Aksara berlari sekuat tenaga menuju kelas yang berada di ujung lorong itu. Ia melihat kobaran api memang semakin membesar dan asap hitam sudah mengepul diatas. Keringat dinginnya mulai muncul disekitar dahi dan tubuhnya terasa bergetar serta sesak. Kenapa? Kenapa rasanya sangat tak nyaman sekali? Aksara sudah sampai di ujung lorong. Banayk orang disana tetapi hanya melihat saja. Tidak ada yang berani bergerak seolah mereka hanyalah penonton bayaran untuk melihat sebuah kasus besar. "Kalian diam saja? Tidak bergerak untuk menolong?" tanya Aksara membentak. Semua orang yang berada disana diam dan tidak memberikan jawaban apapun. Mereka seperti patung semar yang tidak memiliki akal untuk segera menolong nyawa Aruna yang jelas -jelas sedang berada dalam bahaya besar. Aksara kesal, ia maj

