggungnya, dan membawa dirinya ke dalam sebuah pelukan. Matanya terbuka dan ia menurunkan tangan dari wajahnya. Tangisnya berhenti seketika. “Ssst, ini saya, Nes,” bisik suara itu. Suara yang selalu bicara lembut itu. Nesa mengenalnya. Wangi yang dihidunya ini, ia juga menenalnya. Tapi ia asing dengan perasaan ini. Ia asing dengan perlakuan seperti ini. Ia asing dengan pelukan ini. Semua hal yang tidak biasa membuatnya mematung diam. Memikirkan apa yang sebenarya terjadi dengannya. Memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan sekarang. Dalam situasi seperti ini, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia mendorong Tama yang memeluknya ini? Haruskah ia melingkarkan tangannya dan memblas pelukannya? Mata Nesa bergerak bingung dalam sisa isakannya. “Maafkan saya,” bisik suara Tama lagi. Bisikan yang membuat Nesa menggeleng pelan. Ia membiarkan dirinya dalam posisi itu. Ia membiarkan dirinya untuk pertama kalinya mendapat pelukan dari Tama. Benar. Ini pelukan pertamanya. Ini hal pertama yang Tama lakukan padanya. Harusnya ia menghentikan tangisannya saat itu juga. Harusnya ia malu dan benar-benar menghentikannya. Tapi air matanya mengalir sendiri. Tangisannya kembali lagi. Ia dengan mudahnya menangis di dalam pelukan Tama yang entah kenapa membuatnya bisa mencurahkan air matanya. Semua hal yang tidak ia mengerti kembali berputar di kepalanya sekarang. Kenapa ia bisa menangis? Kenapa ia bisa dengan mudahnya membiarkan diri menangis di depan Tama? Kenapa juga ia merasa sudah berada di tempat yang tepat? Di dalam pelukan Tama? Yang benar saja, Nesa! Keluhnya dalam hati. --
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD