1, Malam pertama.
"Ahh! Apa yang kau lakukan?!" teriak Olivia sembari berusaha menyingkirkan sosok pria yang tiba-tiba saja menindihnya!
"Aku suamimu, maka sekarang..., layani aku!" tegasnya tanpa tahu malu!
"Apa?!" pekik Olivia, akan tetapi ia lalu merasakan bagian intinya dimasuki sesuatu yang besar, keras, dan sangat dalam. "Ahh! Pelan-pelan!" – Olivia.
Malam Jum'at Kliwon yang biasanya menjadi malam keramat yang menakutkan bagi sebagian orang namun tidak dengan Olivia.
Kini keringat bercucuran dari tubuh gadis itu– ketika seorang pria menggagahinya penuh cinta. Pria tampan yang selalu ada dalam pikirannya itu benar-benar datang sesuai dengan janjinya kemarin.
***
Beberapa jam yang lalu..
Hari sudah hampir sore, Olivia masih sibuk dengan layar komputernya, ia adalah anak magang di sebuah perusahaan besar di kota yang ia tempati.
Statusnya yang menjadi anak magang membuatnya menjadi kacung di perusahaan itu.
"Olivia.. kerjaan kamu masih banyak?" tanya Sera teman Olivia.
"Masih, Ser. Aku bisa setres kalo begini!" Ujar Olivia
"Sabar... Aku juga gitu kok. Oh ya, kamu tau ngga?" tanya Sera
"Kamu belum bilang mana aku tau!" Olivia merasa sedikit jengkel dengan tingkah temannya yang kadang akan mengatakan sesuatu namun malah bertanya padanya.
"Hahahaha santai aja kenapa sih, kamu ingat Hendra Gunawan kan ?" tanya Sera.
"Kenapa kamu malah membahas mantan sampahku yang satu itu!" ujar Olivia
"Dengerin aku dulu... Dia sekarang jadi manajer di perusahaan ini via.."
"Apa! Kamu serius?!" balas Olivia dengan suara kaget.
"Iyee..., awas kamu ya, nanti CLBK lagi– aku gaplok kepalamu nanti!" ujar Sera.
"Idih! Najis!" Olivia bicara ketus.
"Dia juga najis ama kamu! Hahahaha." tawa Sera terdengar cukup keras.
Olivia menjadi sangat jengkel mendengar ucapan temannya itu. Ekspresi wajahnya bahkan terlihat sangat masam.
"Tau ah!" Olivia langsung kembali fokus dengan layar komputernya.
***
Olivia benar-benar menjadi kacung di perusahaan itu, selama kurang lebih 3 bulan bekerja di sana Olivia selalu pulang malam karna pekerjaannya baru selesai.
"Uuugggghhhh.. akhirnya selesai juga." Olivia tampak mengangkat kedua tangannya serta mencoba mengendorkan urat-uratnya yang terasa menegang. Bekerja seharian penuh, bahkan lembur..., hal itu membuatnya merasa sangat lelah sepanjang hari.
Teman seperjuangannya Sera sudah pulang terlebih dahulu karna pekerjaan nya sudah selesai, Sera juga tak bisa membantunya karena ibunya sedang sakit.
Setelah membereskan seluruh berkas dan barang-barang kerjanya Olivia bergegas pulang.
Ia sudah memesan ojol sebelum keluar dari kantor tempatnya bekerja.
Setelah ojol datang Olivia bergegas naik dan motor sang ojol melesat di jalan raya.
"Rumahnya sebelah mana, Mbak?" tanya sang ojol – di saat penumpangnya sudah naik dan mereka sudah menuju ke tempat tujuan.
"Hah? Apa, Pak? Aku tidak dengar." jawab Olivia sembari mendekatkan wajahnya ke kepala tukang ojol.
"Rumahnya sebelah mana, Mbak." teriak sang ojol
"Blok V paling ujung pak" ucap Olivia.
"Wah! Kalo ke sana aku tidak berani, Mbak, lebih baik uang ongkosnya di potong saja kalau ke sana mba." ujar sang ojol
"Loh? Kok gitu, Pak?" nada suara Olivia bahkan sudah terdengar keberatan pada saat itu.
"Sudah sampai di depan blok, Mbak. Mbak cukup bayar 10 ribu saja."
"Kok gitu, Pak! Saya jalannya jauh dong !" ucap Olivia dengan suara sedikit kesal
"Pokoknya saya minta 10 ribu titik!" ujar sang ojol tegas.
Olivia langsung memberikan uang 10 ribu pada sang ojol. Ekspresi wajah gadis itu sungguh masam, andai saja sang tukang ojol melihatnya.
"Aku kasih bintang satu nanti loh, Pak!" ujar Olivia dengan suara marah.
"Aku ngga perduli, Mbak. Awas ada hantu! Ini malam Jum'at Kliwon!" jawab sang ojol sembari memutarkan motornya lalu tancap gas pergi dari sana.
"Astaga! Benar juga kata nya! Ini malam Jum'at Kliwon! Aaaaaaa...." Olivia berlari menuju rumah kontrakannya sembari sedikit berteriak.
Gadis sampai ngos-ngosan melewati pohon beringin besar yang ada di jalan menuju rumah kontrakan nya.
Blok V merupakan komplek angker, hanya ada satu dua orang yang mengontrak rumah di sana – karna menghemat biaya hidup di ibukota.
Itu sebabnya tukang ojol tadi tidak mau mengantarkan Olivia sampai ke rumahnya.
"Sampai juga aku... hah!" Olivia kini tengah membungkuk memegangi lututnya sembari mengatur nafas.
Setelah di rasa nafasnya sudah cukup stabil Olivia membuka kunci rumah. Ia masuk ke dalam rumah... tidak lupa gadis itu mengunci kembali pintu sebelum melenggang pergi.
***
Perut yang keroncongan membuat Olivia akhirnya mengambil mie instan lalu memasaknya. Ia makan, dan setelahnya langsung bergegas mandi.
Dinginnya air di malam itu membuat gadis itu mandi dengan cepat kilat, dan setelahnya ia berlari kecil ke kamar untuk segera berpakaian. Akan tetapi, baru saja ia menghidupkan lampu...
"Aagh! Siapa kamu?! Kenapa ada di kamar ku!" teriak Olivia
"Nyimas..., ini aku, suami mu," ujar seorang pria berbadan kekar dan berwajah tampan yang kini duduk di ranjang Olivia
"Su–suami? Sejak kapan?!" Olivia sungguh sangat kebingungan. Kedua nola matanya bahkan sampai terbelalak lebar saat mendengar ucapan pria itu.
"Apa kamu lupa? Kemarin kita baru saja melangsungkan pernikahan..., aku kan sudah bilang aku akan menemui mu..., kemari lah.." ujar pria itu me rentangkan kedua tangan nya.
Olivia menelan ludahnya kasar, ia jadi mengingat mimpi kemarin malam.. kemarin malam ia bermimpi menikah dengan seorang pria tampan yang kini hadir nyata di hadapannya.
"Ra.. Raden Sukmo Atmoro ?" tanya Olivia.
Pria tampan itu tersenyum...
Olivia dengan ragu berjalan menuju ke arah pria tampan itu.
Olivia menyentuh tangan pria tampan yang kini menjulurkan tangannya ke arah Olivia. Ia hanya ingin memastikan, apa yang ia lihat adalah hal nyata, atau hanya halusinasinya semata, hingga pada akhirnya..., Olivia benar-benar bisa menyentuh tangan pria itu, pria bernama Raden itu langsung menarik tangan Olivia.
Tangan Olivia ditarik, Olivia menabrak tubuh kekar Raden. Dan sentuhan itu sangat nyata!
"Akhirnya kita bisa bertemu di alammu.. aku sangat menantikan hari ini tiba, sudah lama aku menunggu," Raden memeluk tubuh Olivia sangat erat
"A–apa maksud mu?" tanya Olivia bingung.
Olivia menarik kepalanya dan menatap wajah tampan Raden.
Bukan jawaban yang Olivia dapatkan, ia malah mendapatkan sentuhan lembut di bibirnya dari pria tampan itu.
"Ahh! Apa yang kau lakukan?!" teriak Olivia sembari berusaha menyingkirkan sosok pria yang tiba-tiba saja menindihnya!
"Aku suamimu, maka sekarang..., layani aku!" tegasnya tanpa tahu malu!
"Apa?!" pekik Olivia, akan tetapi ia lalu merasakan bagian intinya dimasuki sesuatu yang besar, keras, dan sangat dalam. "Ahh! Pelan-pelan!"
Entah siapa yang memulai kini tubuh Olivia sudah di kuasai, Olivia yang memang mencintai pria itu tidak menolak sama sekali ketika ia hendak di gagahi.
Kebahagiaan, dan gejolak yang kini ada dalam diri Olivia, permainan suami misteriusnya itu membuatnya meremas sprei dan menoleh kan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Sepasang pasutri beda alam itu kini tengah menikmati momen yang mereka idam-idamkan .
Olivia sama sekali tidak berpikir dari mana dan bagaimana bisa pria tampan itu masuk kamarnya, ia juga tak memikirkan perkataan aneh dari pria yang kini mengaku sebagai suaminya.
Cintanya pada prian tampan itu membuatnya buta akan kenyataan, kenyataan bahwa mereka bertemu di alam mimpi, menjalin kasih dan menikah di alam mimpi, sungguh Olivia tak berpikir panjang soal itu.