Tiba-tiba ponsel di atas meja bergetar. Layar menyala. Nama yang muncul di sana membuat wajah Sinta berubah sedikit tegang. Niko. Deru napas Sinta tertahan sebentar. Ia segera mengambil ponselnya, berdiri dari kursinya. “Maaf…” katanya pelan pada Rama. Lalu ia melangkah menjauh dari meja kantin, menuju lorong kecil di dekat pintu agar suaranya tidak terlalu terdengar. Begitu panggilan terhubung, suara Niko langsung terdengar keras dari seberang. “Di mana kamu, Sinta?!” Sinta sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. Nada suara itu terlalu tinggi. “Aku dari tadi telepon kamu! Pesan juga kamu baca tapi nggak dibalas! Kamu sengaja mengabaikan aku ya?!” Beberapa orang di kantin bahkan sempat melirik karena suara itu cukup keras meskipun hanya dari speaker ponsel. Sinta menarik na

