"Ada apa, Pak?" Tiara bertanya pada sopir taksi yang dia tumpangi.
"Itu Mbak, ada kecelakaan di depan. Jadi jalan macet sementara," jawab sesebapak yang menjadi drivernya itu.
"Oh," sahut Tiara singkat.
Tadi dirinya tak begitu fokus saat taksi melaju membelah jalanan kota Bandung. Dia fokus ke ponselnya, berulang kali mengecek notifikasi, mengklik room chat dengan suaminya, tapi hanya centang abu satu.
Tiara Nareswari menghela napas panjang. Ini masih jam kantor, dia tahu itu. Tapi setidaknya suaminya bisa 'kan buka chat satu kali saja dan beri kepastian bisa antar ke rumah sakit untuk cek kandungan atau tidak. Tapi ... Yah, sudahlah, Tiara hanya menatap ponsel itu kosong.
Tiga tahun dia menikah dengan Andika Pradana, Tiara merasa begitu hampa. Waktu belum memberinya amanah untuk menjadi seorang ibu, dan lagi suaminya sibuk terus.
"Tak apa, sabar aja, sedikit lagi," bisik hatinya menekan pilu yang merayap dalam d**a.
Tiara memperhatikan jalanan dari jendela, kendaraan yang berjajar juga terjebak dalam kemacetan itu. Suara klakson saling bersahutan tapi itu tak lantas menjadi pelipur hampanya. Hingga obsidiannya yang bernetra cokelat lembut itu menangkap sesosok yang sangat dia hafal. Mulai dari kendaraan dan si pengemudi di dalamnya.
"Sayang?" ucapnya lirih.
Tubuhnya yang semula bersandar pada jok, kini duduk tegak. Tatapannya memicing, mencoba memperjelas bahwa sosok itu adalah suaminya, Andika Pradana.
Gegas saja dia meraih ponselnya, menekan nama sang suami di layar, menghubunginya sekali lagi tak peduli jika nantinya dia akan mendapatkan kata tajam yang menganggu. Namun, pada sambungan kedua dan tiga, sama sekali tidak diangkat. Pandangannya lurus pada sosok itu yang masih di dalam mobilnya dengan kaca yang tertutup rapat. Kaca film mobil Andika tidak hitam jadi Tiara masih bisa mengenali sosoknya.
"Sayang kok ada di sini?" Tiara bertanya pada dirinya sendiri.
Dia melihat jam sekali lagi, memastikan bahwa ini masih jam kantor suaminya. Biasanya jika jam kantor Andika tidak suka diusik, sekalipun itu Tiara, istrinya.
Sebelum dia sempat turun untuk memastikan, taksi yang ditumpanginya kembali melaju, membawanya ke rumah sakit tujuannya.
Di sepanjang jalan itu Tiara menenangkan diri, mungkin kebetulan saja Andika ada urusan di luar pada jam kantornya. Entahlah. Tiara tidak tahu.
Taksi tiba di depan rumah sakit tujuannya. Setelah membayar, Tiara turun. Dia menghela napas panjang sebelum kakinya melangkah memasuki gedung rumah sakit tersebut. Dia selalu dayang sendirian dan beberapa perawat dan staf rumah sakit itu mengenalinya karena dia rutin datang untuk pemeriksaan. Ikhtiarnya untuk menjadi seorang ibu tak berhenti di sana meski banyak dari kenalannya yang meragukan bahwa dia bisa hamil. Selagi ada harapan walau setitik Tiara akan melakukan apapun. Tidak ada diagnosa mandul darinya atau sang suami.
"Anda datang cepat seperti biasa, Bu Tiara," sapa salah seorang perawat.
Tiara tersenyum. "Maklum Sus, gabut," jawabnya bercanda.
Perawat itu tertawa kecil.
"Karena dokternya masih ada dua pasien, Anda bisa menunggu di sini ya, Bu."
Tiara mengangguk. Dia sudah mendapatkan nomor antrian jadi tinggal menunggu panggilan. Ini adalah pemeriksaan rutin. Dia sudah kehabisan obat di rumah jadi datang sekalian stok suplemen yang disarankan dokternya.
Dia kembali memeriksa ponselnya, berharap suaminya membalas chat terakhir, tapi nihil. Benda pipih itu seakan tak berguna. Tidak ada notifikasi masuk sama sekali.
Tiara menghela napas, pikirannya masih berputar di jalan, saat dia mengenali siluet sosok Andika dan mobilnya. Bertanya-tanya kenapa Andika ada di luar pada jam kantor?
"Aneh sekali, tidak biasanya," batinnya sambil memejamkan mata, mencoba mengusir pikiran itu yang kelewatan kali ini.
Tiara tahu ketika bisik hatinya menyusupkan satu hal tentang spekulasi, satu yang menjadi penolakannya, "Tak mungkin."
"Ibu Tiara Nareswari, silakan masuk," panggil perawat dari arah pintu poli kandungan.
Tiara tersenyum, lantas dia beranjak dari kursi tunggu seraya merapikan blus yang dia kenakan. Dia melangkah masuk ke ruangan bernuansa putih yang familier itu. Di balik meja, seorang dokter wanita berkacamata menyambutnya dengan senyum formal.
Dokter itu masih ada silsilah keluarga dengan suaminya, masih terbilang sebagai keluarga Andika, atau lebih tepatnya sepupu Andika, dokter Vitta.
"Siang, Tiara. Sendirian lagi?" tanya Dokter Vitta.
"Iya, Dok. Mas Andika masih sibuk di kantor," jawab Tiara maklum, meski dia tahu di mana Andika sekarang, dan ada rasa perih yang kembali mencubit hatinya.
Dokter Babnya hanya mengangguk kecil, ekspedisinya sulit ditebak.
"Ya sudah, kita USG transvaginal dan cek fisik seperti biasa ya, untuk perkembangan rahim kamu setelah rutin minum suplemen yang kemarin."
Tiara menurut. Dia menaiki ranjang ginekologi dengan perasaan pasrah bercampur harap. Baginya, setiap prosedur medis ini adalah jembatan menuju impiannya. Impian yang diinginkan banyak perempuan sudah menikah bertahun-tahun.
Selama pemeriksaan, Dokter Vitta tampak mengetuk-ngetuk jemarinya di atas kibor komputer, menatap layar monitor dengan dahi sedikit berkerut, sebelum akhirnya tersenyum tipis beralih menatap Tiara.
"Semuanya normal, Tiara. Rahim kamu bersih, tidak ada kista atau miom. Memang mungkin belum rezekinya saja," ujar Dokter Vitta seraya melepas sarung tangan lateksnya. "Ini saya resepkan lagi suplemen penguat hormon yang kemarin ya. Harus diminum rutin setiap malam, jangan sampai putus. Itu bagus untuk mempersiapkan dinding rahim kamu."
Tiara mengembuskan napas lega. "Baik, Dok. Terima kasih banyak."
Baginya yang awam, ucapan seorang dokter spesialis yang masih kerabat suaminya itu adalah kebenaran mutlak. Jadi Tiara tidak menaruh prasangka apapun, baginya yang terpenting adalah sehat dan bisa tetap mengurus suaminya.
Setelah menebus obat di apotek rumah sakit, Tiara memutuskan untuk langsung pulang menggunakan taksi daring. Tubuhnya mendadak terasa begitu lelah.
Dia memasukan obat itu ke dalam tasnya. Ketika mengangkat wajah, pandangannya tanpa sengaja melihat Andika, suaminya dari kejauhan.
"Sayang?" Tiara bergumam. Dahinya berkerut dalam. Pasalnya, Tiara tahu kalau Andika paling benci berada di rumah sakit saat jam kantor.
Lagi-lagi dia melirik jam di pergelangan tangannya, memastikan bahwa ini masih jam kantor, bahkan jam makan siang pun belum waktunya. Ini masih pagi, harusnya Andika sibuk, tapi kenapa justru ada di rumah sakit.
Saat kakinya hendak melangkah untuk menghampiri sang suami, dia urung ketika dilihatnya hal yang tidak biasa.
"Perempuan? Siapa?" Tiara bergumam saat tatapan matanya tertuju pada sosok perempuan berambut panjang yang agak kecoklatan duduk tepat di samping Andika, bahkan tampak begitu dekat.
Perasaan tak nyaman mulai merayapi hati Tiara, tapi sebisa mungkin dia menepis prasangka itu. Mereka sedang menunggu panggilan obat. Tubuh Tiara seperti terpaku ketika hal yang tak biasanya dilakukan Andika padanya, justru dilakukan pada perempuan lain. Pria itu tiba-tiba memeluk bahu si perempuan.
Tiara diam walau perasaannya mulai bergejolak melihat pemandangan itu. Dia ingin memastikan bahwa itu adalah suaminya, tapi siapa perempuan itu?
Ketika kakinya hendak melangkah mendekati, seseorang justru menyebut namanya.
"Tiara Nareswari!"
Tubuh Tiara menegang kala rungunya mengenali suara itu. Suara yang sempat hilang.