Satu

1668 Words
“Lo yakin mau naik gunung?" tanya Dian, sahabatnya Shasa. Sharaza Geonefa yang biasa dipanggil Shasa itu berhenti menulis, lalu menatap Dian sejenak. "Udah berapa kali lo nanyain ini ke gue, kenapa sih? Nggak percayaan banget.” "Bukannya kenapa-napa, gue cuma khawatir aja sama lo. Cewek feminim kayak lo mau naik gunung tertinggi di pulau Jawa dan belum punya pengalaman mendaki juga.” Tak lama datang lagi seorang cewek menghampiri keduanya. Dia baru saja kembali dari toilet. "Ada apaan sih, Dii, Sha?" Rania menatap kedua sahabatnya itu bergantian. "Noh, temen kita satu ini tetap nekat mau naik Gunung Semeru," ucap Dian. Rania manggut-manggut paham. "Ran, Dii, gue tahu kalian berdua khawatir sama gue. Thanks a lot, guys! Ada teman SMP gue juga nantinya yang bantuin gue, minta do'anya aja semoga gue baik-baik aja pergi pulangnya. No need to worry, oke?” Kedua temannya cuma bisa pasrah. Karena mereka tahu walau Shasa yang mempunyai tutur kata dan hati yang lembut, tapi bisa menjadi keras kepala tidak bisa ditahan untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Mereka bertiga telah bersahabat sejak duduk dibangku SMA. Saat lulus, mereka memutuskan untuk kuliah di tempat yang sama dengan jurusan yang sama juga. "Lo udah pada makan belum? Laper nih, kantin kuy!" ajak Shasa. "Kuy lah. Tapi... coba makan di kantin Fakultas Teknik yuk! Siapa tahu nemu cogan di sana,” sahut Rania. Shasa memutar bola matanya malas. Makan di kantin fakultasnya saja, kadang dia suka risih dilihat cowok-cowok, apalagi di Fakultas Teknik yang mayoritas cowok. Rania tahu kalau Shasa nampak tidak setuju dengan idenya. Dia melirik Dian minta bantuan untuk membujuk Shasa. "Ayo dong Sha, please! Janji deh, kali ini aja lo ikut makan di sana!" pinta Dian dengan muka memelas.. Shasa terdiam sebentar. "Benar ya, kali ini aja?” "Yess… akhirnya! " Rania dan Dian bertos ria kesenangan cuma karena Shasa yang akhirnya mau menerima ajakan mereka untuk makan di kantin Fakultas Teknik. Shasa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Mereka berdua, terutama Rania, dari SMA pembahasannya tidak jauh dari cowok ganteng. Walaupun sekarang udah jadi mahasiswi tetap saja tingkah mereka masih labil. Di jalan menuju ke sana, mereka bertiga dilirik oleh cowok-cowok yang mereka lewati. Banyak yang menggoda mereka. Shasa yang cantik dengan segala pesona yang dimilikinya, Rania juga nampak manis dengan rambut pendeknya dan Dian yang terlihat imut karena saat ini dia memakai bandana. Namun, tetap yang menjadi primadona di sana pasti Shasa. Tak jarang banyak yang memanggil-manggil namanya dari tadi. Begitu tiba di kantin fakultas teknik. "Lo pada mau makan apa? biar gue yang pesenin!" ujar Rania setelah mereka mendapatkan tempat duduk. "Gue mau mie goreng aja, pakai telor ceplok. Dan minumnya lemon tea," jawab Shasa sambil mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. "Gue samain aja," timpal Dian. "Oke, wait ya!" Shasa sibuk memainkan ponselnya. Sedangkan Dian melirik kiri kanan, entah apa yang dicarinya. "Nanti dianterin," ujar Rania setelah kembali dari tempat pesan makanan. "Hmmm." "Eh, liat tuh di meja pojok ada cogan!" seru Rania antusias, setelah baru saja duduk dan mengedarkan pandangan ke arah sekitar. "Yang mana?" tanya Dian. "Itu yang duduk di tengah, ganteng banget!” "Tiga-tiganya ganteng menurut gue,” ujar Dian. "Itu yang di tengah ngeliatin ke sini terus kayaknya, ya nggak, sih?" tanya Rania setengah berbisik. "I see..." kata Dian sambil melirik Shasa. Shasa dari tadi hanya cuek, dia tidak peduli dengan obrolan para sahabatnya. Dia lebih asik dengan ponsel di tangannya. "Eh, mereka ke sini tuh!" seru Rania heboh. "Hey, boleh kita gabung di sini?" tanya salah satu cowok. Ternyata yang bertanya adalah cowok yang tadi duduk di tengah. Rania gugup. "Bo-leh," jawabnya terbata. "Kenalin gue Jerry, dan kedua teman gue ini Alfi dan Teddy." Kata cowok bernama Jerry itu menunjuk temannya bergantian. "Gue Rania.” "Gue Dian.” Jerry menaikkan alisnya. "Teman lo satu lagi?" Rania menyenggol lengan Shasa. Hingga cewek itu mendongak. Jerry mengulurkan tangannya kepada Shasa. "Gue Jerry, nama lo siapa?" Shasa menjabat tangan Jerry sekilas dan langsung melepasnya. “Sharaza,” jawab Shasa singkat. Cantik! batin Jerry. ”Shasa panggilannya,” ujar Dian menimpali dan Jerry manggut-manggut. Mereka berenam mulai mengobrol dengan berbagai macam pembahasan. Ternyata ketiga cowok itu semester enam juga. Mereka semua jurusan Teknik Elektro. Sama seperti Shasa dan sahabatnya, mereka bertiga juga berteman semenjak SMA. Jerry sesekali melirik Shasa yang sedang makan. Dari cara makannya, terlihat anggun sekali. Dan selama makan, cewek itu terlihat fokus. Tidak mengeluarkan suara sama sekali. Saat Shasa menoleh, dia tidak sengaja menangkap bola mata Jerry yang menatapnya tanpa berkedip. Shasa memutus kontak mata segera dan melanjutkan makan mie gorengnya. "Bentar lagi masuk, yuk balik!" ujar Shasa kepada kedua orang sahabatnya itu. Mereka berdua sedang asik mengobrol dengan Alfi dan Teddy. "Lima menit lagi ya, Sha?” ujar Rania menyengir. "Oke." Shasa hanya diam mendengarkan ocehan receh disampingnya. Sedangkan Jerry, sesekali cowok itu masih menimpali obrolan teman-temannya. Shasa melihat ponselnya, 5 menit sudah berlalu. "Balik, udah 5 menit!" ucapnya seraya bangkit berdiri. Rania dan Dian masih ogah-ogahan buat bangkit dari duduknya. Shasa berdecak. “Gue duluan deh!” "Sha, boleh minta nomor ponsel lo?" tanya Jerry menyodorkan ponselnya, sebelum Shasa beranjak pergi dari sana. *** "Kantinnya pindah ke Mars?" tanya seorang cowok kepada ketiga teman dekatnya yang baru saja tiba di kelas. Cowok tersebut bernama Satria. Dia menonjol di antara temannya yang lain secara fisik. Bahkan, di kampus ini bisa dibilang bahwa dia lah yang paling tampan. "Ada yang bening-bening tadi, makanya lama di sana," celutuk Alfi. Satria geleng-geleng kepala. "Mana jus alpukat titipan gue?" Teddy menepuk jidatnya, "Sorry, Sat! Lupa!" "Balik lagi yuk, Jer!” "Lagian lo, sih! Pakai modus segala nyamperin cewek-cewek itu," ujar Jerry tak mau diajak kembali ke kantin, capek. Teddy mencebikkan bibirnya. "Lonya juga senang bisa kenal sama itu cewek." Jerry menyengir. Satria memutar bola matanya. "Jadi mau dibeliin nggak, bro?" tanya Teddy kepada Satria. "Nggak usah. Udah nggak pengen lagi gue.” *** “Apalagi yang kurang, ya?" gumam Shasa sambil memeriksa list perlengkapan buat naik gunung. Untung ada group chat, jadi beberapa anggota yang ada di dalam grup saling mengingatkan mengenai apa saja yang mesti dibawa. Shasa hanya akan membawa daypack untuk keperluannya. Temannya bilang, kalau untuk yang berat-berat nantinya bisa ditaruh di carrier milik temannya itu, seperti sleeping bag dan air mineral ukuran dua liter sebanyak dua botol. Untuk nesting, tenda dan gas kecil itu akan dibawa oleh cowok lainnya yang ada di grup tersebut. Mereka saling mengenal lewat grup, yang benar-benar Shasa kenal hanya satu orang saja yaitu cowok yang kebetulan satu tingkat di bawahnya waktu SMP. Semua yang ada di grup itu, sudah pernah naik gunung sebelumnya kecuali Shasa. Tapi dia tidak peduli, tekadnya sudah bulat buat naik gunung. Bahkan dia sudah melakukan latihan fisik selama 2 bulan dengan rutin lari pagi dan naik turun tangga di rumahnya bolak-balik sambil berlari kecil. Dian yang malam ini menginap di rumah Shasa memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu. Shasa tampak sedang mencari sesuatu. "Cari apa, Sha?" "Surat tanda sehat gue yang kemarin dari klinik, lo liat nggak?" tanya Shasa sambil mengeluarkan lagi isi barang di dalam daypacknya. "Ini?" tanya Dian tersenyum menyodorkan sebuah amplop kepada Shasa. "Di sini dari tadi juga," lanjut Dian yang melihat amplop itu dari tadi berada di atas bantal. Shasa menyengir. "Gue lupa tadi naruh di situ." Ponsel Shasa berdering, tanda ada panggilan masuk. "Siapa yang nelfon gue, Dii? Tolong liatin dong!" pinta Shasa kepada Dian, karena dia masih sibuk dengan barang-barangnya. Ponselnya berada di atas nakas dekat ranjangnya. "Nomor nggak dikenal. Angkat jangan?” "Nggak usah diangkat!" seru Shasa. "Kalau penting gimana?" "Ya udah terserah, lo angkat aja." "Hallo, siapa nih?" tanya Dian mendekatkan ponsel milik Shasa ke telinganya. "Gue Jerry. Lagi apa, Sha?" ”Jerry?” Dian mengernyit. ”Yang kenalan di kantin fakultas teknik.” Dian tentu saja masih mengingatnya. Cewek itu tersenyum, lalu melirik Shasa penuh arti. ”Wait. Gue Dian, bukan Shasa.” Shasa yang mendengar nama cowok itu memutar bola matanya malas. Tapi bagaimanapun, Shasa tidak pernah bersikap tidak sopan kepada orang. Dia selalu berusaha untuk bersikap ramah dan lembut kepada siapa pun. Kemarin dia tidak tega untuk tidak memberikan nomor ponselnya kepada Jerry. Mengingat cowok itu menyodorkan ponselnya di area kantin yang tengah ramai. Dia hanya tidak ingin membuat malu cowok itu. "Hallo, ada apa?" "Hai Sha, gue ganggu nggak?" "Umm… lagi ribet, sih.” "Lagi ngapain emangnya?" "Packing.” "Lo mau kemana?" "Mau naik gunung.” "Hah!?? Lo yakin?" Shasa berdecak, bertambah satu orang lagi yang meragukannya. Orang baru dikenal juga, langsung menilai dia seperti itu. "Kenapa emangnya?” "Nggak kenapa-napa, sih. Umm… gue ikut nggak? Gue pernah juga sebelumnya.” "Kuota udah penuh, gue sama teman gue ikut open trip," jawab Shasa jujur. "Yah... telat dong gue! Ya udah deh, moga lain kali gue bisa ikut.” Shasa hanya menganggapinya dengan deheman. “Jer, sorry nih gue mau lanjut packing. Udah dulu ya, Bye!!" "Take care, Sha.” "Oke, thanks.” Shasa menutup telepon dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. "Sha, Jerry oke juga tuh!" pancing Dian. Dia ingin sekali sahabatnya satu ini mempunyai kekasih. Masa sudah kuliah semester enam belum pernah pacaran. Tidak terhitung sudah berapa banyak cowok yang ditolaknya. Bahkan ada yang menyatakan cintanya berkali-kali. Ya maklum aja, Shasa selalu menolak cowok yang menyatakan suka padanya dengan tutur kata yang lembut dan baik—intinya tidak membuat orang tersebut sakit hati. "Mulai lagi?" Shasa menoleh Dian sekilas. Dian menyengir. "Lo mau cowok yang kayak apa coba?” Shasa mengedikkan bahunya. "Betah amat lo ngejomblo, sampai udah jadi mahasiswi gini juga.” "Jomblo teriak jomblo!" cibir Shasa. "Yee... sekarang aja gue yang ngejomblo, belum nemu yang pas lagi dihati gue. Seenggaknya gue pernah pacaran!" ujar Dian membanggakan diri. ”Si paling pernah pacaran.” "Gue mau comblangin sama Jerry, mau nggak?” ”Gue itu malas ba— “ Dian langsung memotong omongan Shasa. "Kenapa? Coba dulu pedekate, nanti dari situ lo baru bisa tahu apa yang lo rasain. Gimana?" "Ya udah deh, gue coba," ujar Shasa pasrah. Malas berdebat panjang lebar dengan Dian. ”Nah, gitu dong!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD